Ajid (39), salah seorang pekerja, mengatakan pembenahan Taman Maluku sudah dilakukan sejak empat minggu lalu. Pembenahan tersebut mulai dari perbaikan paving block, pembangunan dua buah plaza duduk, serta pemagaran taman.
Pantauan detikbandung, taman seluas 6 ribu meter persegi itu dikelilingi oleh pagar setinggi 2,5 meter. Beberapa pilar penghubung antara pagar dibangun setinggi 3 meter. "Kita tinggal finishing, dua hari ke depan sudah selesai. Sekarang kita lagi membersihkan sampah dan cat tembok," ujar Ajid yang bekerja bersama 11 pekerja lainnya itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai paru-paru kota nan asri, Taman Maluku dahulu dibangun pada 1919 oleh pemerintah Hindia Belanda. Kala itu namanya Molluken Park. Taman ini berlokasi di antara Ambon Straat (Jalan Ambon), Menado Straat (Jalan Menado), Celebes Straat (Jalan Sulawesi yang sekarang digabung dengan Jalan Ambon dan Jalan Saparua). "Lokasi itu awalnya tanah kosong. Nah, kalau lapangan tenis di sebelah utara, memang sudah ada sebelum taman Maluku jadi," jelas Sudarsono Katam, penulis buku "Bandung Kilas Peristiwa Di Mata Filatelis", beberapa waktu lalu.
Sekitar 1950-an, Molluken Park berganti menjadi Taman Maluku. Saat itu, jelas Katam, Soekarno (Presiden RI pertama) melarang warga Indonesia memakai penggunaan bahasa Belanda.
Taman Maluku memang sarat hikayat. Dikisahkan Katam, di pojok taman dekat simpang Jalan Sulawesi dan Jalan Ambon, bertengger patung perunggu Pastor H.O. Verbraak, S.J. Patung ini merupakan satu-satunya patung dari masa Hindia Belanda yang masih berdiri di Bandung. Verbraak ialah imam tentara Hindia Belanda yang bertugas saat perang Aceh (1835-1907).
"Tahun 1918, pesawat terbang yang membawa Verbraak jatuh di sekitar lokasi yang saat itu belum dibangun Taman Maluku. Untuk mengenang Verbraak, maka pada 1922, dibangunlah patungnya. Saat pembangunan patung, Taman Maluku sudah ada," tuturnya.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (ern/ern)










































