"Kita tetap siaran, mudah-mudahan Januari 2009 nanti. Tentunya dengan konsep baru yang minimalis," ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (21/10/2008).
Konsep baru ini, tambahnya, dengan tetap mengusung visi sebagai media dakwah. Namun, pihaknya menjanjikan tidak ada iklan-iklan komersil yang disertakan dalam siarannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ketika disinggung apakah cara tersebut efektif dalam membantu operasional perusahaan yang akan bangkit kembali untuk bersiaran, "Citra dulu yang nanti kita bangun," jawabnya.
Dengan citra yang bagus, lanjutnya, maka dengan demikian akan menarik simpatik dari masyarakat yang diharapkan dapat membantu keberlangsungan hidup MQTV. "Saya yakin ini adalah media ummat dan milik bersama," ujarnya.
Menurutnya dalam pembangunan kembali MQTV tidaklah dibutuhkan dana besar. Selama ini menurut Dudung media-media lokal, khususnya TV, terlalu mengacu pada media nasional.
"Pasang surut tv sudah saya alami. Tidak besar rupanya membangun sebuah TV lokal," ucap Dudung. Ia pun mencontohkan, jika Rp 300 juta yang dibutuhkan untuk satu program tv nasional, sama dengan kebutuhan satu tahun tv lokal.
"Semisal Artis yang harus dibayar mahal ketika diundang. Nah, kalo yang ceramah kan tidak harus dibayar mahal," ujarnya.
(ahy/ern)











































