Apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana Gimmick Creative Movements sebagai penyelenggara menilai BYPF 2008? Berikut wawancara detikbandung dengan Eddi Brokoli (EB, eksekutif produser BYPF 2008) dan Vian Vathoni (VV, director BYPF 2008), Jumat (5/9/2008).
Gimmick setahu saya baru dibentuk. Apa itu Gimmick, dan bagaimana sampai muncul ide untuk menggelar BYPF 2008?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VV: BYPF ini bakal menjadi triger untuk mengembalikan sentralisasi kegiatan kreativitas di Bandung ke Saparua.
Mengapa bergabung dengan Helarfest? Apa tujuan serta untung dan ruginya?
EB: Karena Helarfest sejalan dengan semangat kita terutama dalam hal spirit kreatif generasi muda. Untungnya Helarfest sudah mendapat support dari banyak pihak, terutama pemerintahan. Pemprov, Pemkot, indag, kepolisian dan sebagainya. Jadi kita ikut terbantu dengan itu semua, terutama masalah perizinan. Ruginya, tadinya kita tidak memplot BYPF 30 Agustus karena butuh biaya besar, sehingga segalanya serba mepet. Jadi waktu kita kurang dari dua bulan, dan ini jadi masalah untuk mencari sponsor. Akhirnya kita menjalankan BYPF 2008 dengan "hidup adalah udunan". Yang paling krusial adalah, Ketua BCCF sebagai penggagas Helarfest sampai menggadaikan Harley Davidson yang adalah istri keduanya.
Apa target dari penyelenggaraan BYPF? Bagaimana hasilnya?
EB: Targetnya menunjukkan kembali ke publik bahwa Saparua adalah tempat kita bersama. Kedua, membuktikan bahwa line-up band kita yang diisi oleh band yang dicap sebagai pemicu kerusuhan, tidak terbukti. Dan itu tercapai. Walau pun event harus terhenti di tengah jalan. Kampanye bahwa Saparua akan dijadikan sebagai Bandung Youth Park, ini juga tercapai.
VV: Kita ingin mengingatkan pada publik bahwa Saparua adalah legenda bagi musisi-musisi Bandung. Dan mengenalkan kepada generasi muda yang kurang mengetahui sejarah Saparua.
Saat event, baru setengah penonton yang datang dan acara dihentikan menjelang magrib. Akibatnya banyak yang kecewa karena baru datang, bahkan belum sempat menyaksikan band-band yang tampil. Apa sebenarnya yang terjadi.
EB: Izin dari kepolisian awalnya memang sampai jam 9 malam. H-1 diubah menjadi sampai jam 5 sore, alasannya tanya saja ke kepolisian. Hujan turun lebat sekali, sound system sempat terganggu tetapi tidak lama. Polisi tetap meminta event berhenti. Kita coba dialog dengan kepolisian, dan memang tidak melihat ada celah agar acara tidak berhenti. Ada faktor X di belakang ini yang bisa kita katakan sebagai forcedmajeur.
Para talent yang ada di run-down acara, siapa yang sudah dan belum tampil?
EB: Yang saya ingat, di panggung luar yang sudah tampil, Forgotten, Keparat, Turtle Jr, Beside, Bleed Chorus, Don Juan The Monkey, Super Abundance, Nicfit, Tcukimay. Yang belum, The Bohay, 70's Orgasm Club, Take A Stand, Rosemary, Alone At Last, Time Bomb, The S.I.G.I.T, Jeruji, Burgerkill.
VV: Di dalam GOR ada Bottle Smoker, These R Fake, New Ride, Alleznina, Reggiebadh, Baby Eat Cracker, Europe In De Tropen, Souldelay, Homogenic, The Milo, Mocca, Vincent Vega. Yang belum main, Polyester Embassy, Mobil Derek, RNRM dan Pure Saturday.
Bagaimana reaksi mereka terhadap kejadian kemarin?
EB: Mereka kecewa, mempertanyakan apa penyebabnya. Kita jawab dengan jawaban persuasif, akhirnya mereka bisa mengerti. Dan pulang dengan tertib. Beberapa puas, biarpun hanya sampai magrib.
VV: Mereka cukup kecewa tetapi mengerti situasi dan kondisinya.
Meski acara terhenti yang menyebabkan kekecewaan penonton, tetapi kekhawatiran terjadi kerusuhan tidak terbukti. Bagaimana tanggapannya?
EB: Salut setinggi-tingginya untuk semua yang datang hari itu, baik penonton, satuan pengamanan internal, talent, seluruh panitia dan relawan yang cabutan saat itu. Terutama penonton yang bisa mengerti dan menjaga ketertiban dan keamanan sampai area clear. Sehingga image event seperti ini terjaga dengan baik.
VV: Kita sangat respect sama audiens dan talents yang telah kecewa dengan kondisi seperti ini. Tetapi hikmahnya, image acara seperti ini menjadi lebih baik tanpa ada kerusuhan. Karena selama ini image acara yang melibatkan band-band underground selalu dikaitkan dengan kerusuhan dan keributan.
Kabarnya panitia nombok sampai Rp 300 juta lebih, apakah benar? Dari mana sebenarnya sumber dana untuk penyelenggaraan?
EB: Bukan nombok, tapi hutang. Rp 345 juta, termasuk untuk mengembalikan Harley Davidson. Sumber dana sampai saat ini masih berusaha untuk mengetuk pintu teman-teman yang consern dan memang punya uang untuk dipinjamkan. Kita akan kembalikan, tetapi kita tidak bisa menjaminkan apa-apa. Kita juga sedang berusaha untuk memohon bantuan pemerintahan dan jajaran terkait yang mensupport dari awal. Karena bagaimana pun juga BYPF tidak lepas dari Helarfest.
Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari BYPF 2008, terkait rencana ke depan?
EB: Kita sudah mencapai High achievement bahwa underground itu tidak selalu rusuh. Ini modal utama kita untuk menggelar event di masa mendatang. Kerugian materil tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apabila ada kerusuhan apalagi sampai menimbulkan korban luka atau jiwa. Insya Allah segera dengan dukungan semua pihak, kita akan menggelar kembali BYPF. Payback-lah ceritanya. Dalam waktu dua hari tapi hanya sampai magrib.
VV: Saya sudah buatkan konsep untuk BYPF tahun depan dengan membawa empat band internasional. Saat ini saya sudah aproach ke band-band tersebut. (lom/lom)











































