Seniman Saini KM yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Kuratorial SSAS, menilai SSAS telah menempatkan posisinya di tempat yang ganjil. Di antara berbagai kepentingan, tetapi tidak memihak.
Dari mana ide membuat simpul seni yang eksis dan tetap fleksibel? Semuanya berawal dari sebuah mimpi. Impian seorang mahasiswa yang juga tidak menonjol di kampus bahkan kehidupan pribadi. Mimpi yang selalu diyakininya, hingga menular bagi orang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak kuliah saya mimpinya bagaimana kalau ada satu tempat komunitas berkumpul saya ada di situ. Kemudian sejak lulus kuliah, saya ingin ada studio di mana orang bisa melihat karya-karya saya tanpa memaksa saya untuk menjualnya. Karena kalau semua dibeli orang, saya tidak punya apa-apa," lanjut pengajar di ITB itu.
Sang sarjana seni patung pertama di ITB dan Indonesia itu, bertekad menjadikan SSAS seterbuka mungkin bagi seniman-seniman terutama yang butuh bantuan tempat menggelar pemeran atau pertunjukan. Bahkan sepuluh tahun SSAS, saku Sunaryo sendirilah yang dijadikan penopang dana operasional.
"Galeri-galeri yang begini tidak akan bisa tahan 2-3 tahun. Ba bahkan yang komersil, jika tidak meng-update strateginya akan susah. Di Bandung saja yang seperti ini, selain di sini susah. Kalau di Jakarta ada beberapa yang komersial. Di Yogyakarta ada Cemeti, tetapi di belakangnya ada pendukung dari Belanda," lanjutnya.
Kunci SSAS bisa bertahan adalah kualitas. Sebanyak-banyaknya pertunjukan tentu akan baik, tetapi kualitas selalu jadi pertimbangan yang utama.
"Banyak teman-teman yang sudah lama, mereka berusaha menyarankan itu, banyak seniman yang ingin perform. Bagi saya silakan saja. Jangan mahal-mahal, tetapi harus berkualitas. Jangan jadinya tiap orang bisa nyewa, bisa perform di sini. Tetapi harus berkualitas. Jika ada yang mau pameran atau perform di sini, tetapi kalau tidak punya uang juga tidak apa-apa," ujarnya. (lom/lom)











































