Hal tersebut terungkap dalam diskusi tentang Baksil yang diselenggarakan oleh Satgas Baksil Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, Sabtu (13/9/2008) petang.
"Jika dilihat dari sudut pandang geoekonomi, Baksil merupakan penunjangn kepentingan di kawasan Punclut. Kita tahu sekarang kawasan Punclut beralih fungsi menjadi pemukiman elit," ungkap salah seorang tokoh masyarakat adat yang konsern terhadap masalah Baksil, Apen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemkot ambil keputusan sekarang, tapi dampaknya nanti. Anak cucu kita yang akan merasakan dampaknya. RTH di Bandung sudah kurang dari 10 persen. Tiap tahunnya berapa persen berkurang karena kepentingan pembangunan dan pendapatan asli daerah (PAD)," jelas Apen penuh semangat.
Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang aktifis yang giat menentang alih fungsi Baksil, Gustaff H Iskandar.
Menurutnya apa yang terjadi dengan Baksil adalah satu langkah bunuh diri ekologi, jika Pemkot berencana melakukan alih fungsi Baksil.
"Baksil merupakan persoalan yang tidak ditemukan solusinya. Dari dulu Baksil diincar oleh investor. Jika Pemkot meneruskan niatnya untuk melakukan alih fungsi Baksil, maka ini adalah bunuh diri ekologi," kata pria yang juga membuat mengkampanyekan penolakan alih fungsi Baksil.
Bahkan ia menambahkan, ia bersama banyak rekan lain yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Babakan Siliwangi, juga membuat petisi online yang dipasang di blog savebabakansiliwangi.wordpress.com.
Pemkot Bandung terlihat plin plan mengenai rencana pembangunan rumah makan di kawasan Baksil oleh investor PT Esa Gemilang Indah (Istana Group). Awalnya dikatakan oleh Kepala Dinas Tata Ruang dan Sipta Karya (Distarcip) Juniarso Ridwan yang diperkuat oleh Kasubag Umum Dinas Tata Ruang Kota dan Cipta Karya, Sigit Iskandar, menyatakan jika izin menggunakan bangunan (IMB) rumah makan seluas 7.500 meter persegi di Baksil sudah keluar.
Namun dalam kesempatan yang berbeda hal itu dibantah kembali oleh Juniarso. Dirinya mengaku bahwa IMB tersebut belum keluar dan masih dalam proses.
Padahal rencana membangun rumah makan di Baksil sebenarnya sudah diakui juga oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung M Asykari. Bahkan untuk melancarkan proses pembangunan ini, Pemkot Bandung mengambil kebijakan untuk relokasi para seniman dari Baksil ke Tamansari. Namun rencana ini ditentang habis-habisan oleh para seniman.
Selain rencana untuk membangun rumah makan Baksil, PT EGI juga berencana mengandeng ITB untuk membangun lahan parkir 3 lantai di Sarana Olah Raga (SOR) Ganesha. Namun setelah 3 kali pertemuan antara kedua pihak, ITB kembali mementahkan tawaran PT EGI tersebut. (afz/afz)











































