Pangdam Akan Keluarkan Kebijakan Secara Gradual

Rumdis TNI Jadi FO

Pangdam Akan Keluarkan Kebijakan Secara Gradual

- detikNews
Jumat, 14 Nov 2008 12:32 WIB
Bandung - Pangdam III/Siliwangi, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Rasyid Qurnuen Aquary, akan mendalami permasalahan mengenai penggunaan aset Kodam III/Siliwangi yang dialihfungsikan menjadi lahan bisnis. Dirinya akan mengambil kebijakan secara gradual terkait permasalahan tersebut.

"Saya kuasai dan dalami dulu permasalahannya. Nanti kita akan keluarkan kebijaksanaan yang tentunya ada sinkronisasi dengan kebijaksaan pemerintah pusat atau daerah. Ini akan kita lakukan secara bertahap," ujar Pangdam III/Siliwangi, Jumat (14/11/2008).

Untuk implementasinya, Pangdam mengaku tidak akan mengambil keputusan secara sepihak. Dirinya menyebutkan bahwa Kodam III/Siliwangi akan tetap berkoordinasi dengan pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan permasalahan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tidak akan bertindak sendiri. Kodam akan selalu meminta petunjuk dari KSAD, Panglima, atau siapa pun yang berpotensi terhadap masalah itu," kata Rasyid.

Di Bandung ada 379 unit rumah dinas Kodam III/Siliwangi berubah menjadi factory outlet (FO).
Β 
Dari wawancara detikbandung dengan Raja FO Bandung, Perry Tristianto, beberapa waktu lalu, dirinya menyanggah jika disebut mengelola 379 FO.

"Hanya 5 aset Kodam yang saya gunakan menjadi FO. Mungkin nama FO cukup komersil jadinya disebutkan 379 digunakan untuk FO," sanggah Perry yang mengaku saat ini telah menggunakan 2-3 ribu meter persegi aset milik Kodam III/Siliwangi.

Kelima aset Kodam III/Siliwangi yang digunakan Perry untuk usaha FO, dua diantaranya disewa langsung dari Kodam III/Siliwangi sedangkan tiga yang lainnya disewa melalui pemilik rumah dinas.

Setelah diberlakukannya penertiban aset-aset TNI yang dialihfungsikan menjadi tempat bisnis, Perry menyatakan jika pihaknya harus melakukan ruilslag. Ruilslag ini dinilainya sangat memberatkan, karena dirinya harus menggantikan nilai dari aset yang digunakan dengan perhitungan luas tanah yang digunakan dikalikan harga NGOP per meternya seharga Rp 4-5 juta.

"Jelas ini memberatkan. Kalau sebagai pebisnis sewa kan bulanan. Kalau ruilslag harus keluar duit lebih banyak lagi," pungkas Perry.

Saat ini, Perry mengaku masih menunggu kapan waktu ruilslag direalisasikan, "Bagaimana mabes waktunya, tinggal tunggu saja," ujarnya.

Untuk pembagian untung antara Perry dengan Kodam ataupun pemilik rumah dinas Kodam yang disewa tempatnya cukup variatif, tergantung tingkat keramaian pengunjung tiap bulannya.

"Variatif. Sekitar Rp 7,5-15 juta per bulannya. Untuk aset yang saya sewa langsung ke Kodam, uang sewanya masuk melalui koperasi Kodam," jelas pria yang dijuluki Raja FO Bandung ini. (ahy/afz)


Berita Terkait