Deputi Bidang Jasa Usaha Lainya, Kementrian Negara BUMN, Muchayat, mengatakan pemberian subsidi ini digunakan untuk pembelian bahan baku obat generik yang harganya bisa dijangkau masyarakat bawah.
"Karena obat generik adalah obat yang terjangkau dibeli oleh masyarakat. Saat ini BUMN Farmasi yang memproduksi obat generik yaitu Indofarma sebesar 80 persen dan Kimia Farma sebesar 60 persen. Sebagian besar bahan baku tersebut masih diimpor dari luar negeri," kata Muchayat dalam jumpa pers Rapat Kerja BUMN Farmasi di Bio Farma, Jalan Pasteur, Kamis (4/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika perusahaan BUMN memproduksi pada kurs Rp 9.500 sedangkan sekarang nilai tukar mencapai Rp 12.500, maka selisih itu yang menjadi subsidi pemerintah," jelas Muchayat.
Selain itu Muchayat juga berharap harga obat generik disesuaikan dengan mekanisme pasar. Pemerintah, tambah Muchayat, memiliki tanggung jawab untuk mensubsidi kepada masyarakat yang dibayar melalui departemen yang berwenang yakni departemen kesehatan. Subsidi yang sama pernah dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1998 untuk obat generik.
Kimia Farma, Bio Farma dan Indofarma saat ini sebagai penyokong kebutuhan produk farmasi dan biologi di Indonesia. Saat ini pengajuan subsidi tersebut sudah diajukan kepada pemerintah dan mengharapkan bisa segera dicairkan. Jika tidak kemungkinan BUMN Farmasi akan mengalami kerugian.
"Sekitar April atau Mei, Indofarma bisa saja kolaps jika tidak segera cair subsidi yang diajukan. Sedangkan untuk Kimia Farma masih ditunjang dengan apotek-apoteknya," pungkas Muchayat.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (afz/lom)










































