Hal ini diungkapkan Ridwan Kamil yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Babakan Siliwangi dan juga staff pengajar di Arsitektur ITB, saat diskusi di Baksil, Selasa (23/9/2008).
Dalam diskusi yang berlangsung setelah aksi penanaman pohon itu, Emil -demikian Ridwan akrab dipanggil- berharap, pemerintah Kota Bandung tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi dalam pembangunan tanpa menimbang kenyamanan warganya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emil menambahkan, bangunan-bangunan yang ada di Bandung jauh melebihi keberadaan pohon-pohon hijau. "Dengan kekurangan itulah maka suhu di Bandung menjadi semakin tidak nyaman atau sangat panas," lanjutnya lagi.
Masih menurut Emil, walapun tanah di Baksil adalah milik pemerintah, namun secara kultural dan aspek sosiologis adalah milik masyarakat. Karena itu Baksil harus terus dipertahankan. Maksudnya, perlu dilihat juga keberadaan para seniman dan kegiatan-kegiatan publik yang selama ini berlangsung di Babakan Siliwangi.
Usai penanaman pohon dan diskusi, sekitar lima puluhan orang yang hadir juga melakukan pengumpulan dana dan diperoleh sekitar Rp.1.500.000. Uang tersebut digunakan untuk membayar tujuh tukang gali lubang. (lom/lom)










































