Pelatih angklung SD Bianglala Asep Suhadi menuturkan, Hiroki tadinya tipe anak yang hiperaktif. Dia selalu ingin membunyikan angklungnya meski saat itu bukan gilirannya bermain. Tapi lambat laun ia mulai bisa berkonsentrasi dan sabar memainkan angklungnya. " Inilah kelebihan angklung bisa menjadi terapi buat anak," ungkap Asep.
Hal yang sama juga dituturkan Pemilik SD Bianglala Sri Isnaningsih yang menyatakan pengajaran angklung di SD Bianglala sudah dilakukan dari mulai playgroup sampai dengan SD. Dimulai dengan tahapan memegang, membunyikan, lalu memainkan not-not.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sri, angklung Daeng ternyata memang bisa lebih dekat dengan anak-anak. Hal ini karena angklung Daeng memainkan nada-nada diatonis. Mata pelajaran angklung di SD Bianglala sudah jadi mata pelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum. Angklung, sudah jadi alat yang dominan untuk dimainkan.
Sementara Obby A.R Wiramiharja dari Angklung Web Institute (AWI) mengatakan angklung cocok diajarkan kepada anak sejak usia dini. Oby yang bertemu Daeng Soetigna untuk pertama kalinya saat dia di SMP 2 mengatakan setiap mengajar Daeng Soetigna selalu menanamkan unsur-unsur disiplin, kerjasama, gotong royong, konsentrasi dan etos kerja.
Kata Obby, karena unsur-unsur itulah angklung cocok untuk diajarkan pada anak-anak sejak dini. Bukan cuma untuk mengajarkan skill musik tapi juga watak dan mental. "Kalau mereka terus main angklung itu lebih bagus," ujarnya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ema/ema)











































