Zakat via Lembaga, Manfaat Multiguna

Zakat via Lembaga, Manfaat Multiguna

- detikNews
Selasa, 16 Sep 2008 10:39 WIB
Zakat via Lembaga, Manfaat Multiguna
Bandung - Korban berjatuhan akibat berebut Zakat di Pasuruan, Senin (15/9/2008).  Maksud baik Haji Syaikon, pengusaha asal Pasuruan, Jawa Timur, untuk membagi zakat langsung kepada yang berhak, tidak sebaik akibat yang ditimbulkan. Sebanyak 21 warga tewas akibat terinjak-injak ribuan orang yang juga berjejal tidak karuan, demi rupiah yang jumlahnya 30-40 ribuan.

Di dunia perzakatan Indonesia, tentu peristiwa ini merupakan sebuah tragedi. Padahal, keberadaan Lembaga Pengelola Zakat cukup marak di negeri ini sejak awal 1990-an. Salah satunya ditandai dengan lahirnya Dompet Dhuafa, diikuti beberapa lembaga zakat lain setelahnya.
 
Direktur Dompet Dhuafa Bandung, Ima Rachmalia, lewat press realease yang diterima detikbandung, Selasa (16/9/2008) mengatakan, ada beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebab masih minimnya kesadaran masyarakat untuk berzakat melalui lembaga.

Pertama, krisis  kepercayaan warisan rezim lama yang korup, membuat masyarakat kehilangan trust terhadap institusi manapun, termasuk lembaga zakat. Hal ini, ungkapnya, menjadi tantangan tersendiri bagi Lembaga Pengelola Zakat untuk bebenah, meraih simpati masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ima mencontohkan, pendirian Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) di Gd. Wakaf RBC, Kompleks Pesantren atta'zhimiyyah Jl. Holis 448 A, Bandung. Sebagai bentuk pendayagunaan dana Zakat Infak dan Wakaf masyarakat, program ini sejak 4 tahun pendiriannya 11 Oktober 2004 lalu, terbukti efektif melayani lebih dari 17 ribu kasus kesehatan dhuafa di wilayah Bandung Raya, mencakup Pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan kesehatan, layanan persalinan, imunisasi, KB, dan rawat jalan.

Dalam bidang pendidikan, Dompet Dhuafa mendirikan Sekolah Unggul Bebas Biaya, SMART Ekselensia Indonesia, di Parung, Bogor. Sekolah setingkat SMP-SMA ini dikhususkan bagi para siswa berprestasi dari kalangan tidak berpunya dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Yang kedua, masih menurut Ima, setelah program-program dirasakan langsung secara luas oleh para penerima manfaat, masyarakat menuntut pertanggungjawaban public atas amanah yang diemban Lembaga Pengelola Zakat. Oleh karena itulah, setiap tahunnya audit atas laporan keuangan Dompet Dhuafa rutin dilakukan oleh auditor independen.

"Alhamdulillah, Opininya pun selalu wajar tanpa pengecualian," ungkap Ima.

Selanjutnya sosialisasi yang intensif ihwal pentingnya zakat via lembaga ke tengah masyarakat, tentu saja harus terus dilakukan. Jika fase-fase tadi dilakukan, Ima yakin, para wajib zakat (Muzakki) semisal Haji Syaikon, akan kemudian sadar untuk menyalurkan zakatnya via Lembaga Pengelola Zakat. Dan tragedi Pasuruan pun tidak harus berulang. (lom/lom)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads