Di dunia perzakatan Indonesia, tentu peristiwa ini merupakan sebuah tragedi. Padahal, keberadaan Lembaga Pengelola Zakat cukup marak di negeri ini sejak awal 1990-an. Salah satunya ditandai dengan lahirnya Dompet Dhuafa, diikuti beberapa lembaga zakat lain setelahnya.
Direktur Dompet Dhuafa Bandung, Ima Rachmalia, lewat press realease yang diterima detikbandung, Selasa (16/9/2008) mengatakan, ada beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebab masih minimnya kesadaran masyarakat untuk berzakat melalui lembaga.
Pertama, krisis kepercayaan warisan rezim lama yang korup, membuat masyarakat kehilangan trust terhadap institusi manapun, termasuk lembaga zakat. Hal ini, ungkapnya, menjadi tantangan tersendiri bagi Lembaga Pengelola Zakat untuk bebenah, meraih simpati masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam bidang pendidikan, Dompet Dhuafa mendirikan Sekolah Unggul Bebas Biaya, SMART Ekselensia Indonesia, di Parung, Bogor. Sekolah setingkat SMP-SMA ini dikhususkan bagi para siswa berprestasi dari kalangan tidak berpunya dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia.
Yang kedua, masih menurut Ima, setelah program-program dirasakan langsung secara luas oleh para penerima manfaat, masyarakat menuntut pertanggungjawaban public atas amanah yang diemban Lembaga Pengelola Zakat. Oleh karena itulah, setiap tahunnya audit atas laporan keuangan Dompet Dhuafa rutin dilakukan oleh auditor independen.
"Alhamdulillah, Opininya pun selalu wajar tanpa pengecualian," ungkap Ima.
Selanjutnya sosialisasi yang intensif ihwal pentingnya zakat via lembaga ke tengah masyarakat, tentu saja harus terus dilakukan. Jika fase-fase tadi dilakukan, Ima yakin, para wajib zakat (Muzakki) semisal Haji Syaikon, akan kemudian sadar untuk menyalurkan zakatnya via Lembaga Pengelola Zakat. Dan tragedi Pasuruan pun tidak harus berulang. (lom/lom)











































