Hal itu disampaikan Sudarsono Katam, penulis buku album Bandung Tempoe Doeloe saat ditemui detikbandung di rumahnya, Jalan Tanjung, Selasa (25/11/2008). "Tim Gasibu hanya latihan sepakbola di lapangan Diponegoro (Lapangan Gasibu sekarang ini-red) beberapa tahun saja, karena pada tahun 1960-an Pemkot Bandung mengizinkan para pemulung untuk tinggal di area lapangan, sehingga lapangan itu sempat dikenal dengan nama perkampungan pemulung," tutur Katam.
Namun pada tahun 1970-an, Pemkot Bandung mengeluarkan kebijakan lain. Pemerintah saat itu meminta agar para pemulung menyicil rumah di kawasan Sukaluyu. Sejak itu, lapangan difungsikan sebagai sarana olahraga dan rekreasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini status kepemilikan Lapangan Gasibu tengah dipersoalkan oleh 42 orang yang mengaku sebagai ahli waris almarhum Dirdja alias Patinggi alias Djayareksa alias Rd Kusuma Atmawijaya yang diwakili Ny Ari Djuariah dan Yudi Heryanto. Mereka mengklaim, lahan yang dipakai Lapangan Gasibu merupakan lahan milik kakek buyutnya.
Para ahli waris ini sudah melayangkan gugatan kepada Pemprov Jabar ke PN Bandung. Sidang awal yang harusnya digelar Senin (25/11/2008), batal karena tergugat tidak datang.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung (ern/ern)











































