"Depresi bukan hanya menimpa Inoel. Kami sekeluarga juga merasakan depresi. Contohnya kami saat ini belum bisa melepas Inoel bepergian sendirian. Itu yang saya rasakan saat ini," ujar ayah Inoel Slamet Riyadi Bisri saat ditemui di Masjid Nurul Rochman di lingkungan RS Sartika Asih, sesaat sebelum Inoel pergi meninggalkan RS Sartika Asih bersama dengan paman dan keluarganya, Senin (1/12/1008).
Slamet juga berharap Inoel dapat segera beradaptasi dengan keluarga dan kampusnya. "Kami berharap Inoel cepat sembuh dan kembali lagi seperti dulu. Segera beradaptasi di lingkungan rumah ataupun di kampus," kata Slamet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inoel, mahasiswa Planologi ITB hilang pada Kamis, 20 November lalu. Inoel hilang setelah dirinya izin akan pergi ke swalayan dekat rumahnya. Pada saat pergi, Inoel hanya mengenakan celana pendek dan kaus. Di hari Inoel hilang, dia sempat mengirimkan SMS kepada pacarnya yang berisi "Nie, tlg".
Karena dua hari tidak pulang, akhirnya pihak keluarga melaporkan kasus hilangnya Inoel pada Sabtu (22/11/2008) ke Polresta Bandung Timur. Hingga akhirnya pada Sabtu lalu (29/11/2008), keluarga mendapatkan telepon dari seseorang yang bernama Oyo di Tasikmalaya, yang mengabarkan jika anaknya berada di Kampung Cigurubuk, Desa Pasir Batang, Kecamatan Manonjaya Kota Tasikmalaya.
Inoel ditemukan pada Sabtu subuh di sebuah masjid di kampung tersebut oleh Dodo. Kemudian Dodo menghantarkan Inoel ke rumah mantan lurah, Oyo. Akhirnya keluarga dan polisi menjemput Inoel. Setibanya di Bandung, Inoel dibawa ke RS Sartika Asih.
Kepada orangtuanya, Slamet Riyadi Bisri, Inoel mengaku dirinya diculik dan disekap. Tak hanya itu, dia pun mengaku dibius dan kerap dipukuli. Namun hingga saat ini, polisi masih belum menyimpulkan motif hilangnya Inoel karena penculikan. Polisi masih menunggu kondisi Inoel pulih, agar bisa dimintai keterangan.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung. (afz/ern)










































