Spiritualisme dapat mengubah nasib seseorang. Hal ini telah menjadi suatu ketertarikan bagi Erbe Sentanu yang kemudian mendalaminya.
Ketertarikannya pada spiritualisme bersumber dari hal tidak terduga, yang dipercaya oleh pria yang kerap disapa Mas Nunu ini, merupakan suratan takdirnya. Ketika depresi, ketika ia mulai bertanya-tanya pertanyaan dasar seorang manusia kepada Tuhannya (seperti: "mengapa saya sudah berdoa tapi hidup saya makin susah?", "Untuk apa saya hidup?"), sebuah titik pencerahan menghampirinya. Yakni ketika ia sedang berada di sebuah perpustakaan. Sebuah buku terjatuh di depannya. Buku itulah yang kemudian mengubah hidupnya.
"Buku spiritual itu membeberkan jawaban atas pertanyaan saya. Saya ternyata menemukan kegagalan saya dalam berdoa. Saya belum ikhlas pada saat berdoa," paparnya penuh syukur. Sejak itu, Nunu menggali potensi ikhlas yang nyatanya menjadi pondasi seseorang untuk mengubah nasibnya.
Quantum Ikhlas
"Ikhlas merupakan kegiatan hati. Hati adalah kuantum. Sesuatu yang gaib tapi kita percayai ada. Cahaya adalah tubuh kuantum. Tubuh kuantum itulah yang harus melakukan ikhlas. Nah, yang hendak kita dorong adalah ikhlas yang ada di dalam tubuh kuantum ini. Bila ikhlas sudah diucapkan hati, hidup ini menjadi suatu komunikasi yang menyenangkan dengan yang Maha pencipta," jelas pendiri Katahati Institute ini tentang Quantum Ikhlas.
Menurut Nunu, yang berguru kepada banyak pakar spiritual internasional, tubuh manusia adalah tekhnologi tercanggih hasil ciptaan Allah SWT. Kecanggihannya ini yang seharusnya dipelajari. Seperti komputer, virus yang menyerang hati manusia bisa dibuang, dengan cara dipasang program antivirus, terpasang firewall, dan kemudian diaktivasi kembali. Bagaimana program-program tersebut bisa dipasang?
"Proses perubahan terjadi ketika kita sedang berada dia alam bawah sadar. Dalam alam bawah sadar tersimpan segala memori kita, segala perasaan yang terekam, entah itu rasa takut, kebaikan atau keburukan. Apabila antivirus dimasukan ke dalamnya dan kemudian hati di alam bawah sadar diformat ulang, mekanismenya akan diaktivasi dengan sendirinya menuju sang pencipta. Dengan cara berdoa dan berusaha yang tepat, istigfar. Programnya adalah Alquran. Setelah itu, hati manusia akan beres dengan sendirinya. Otomatis mendekat dengan Allah," papar Nunu yang mempercayai bahwa potensi manusia sebagai teknologi bisa mendapat hidayah di setiap detik kehidupannya.
Erbe merasa beruntung mendapatkan kebebasan dari orang tuanya untuk mengeksplorasikan hidup dengan mencari ilmu, membuka pikiran, serta berdiskusi dengan banyak orang. Nilai itu pula yang lalu ditanamkan kepada putera semata wayangnya.
Suami Veve Safitri ini pun berpendapat bahwa spiritualisme adalah sesuatu yang seharusnya menjadi pegangan hidup manusia. setiap kegiatan panca indra harus mengacu pada ingatan manusia kepada Allah.
"Ini yang sedang menjadi krisis bangsa. Jarang mengingat Allah. Buktinya banyak. Indonesia yang dulunya taman Firdaus dirusak sendiri oleh warganya. Sekarang saatnya warga ramai-ramai menyucikan diri dengan merayakan Alquran dan Sunnah Rosullullah SAW. Keduanya diberdayakan dan kemudian dihidupkan dalam hati manusia," tutur Nunu.
Foto: Erbe Sentanu (erbesentanu.com).
(lom/lom)











































