Dalam acara yang bertemakan 'Daeng Soetigna: A-trail Top Inovation In World Music History',Β Jauhari menyampaikan moral dan watak tersebut kini dilakukan oleh para penerusnya. Terkait dengan filosofi angklung yang mengajarkan kebersamaan, toleransi dan kerjasama. Dari filosofi angklung itu keberagaman tidak jadi perpecahan tapi jadi persatuan yang menciptakan keharmonisan.
Dalam pembukaan juga ditampilkan pertunjukan angklung dari SD Bianglala, angklung Unisba dan para dokter dari RSHS serta angklung SMA 10 Bandung. Dua seminar bertemakan "Bedah Sosok Daeng Soetigna" yang akan dipandu musisi, Dwiki Dharmawan dan Potensi Angklung Dalam Industri Musik dan Hiburan' juga turut mewarnai.
Murid Daeng Soetigna, Obby A.R. Wiramiharja, dari Angklung Web Institute menyesalkan tidak adanya para pejabat dan pemimpin dari tingkat Jabar yang menghadiri Peringatan 100 hari Daeng Soetigna ini. Padahal menurut panitia, para pejabat pemkot sudah mendapat undangan. Tapi sampai acara berlangsung tidak ada pejabat yang datang.
"Padahal tema yang dibicarakan menyangkut jati diri dan identitas orang Sunda," sesal Obby.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ema/ema)











































