Hal tersebut dituturkan Isma Savithri, salah satu pengurus Mualaf Network Lautze 2 Bandung. Menurut penuturan Isma, jumlah mualaf dari kalangan etnis Tionghoa terhitung dari bulan Januari-Juli ada 5 orang.
"Sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, minimal dalam satu tahun ada 4 atau 5 orang yang menjadi mualaf," ujar Isma, saat ditemui detikbandung, Minggu (7/9/2008)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak ingin para mualaf ketika masuk Islam itu berdasarkan emosi semata, namun harus berdasarkan ilmu yang dia pelajari," ungkap Isma.
Maka dari itu, tambahnya, pengelola masjid menawarkan kepada para mualaf untuk belajar terlebih dahulu sebelum memutuskan memeluk agama Islam.
Salah satu contoh adalah Mel, mahasiswa Perguruan tinggi swasta ternama jurusan Psikologi. Kepada detikbandung Mel mengatakan bahwa ia diberikan keleluasaan oleh keluarga dalam menentukan keyakinannya.
"Saya hanya belajar, dan orangtua nggak keberatan saya belajar di sini (Masjid Lautze 2)" ujar Mel yang telah 5 bulan bergabung bersama mualaf Masjid Lautze.
Lain pula dengan Dede Ko An yang tadi menjadi imam pertamanya setelah 3 bulan menjadi Mualaf. Dede mengatakan bahwa ia tertarik dengan dunia Islam semenjak duduk di bangku SMP.
"Waktu dulu ada pelajaran sejarah. Dan ada sejarah Islamnya. Dari situ saya diam-diam mempelajarinya," ujar Dede.
Setelah menjadi mualaf, mereka diberikan pendamping selama menjajaki dunia Islam yang baru. "Kalau dulu karena banyak sukarelawannya masing-masing mualaf ada pendampingnya, tapi sekarang bersama-sama dengan ustadz untuk konsultasi atau sekedar meminta informasi," jelas Isma. (ahy/ern)











































