'Kembalikan Identitas Garden City'

'Kembalikan Identitas Garden City'

- detikNews
Rabu, 24 Sep 2008 11:46 WIB
Kembalikan Identitas Garden City
Bandung - Berkurangnya ruang terbuka hijau, hutan kota dan daerah-daerah resapan air di Bandung saat ini memunculkan rasa rindu pada identitas Bandung tahun 1936 yang dikenal sebagai Garden City (kota taman). Pada usianya ke 198 yang jatuh pada Kamis (25/9/2008), kini cuaca Bandung sangat panas.

Konsep kota taman yang banyak dianut oleh negara-negara Eropa hingga kala itu Bandung pun disebut sebagai kota Eropa di negara tropis atau Europe in the Tropen.

Seperti disebutkan Head of Natural & Build Environment Bandung Heritage Dibyo Hartono pada saat itu Bandung memiliki sekitar 40 taman. Misalnya Taman Ganesha (Izjermenpark), Taman Cilaki (Tjilaki Plein), Taman Maluku, Taman Lalu Lintas, Taman Paramuka dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat zaman Belanda, ungkap Dibyo, dari kawasan Tamansari ke Lebak Siliwangi dan berlanjut hingga Unpad merupakan wilayah yang harus hijau.

Pada masa itu jumlah penduduk Kota Bandung sekitar 30 ribu jiwa dengan perbandingan 40 taman. "Maka dengan jumlah penduduk yang lebih banyak seharusnya jumlah taman pun menjadi berlipat-lipat," ujar dosen ITB ini.

Dibyo lebih menyarankan pembuatan ruang terbuka hijau lebih dikhususkan pada hutan kota bukan taman kota. "Misalnya di Bandung bagian Selatan buatlah 2-3 hutan kota sedangkan di Bandung Utara dibuat 4-5 hutan kota," jelas Dibyo. Dibyo pun menyinggung Lebak Siliwangi yang sekarang tengah jadi kontroversi agar tetap dibiarkan jadi hutan kota.

Central Park yang terletak di New York Amerika Serikat salah satu contoh ruang terbuka hijau yang dinilainya sangat representatif. Tak hanya sebagai paru-paru kota tapi juga untuk istirahat dan tempat bermain bagi anak-anak.

"Taman kota berperan untuk mengurangi pencemaran atau polusi udara dari kendaraan," jelasnya.

Menurut Dibyo berkurangnya ruang terbuka hijau dan kesemrawutan tata ruang Bandung sekarang salah satunya karena pemerintah tidak memiliki planning kota yang bagus. "Seharusnya pemerintah memiliki perncanaan kalau perlu sampai 50 tahun mendatang," ujarnya.

Untuk menghasilkan planning yang bagus maka pemerintah harus bekerjasama dengan ahlinya. Dalam hal ini dengan universitas atau akademisi yang ahli dalam tata ruang dan lingkungan.

"Fungsikan kembali taman-taman dahulu seperti taman Cihapit, taman alun-alun dan taman-taman lain yang sekarang malah digunakan untuk instansi," jelas Dibyo.

Diungkapkan Dibyo saat ini fungsi pohon untuk tempat makhluk hidup lain pun sudah hilang.

Untuk menjaga hutan atau taman kota tetap lestari berikan pendidikan sejak dini pada anak-anak mengenai pentingnya lingkungan. Setiap orang berhak dan berkewajiban untuk merawat keberadaan taman kota tersebut. (ema/ern)


Berita Terkait