Sekolah Kebanjiran, Bocah Perahu Bermunculan

Sekolah Kebanjiran, Bocah Perahu Bermunculan

Baban Gandapurnama - detikNews
Selasa, 18 Nov 2008 09:44 WIB
Sekolah Kebanjiran, Bocah Perahu Bermunculan
Bandung - Sopian, bocah berusia 9 tahun, terus menebar senyum. Sesekali terdengar tawa cekikikan yang berasal dari delapan sahabat sebayanya.

Pagi itu di Jalan Mekarsari, Kecamatan Bale Endah, Kabupaten Bandung, Sopian dan sahabatnya berjibaku mendorong perahu kayu. Aksi mereka tersebut, tak lain untuk menolong warga yang ingin melintas di tengah genangan air banjir. Sudah sejak tiga minggu ini banjir melanda Kampung Cieunteung.

Selama itu pula, Sopian dan sahabatnya terpaksa libur belajar di sekolah. "Sekolah diliburkan. Soalnya halaman SD Mekarsari kebanjiran. Terus jalan yang mau ke sekolah (Jalan Mekarsari) juga banjir," ujar bocah lelaki yang mengaku kelas empat kepada detikbandung, belum lama ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendorong perahu kayu, menjadi kesibukkan mereka dalamย  mengisi waktu libur sekolah. Terlihat ada dua perahu kayu sebagai alternatif kendaraan untuk melewati sepanjang Jalan Mekarsari. Satu perahu didorong empat hingga lima orang. Kapasitas satu perahu yaitu enam orang.

"Penumpang tinggal duduk saja. Nanti kami yang mendorong hingga lokasi tujuan penumpang," ujar Sopian. Entah hingga kapan bocah-bocah itu kembali beraktivitas belajar seperti biasa.

Menurut bocah lainnya, Hana (10), dirinya belum mendapat kepastian harus sekolah lagi. "Sudah sekitar tiga minggu saya tidak sekolah. Enggak tahu kapan masuk. Sekolahnya banjir sih," ujar dia yang mengaku sebagai pelajar kelas lima di SDN Dayeuh Kolot.

Sekali menaiki perahu, seorang penumpang mesti merogoh rupiah sebagai pengganti ongkos lelah. Urusan tarif tidak dipatok. "Satu penumpang rata-rata memberi uang tiga ribu hingga lima ribu rupiah. Tapi sering juga yang memberi 10 ribu rupiah," terang Hana.

Dia mengaku, seharinya bisa bolak-balik mengantarkan hingga puluhan orang. Setelah merasa lelah dan hari menjelang malam, mereka pun berhenti mencari recehan rupiah. "Kalau uangnya sudah terkumpul, maka dibagi rata. Seharinya, tiap orang yang mendorong perahu mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah," ungkap wanita kecil berpenampilan tomboy ini.

Lantas dipergunakan apa uang itu? "Buat jajan saja. Lumayan," jawab Hana, singkat.

Kendati begitu, risiko bahaya keselamatan tak terduga selalu mengintai. Namun mereka tampak datar-datar saja. Bahkan sambil bertelanjang kaki, mereka tetap semangat melaju menerjang air banjir yang meredam pahanya.

Terdengar suara cipratan air menyertai langkah mereka. Hanya keceriaan terpancar dari rona bocah-bocah itu. Tiba-tiba, salah seorang bocah berteriak kepada para wartawan yang meliput, "Awas ada beling. Jangan terlalu pinggir, ada selokan dalam!"



Ayo ngobrol seputar Kota Bandung di Forum Bandung.
(bbp/ern)


Berita Terkait