Perang Pendapat Warnai Diskusi Baksil Bersama Walikota

Perang Pendapat Warnai Diskusi Baksil Bersama Walikota

- detikNews
Sabtu, 11 Okt 2008 07:25 WIB
Bandung - Pro kontra seputar perencanaan penataan kawasan Babakan Siliwangi mencuat dalam diskusi di Lamtet Unpad, Jalan Cisangkuy, Jumat malam (10/10/2008).

Acara yang digagas Forum Antar Kampus dan Jaga Lembur serta Bandung Spirit ini menghadirkan Walikota Bandung Dada Rosada, Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda, Kepala Bappeda Tjetje Soebrata, Kepala Dinas Ruang dan Cipta Karya Juniarso Ridwan, Kepala Dinas Pariwisata, H.M Askary, anggota dewan, para akademisi, budayawan dan mahasiswa. Sayangnya acara tersebut berlangsung tanpa kehadiran pihak pengembang PT Esa Gemilang Indah (PT EGI).

Diskusi yag diawali dengan pemaparan perencanaan penataan Baksil dengan PT Esa Gemilang oleh pemkot menuai berbagai tanggapan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Ikatan Alumni Planologi ITB Hetifah Syaifudian Sumarno menyatakan ketidaksepakatannya dan mengajukan pembatalan atas perencanaan kerjasama penataan Babakan Siliwangi antara pemerintah dan PT EGI.

"Penataan kawasan Babakan Siliwangi kin jadi polemik. Kalau dilanjutkan image pemkot akan rusak karena pemerintah tidak punya political will," tutur Hetifah. Menurutnya, jika pemerintah merubah keputusan itu akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Selain itu, Hetifah mengungkapkan jika penataan ruang terbuka hijau (RTH) diserahkan kepada privat sektor maka akan membatasi akses publik. Kelak, Babakan Siliwangi hanya akan dinikmati kaum elit saja.

Sedangkan Pengamat Politik dari Unpar Asep Warlan Yusuf mempertanyakan konteks nilai jika pembangunan Babakan Siliwangi dilanjutkan. "Secara norma, nilai tambah ekonomi dan secara tekhnis pemerintah menang tapi secara nilai tidak," ucap Asep.

Menurutnya pemerintah mendapat legalitas hukum untuk penataan Babakan Siliwangi tersebut tapi secara legitimasi masih dipertanyakan.

Bertentangan dengan hal itu, Budayawan Iwan Abdurrahman atau Abah Iwan menyetujuiΒ  penataan Baksil diserahkan kepada PT EGI. "Jika PT EGI mengelola restoran sekaligus memelihara sisa tanah seluas 3 hektar akan memudahkan karena sektor privat bisa jadi sektor lingkungan," jelas Abah Iwan.

Namun menurutnya dalam pengelolaannya PT EGI harus dipagari dan diawasi bersama-sama Iwan mengemukakan keberadaan hutan kota atau sangtuari sebagai ruh alam harus tetap dipertahankan.

Mendukung pernyataan Abah Iwan, sesepuh Bandung Popong Otje Djunjunan sepakat dilakukan penataan jika konsepnya dikembalikan seperti perencanaan awal pada masa pemerintahan Otje Djunjunan.

"Kalau akan dikembalikan seperti dulu asal jangan diganggu. Jika dibangun kembali akan menjadi tempat untuk nostalgia," ujarnya.

Berbagai pendapat seputar penataan Babakan Siliwangi pun dilontarkan oleh peserta lain. Termasuk ketidakhadiran PT EGI yang disayangkan semua pihak karena mereka berharap bisa melihat rencana penataan Babakan Siliwangi yang akan dilakukan PT EGI.
(ema/ema)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads