Dengan mengenakan seragam krem dan putih-putih untuk perawat, mereka berdiri di depan pintu masuk sambil berorasi menggunakan pengeras suara. Mereka pun menempelkan beberapa poster di tembok yang isinya antara lain: 'Kami tuntut transparansinya!' dan 'Kapan kami bisa nyaman bekerja'.
Di depan beberapa orang direksi yang berdiri tepat di pintu utama, ratusan karyawan ini berteriak-teriak. "Kami tidak takut SP, kami minta keadilan," teriak mereka. Sementara direksi sendiri terdiam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut menurut Sunarya tak adil. Sebab, setiap bulannya para direksi mendapatka gaji sebesar Rp 21 juta dengan rincian gaji pokok Rp 15 juta, tunjangan kendaraan Rp 3 juta dan tunjangan perumahan Rp 3 juta. Belum lagi, setelah pengelolaan oleh BLU setahun terakhir ini, para direksi pun mendapatkan tunjangan rapel Rp 10 juta.
Jajaran yang termasuk direksi adalah direktur utama, direktur keuangan, direktur SDM, serta direktur medik dan pelayanan.
Sementara itu Ojar Rastapraja, staf humas RS Mata Cicendo, mengungkapkan aksi unjuk rasa karauwan karena tidak transparannya pengelolaan RS sudah terjadi tiga kali. Aksi pertama, pada 2000 silam karena proses pembayaran jasa medik yang tidak transparan. Kemudian pada 2002, tentang penunjukan pejabat baru yang tidak transparan.
"Nah ketiga sekarang ini. Kami sadar, kami karyawan biasa. Yang kami tuntut, kami kan juga karyawan jadi harus dikasih BLU juga dong! Kita yang di lapangan, mereka yang enak," protesnya.
Hingga saat ini, aksi masih berlangsung. Meski demikian, tak mengganggu pelayanan pasien. Para perawat yang ikut demo hanya perwakilannya. (ern/ern)










































