Misi Memberdayakan Seniman Muda

Satu Dekade Selasar Sunaryo

Misi Memberdayakan Seniman Muda

- detikNews
Senin, 08 Sep 2008 11:27 WIB
Misi Memberdayakan Seniman Muda
Bandung - Mengapa Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) juga menjadi muara berbagai kegiatan seni di luar seni rupa? Mengapa pula tidak mau menjelma menjadi galeri atau museum? Semua karena SSAS punya misi memberdayakan seniman muda.

Sebagai seorang seniman, Sunaryo yang mendirikan SSAS tidak menjadikan karyanya sebagai "tuan rumah" tunggal. Ia membuka pintu bagi seniman-seniman lain, terutama para pemuda.

"Selasar banyak bermuara pada pemberdayaan seniman-seniman muda. Ini memang menjadi tujuan kita, mencari pameran-pameran anak-anak muda," ujar Sunaryo saat bincang-bincang dengan detikbandung beberapa waktu lalu di SSAS, Jalan Bukit Pakar Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demi tujuan tersebut, batasan terhadap aliran seni dihilangkan. Tahun pertama berdiri pada 1998, SSAS dikunjungi hanya sekitar seribu orang. Pilihan untuk lebih terbuka pun dinilai cukup berhasil, karena kini pengunjung SSAS mencapai 30 ribu orang dalam setahun.

"Di sini bisa melihat, mendengarkan lewat seminar, diskusi, mulai dari film, teater dan lainnya. Bahkan kadang-kadang kegiatan di sini di istirahatkan, seperti ketika tsunami. Di sini dibikin posko. Kita mengumpulkan dana untuk membantu korban tsunami," papar Sunaryo, mengenang kegiatan yang dalam waktu tidak sampai satu bulan berhasil mengumpulkan Rp 90 juta.

Lokasi SSAS yang cukup jauh dari perkotaan, menjadi seleksi alam pengunjung. Sebagian besar yang datang karena memang sudah ada niat dan minat dengan seni. Para pengunjung ini sendiri lah yang kemudian membantu membentuk atmosfir seni di Selasar Sunaryo.

Bagi pengunjung yang baru, akan langsung merasakan sakralnya SSAS untuk kegiatan positif. Di belakang bangku di Kopi Selasar, terdapat tulisan yang cukup bijak mengingatkan orang akan fungsi Selasar. Pohon-pohon yang ditanam pun diberikan tanda identitas jenis pohon tersebut.

Saat pembukaan program Satu Dekade Selasar Sunaryo, 5 September lalu, diluncurkan juga buku 10 tahun SSAS. Di situ diilustrasikan perjalanan dan misi SSAS dan ragam kegiatan yang didominasi anak muda.

"Kita membuat tulisan di belakang bangku, 'Saya sangat bangga jika ruangan ini tidak untuk main catur kartu dll'. Jadi bukan dilarang keras, tetapi dengan begini. Suatu saat saya datang, ternyata di pojok sana ada anak muda yang sedang membuat percobaan desain, di pojok sana ada anak muda yang sibuk dengan laptopnya. Pameran banyak yang datang, itu yang membuat saya senang. Bagi saya, dunia ini untuk apa lagi?" ujar Sunaryo bersemangat. (lom/lom)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads