Massa yang mengklaim dirinya dari Kemas Jabar ini membawa sebuah spanduk putih ukuran 2x1,5 meter yang bertuliskan 'Tolak dan coret careg bermasalah'. Tak hanya itu mereka pun membawa beberapa poster dari karton yang isinya sama, menolak caleg yang bermasalah.
Sekitar 50 anggota polisi menjaga ketat gerbang masuk KPU. Mereka membentuk barikade. Sementara perwakilan massa aksi, melakukan orasi.
Menurut juru bicara aksi, Sri Dian, salah seorang caleg yang merupakan petinggi PDIP Jabar tak memiliki ijazah serta akta kelahiran. "Yang ada hanyalah surat kehilangan dari pihak kepolisian," katanya di halaman KPU Jabar, Jalan Garut.
Ketika ditanya apakah mereka membawa bukti, Sri menyatakan pihaknya sudah menyiapkan jauh hari. Namun dia sengaja tak membawanya hari ini. "Nanti pada saat pengumuman caleg, akan kami bawa," tandasnya.
Aksi demo ini sempat diwarnai adu badan antara demonstran dan polisi, saat massa memaksa masuk untuk bertemu dengan anggota KPU. Awalnya polisi hanya mengizinkan perwakilan massa. Namun demonstran menolaknya. Mereka ingin semua demonstran masuk. Akhirnya, polisi pun mengizinkan semua demonstran masuk.
Ditemui oleh Ketua KPU Jabar Ferry Kurnia Rizkiansyah dan dua anggota KPU lainnya yaitu Teten Setiawan dan Sanusi Ues, para demonstran diterima di Aula KPU Jabar.
Ferry menyatakan informasi dari demonstran akan diterima. "Namun kita tidak bisa mencoret langsung. Kita harus lakukan kroscek. Kalau pun ditemukan, kita akan minta klarifikasi dari parpol yang bersangkutan," jelas Ferry.
Ferry pun meminta agar para demonstran menyerahkan bukti otentik mengenai tuduhan yang mereka alamatkan kepada salah satu caleg.
Usai pertemuan, Ferry mengaku dari 1.500 lebih caleg di Jabar, baru satu caleg yang diberikan tanggapan oleh masyarakat. "Sebelumnya kami belum menerima tanggapan dari masyarakat," katanya. (ern/ern)











































