Rahmat Saputra, penyalur Putri Mandiri yang ditemui di Jalan Stasiun Barat, Kamis (18/9/2008), mengatakan untuk tahun ini pihaknya hanya menyalurkan 5 pembantu inval. "Kalau tahun lalu saya menyalurkan hingga 12 orang. Tahun ini menurun lebih dari setengahnya," ujarnya.
Menurutnya penurunan permintaan pembantu inval ini disebabkan para majikan kini lebih memilih membayar pembantu tetapnya lebih tinggi agar si pembantu tidak mudik. Selain itu, kata dia, banyaknya yayasan penyalur tenaga kerja di Bandung membuat persaingan usaha makin tinggi. Saat ini jumlah yayasan penyalur tenaga kerja di Bandung mencapai 25 yayasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para tenaga inval ini, lanjut Rahmat, biasanya mulai bekerja pada H-7 hingga H+10. Mereka dibayar per hari dengajn rata-rata penghasilan Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. "Usianya berkisar 17 hingga 45 tahun. Mayoritas berasal dari Jateng, seperti dari Cilacap, Banyumas, dan Gombong," katanya.
Konsumen yang memesan pembantu inval ini, tambah Rahmat, merupakan keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas yang rata-rata mempunyai pembantu lebih dari satu. "Pada saat memesan, mereka harus membayar biaya administrasi sebesar Rp 200 ribu," ujarnya.
Penurunan permintaan pembantu inval juga dialami oleh pengelola Yayasan Sosial Cahaya Mekar, Bagio (29). "Tahun ini permintannya memang menurun," keluhnya.
Peningkatan pemesanan tenaga kerja, lanjutnya, malah terjadi untuk pramuwisma atau pembantu tetap. "Sudah ada 50 majikan yang memesan untuk dipakai setelah lebaran," ungkapnya.
Baik pembantu inval maupun pembantu tetap ini harus mempunyai keterampilan mengepel, mencuci, menyeterika, dan memasak. (ern/ern)