Pemandangan ini terlihat di Lapangan Gasibu, Bandung, Rabu (1/10/2008). Ketika sekitar lima ribu jamaah mulai meninggalkan lapangan setelah mengikuti salat Id, sekitar 15 pemulung justru menyerbu masuk.
Mereka mengumpulkan kertas koran yang bertebaran, merapihkannya dengan cekatan dan memasukkan ke dalam karung plastik yang besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehari-harinya Karmita memang memulung di sekitar Gasibu. Bahkan malam hari pun iaΒ tidur di kawasan ini di dalam gerobak dorongnya. "Saya begini ini hanya karena satu hal, agar saya tidak kelaparan," katanya sambil merapihkan koran yang dikumpulkannya.
Bapak empat anak ini mengaku, koran yang dikumpulkannya dibeli oleh bandar seharga Rp 700 per kilogram. Hari ini ia sudah mengumpulkan sekitar 15 kilogram.
Sementara itu, Komar (63) yang juga turut mengumpulkan koran, memiliki tempat menjual sedikit lebih menguntungkan. Pria asal Garut yang sudah lima tahun menjadi pemulung ini bercerita, ia menjual ke bandar di kawasan Jalan Bagus Rangin seharga Rp 1.000 per kilogram. Ini bukan kali pertama Komar menunggui salat Id di Gasibu. Tahun lalu ia mendapatkan sekitar delapan kilogram koran.
"Saat ini saya kira-kira mendapatkan lebih dari 10 kilogram. Uangnya saya pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan biasanya hasilnya tidak mencukupi," keluhnya. (lom/lom)











































