DetikNews
Selasa 25 November 2008, 11:30 WIB

Ahli Waris Patinggi Klaim Gasibu

Lapangan Gasibu Dulu Bernama Wilhelmina

- detikNews
Lapangan Gasibu Dulu Bernama Wilhelmina
Bandung - Lapangan Gasibu yang kini menjadi objek sengketa antara ahli waris Patinggi dan Pemprov Jabar, ternyata pada saat jaman Belanda lapangan itu bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina). Nama ini diambil dari ratu Belanda.

Menurut Sudarsono Katam, penulis buku album Bandung Tempoe Doeloe saat ditemui detikbandung di rumahnya, Jalan Tanjung (25\/11\/2008), pada 1950-an, nama lapangan tersebut kemudian berganti menjadi Lapangan Diponegoro.

"Kemudian pada tahun 1955, Lapangan Diponegoro lebih dikenal dengan nama lapangan Gasibu," ujarnya.

Nama Gasibu sendiri, menurutnya, berasal dari sebuah perkumpulan sepakbola yang dimana anggotanya merupakan masyarakat Bandung Utara. Gasibu kepanjangan dari Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara. "Salah kalau selama ini Gasibu berasal dari kata gazeebo," kata penulis Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis, Sebuah Wisata Sejarah ini.

Sebelum main di lapangan ini, tim Gasibu sering berlatih di sebuah lahan di Jalan Badak Singa, yang saat ini kantor PDAM. "Nah karena lapangan di Badak Singa ini dibangun untuk PDAM, mereka akhirnya pindah," tutur Katam.

Kini status kepemilikan Lapangan Gasibu tengah dipersoalkan oleh 42 orang yang mengaku sebagai ahli waris almarhum Dirdja alias Patinggi alias Djayareksa alias Rd Kusuma Atmawijaya yang diwakili Ny Ari Djuariah dan Yudi Heryanto. Mereka mengklaim, lahan yang dipakai Lapangan Gasibu merupakan lahan milik kakek buyutnya.

Selain Lapangan Gasibu, ahli waris juga menggugat lima tergugat lainnya yaitu PT Bank Mandiri, TNI AL CQ dan Denal Bandung, PT Taspen TBK, Auw Sia Tjeu, Suryatin Abdulrahman Habiebie. Selain itu BPN Kantor Pertanahan Kota Bandung pun turut tergugat.

Digugatnya lima tergugat lainnya karena pemakaian lahan yang dipakai oleh Bank Mandiri di Jalan Surapati No 2, Danlanal di Jalan Aryajipang No 8, PT Taspen di Jalan Diponegoro No 23, rumah Auw Sia Tjeuw di Jalan Diponegoro No 19, rumah Suryatin Abdulrahman Habiebie di Jalan Diponegoro No 21. Mereka menggugat ke-6 tergugat ini sebesar Rp 12 miliar.

Patanggi meninggalkan harta berupa tanah hak milik adat yang terletak Lapangan Gasibu dan sekitarnya yaitu sebelah Utara dibatasi Jalan Surapati, sebelah Barat Jalan Aryajipang, sebelah selatan dibatasi Jalan Diponegoro dan sebelah Timur di Jalan Sentot Ali Basah.

Sengketa ini berawal dari pemindahan makam Rd Kusuma Atmawijaya yang terletak di area Gasibu oleh Pemprov Jabar. Namun tidak jelas disebutkan dalam dakwaan tahun berapa pemindahan makan ini.

Para tergugat tidak pernah membeli atau membayar uang untuk penggantian hak milik tanah adat tersebut yang seharusnya diterima oleh para ahli waris.


 
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung<\/em><\/strong><\/a>



(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed