Zaman Sekarang, Informasi Harus Cepat

Rektor Universitas Kristen Maranatha:

Zaman Sekarang, Informasi Harus Cepat

- detikNews
Selasa, 02 Des 2008 08:58 WIB
Zaman Sekarang, Informasi Harus Cepat
Bandung - Model komunikasi di zaman teknologi yang berkembang pesat saat ini harus disikapi kalangan akademisi. Inovasi dan kreasi yang muncul dari kalangan perguruan tinggi pun harus cepat sampai ke masyarakat.

Soal kreatif dan inovatif, dunia perguruan tinggi sejak lama sudah menempati posisi di depan. Namun sering kali informasinya tidak sampai ke publik. Akibatnya fungsi edukasi yang seharusnya bisa terjadi, berjalan lambat.

Rektor Universitas Kristen Maranatha Prof. Dr. Ir. Hasian P. Septoratno Siregar, DEA, melihat hal ini harus disikapi khususnya oleh universitas yang dipimpinnya. Dituturkannya, dari sisi akademik, Maranatha dan juga universitas lain di Indonesia sering membuat prestasi. Kegiatan-kegiatan mahasiswa pun sangat dinamis dan berpotensi memberikan andil positif kepada publik jika diinformasikan dengan tepat.

"Kami berharap informasi itu bisa sampai secepat mungkin dan kepada sebanyak mungkin orang. Tidak hanya sebagai informasi, tetapi juga sumber inspirasi," ujarnya kepada detikbandung saat bincang-bincang di ruang kerjanya di Jalan Suria Sumantri No.65, Senin (1/12/2008).

Untuk mewujudkannya, beberapa hal mulai disiapkan Universitas Maranatha seperti membentuk layanan langsung dari mahasiswa dan pengelola kampus melalui jalur SMS langsung juga website, termasuk membenahi Maranatha Information dan Costumer Service (MICS) dan Divisi Web Administrasi (DWA) Maranatha.

Namun dalam praktiknya, kendala yang sulit sampai saat ini masih soal klasik yaitu dana. Perguruan tinggi swasta harus membiayai sendiri seluruh rencana pembenahan infrastruktur. Berbeda dengan perguruan tinggi negeri yang cenderung lebih mudah mendapatkan beberapa fasilitas dan bantuan.

"Itu yang sering memaksa kita memilih apa yang dilakukan berdasarkan skala prioritas. Karena itu ada tahapan-tahapan yang kita susun mulai dari menyiapkan hardwarenya hingga bisa menjadi layananan yang memuaskan. Tujuannya memang ke arah sana," papar Septo.

Untuk menaikkan biaya kuliah pun tidak mudah. Dijelaskan Septo, pendidikan memang mahal. Bahkan secara umum, pertumbuhan jumlah mahasiswa baru di Indonesia cenderung menurun. Biaya 5-6 juta rupiah per semester yang dikeluarkan mahasiswa di Maranatha pun sudah ditekan.

"Maranatha tidak bisa lepas dari itu. Tetapi penerimaan mahasiswa di Maranatha sampai saat ini masih stabil. Hanya saja untuk mencapai kestabilan tersebut, kita harus memberikan effort yang lebih," tuturnya.

Fasilitas yang dimiliki Universitas Maranatha saat ini diakui pria yang menguasai bahasa Inggris, Prancis dan Belanda itu masih belum seperti yang mereka cita-citakan. Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kampus negeri seperti tetangganya Institut Teknologi Bandung.

Apa yang bisa dilakukan perguruan tinggi swasta menurut pria yang pernah mengajar di ITB dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" itu adalah, menjalin kerjasama dengan pihak-pihak di luar kampus. Dicontohkannya, Maranatha dalam waktu dekat akan mengadakan kelas internasional kerjasama dengan universitas di Australia. Tentu banyak standar yang harus disesuaikan, sebelum rencana kerjasama tersebut direalisasikan.

"Yang paling dasar, kelas internasional tentunya menggunakan bahasa Inggris. Jadi mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah ke Australia, bisa lewat jalur ini. Nantinya dia akan mendapatkan double degree dari universitas di Australia juga dari Maranatha," tutur Septo.

Perkembangan dunia perguruan tinggi seperti di atas, sangat perlu diketahui publik. Karena itu butuh sumber informasi yang mudah diakses juga menjangkau seluas-luasnya masyarakat. "Zaman sekarang, informasi harus cepat dan mudah. Jangan lagi ada hambatan-hambatan," harapnya. (lom/lom)


Berita Terkait