Anggaran Belanja Pegawai Capai Rp 400 Miliar

RAPBD Kota Bandung Defisit Rp 740 M

Anggaran Belanja Pegawai Capai Rp 400 Miliar

- detikNews
Kamis, 11 Des 2008 11:14 WIB
 Anggaran Belanja Pegawai Capai Rp 400 Miliar
Bandung - Besarnya prediksi defisit RAPBD Kota Bandung 2009 yang mencapai Rp 740 miliar, seharusnya bisa ditekan dengan mengurangi dana dari pos belanja pegawai. Anggaran untuk belanja barang dan jasa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih sangat besar mencapai Rp 400 miliar lebih.

Anggota Panitia Anggaran DPRD Kota Bandung Endrizal Nazar mengatakan untuk menutupi defisit RAPBD 2009 yang mencapai Rp 740 miliar, Pangar dan eksekutif tengah menggodok pengurangan dana dari beberapa pos.

"Untuk alokasi dana pendidikan harusnya sudah tak bisa diotak-atik, harus 20 persen sesuai dengan Perda pendidikan Kota Bandung yang baru. Jadi kalau anggarannya hanya Rp 125 miliar seperti sekarang ini, jangan harap ada pendidikan gratis di Kota Bandung," katanya kepada detikbandung, Kamis (11/12/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, lanjutnya, Pangar DPRD Kota Bandung tengah menggodok kemungkinan penciutan dana-dana dari pos-pos lainnya. Pengurangan dana tersebut, kata dia, harus dilakukan secara radikal, jangan setengah hati.

"Penciutan harus radikal, tidak setengah hati seperti sekarang. Kemarin kita berhasil menciutkan dana dari beberapa pos seperti pemotongan dana hibah, pemotongan dana makan minum, pemotongan Tambahan Penghasilan PNS (TPPNS) dan dari belanja perjalanan dinas yang mencapai Rp 108 miliar," ungkap Endrizal.

Menurutnya itu tidak cukup. Sebab, masih ada pos-pos anggaran lain yang dananya masih besar seperti dana belanja barang dan jasa pegawai yang besarnya mencapai Rp 400 miliar.

"Saya aneh, hampir semua kegiatan mengajukan pembelian PC atau notebook setiap tahunnya atau infokus dan handycam. Padahal usia barang elektonik itu kan bisa bertahun-tahun, ya maksimal 5 tahun. Atau ada juga SKPD yang sebenarnya tak memerlukan pembelian kertas terlalu banyak, tapi menganggarkan belanja kertas sangat besar," ujar Endrizal.

Kebiasaan enggan menggunakan barang tahun lalu membuat pos belanja barang dan jasa menjadi sangat besar. "Belum lagi kita juga tidak tahu inventarisasi barang tahun lalu. Jadi barang-barang yang dibeli setiap tahunnya seolah sisa proyek. Di mana ketika ada proyek lainnya di tahun depan, harus membeli lagi," cetusnya.




Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung
(ern/ern)


Berita Terkait