"Upah buruh sudah sangat tinggi. Belum lagi tuntutan mereka yang menginginkan kenaikan di atas 10 persen. Jadi saat ini Jabar sudah tidak cocok lagi memproduksi produk pakaian jadi yang middle low," kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar Ade Sudrajat kepada detikbandung, Kamis (20//11/2008).
Menurut Ade, kelas middle low masih menguasai pasar dalam negeri dan pasar di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi seperti ini, memaksa pelaku usaha garmen untuk menciptakan produk high class yang berkualitas dan berdaya saing. Baik untuk pasar lokal ataupun pasar dunia.
"Mau tidak mau industri kita harus bisa menciptakan produk yang berkualitas dan memiliki daya saing untuk pasar lokal ataupun pasar dunia. Sudahlah, pasar middle low untuk Jateng saja. Karena di sana upah masih murah. Tidak seperti Jabar," pungkas Ade.
Senada dengan Ade, Fabric Technical Departement Head Dewhirst Menwear, Arief Budiman mengatakan sudah saatnya inovasi produk dilakukan.
"Sejak tahun 70-an, atau pertama kali industri tekstil masuk ke Indonesia, belum ada perubahan. Mesinnya masih sama, tidak ada pembaharuan. Produknya juga itu-itu saja tidak ada inovasi," terang Arief.
Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(afz/ern)










































