BISNIS MUSIK MEMBUTUHKAN TOTALITAS

Log Zhelebour

BISNIS MUSIK MEMBUTUHKAN TOTALITAS

- detikNews
Kamis, 08 Apr 2004 09:49 WIB
Jakarta - "Music washes away from the soul the dust of everyday life", demikian Johann Sebastian Bach musikus mashyur menggambarkan pentingnya musik sebagai bagian dalam hidup ini. Musik memberi kesejukan pada manusia sebagai penyeimbang dalam beraktivitas. Tidak salah jika musik kini berkembang menjadi industri yang menjanjikan keuntungan ekonomi yang besar. Sesuatu yang berbeda dengan pandangan sebagian besar orang di masa lalu yang menganggap karir musik berarti sebatas hobi.John Grant, penulis buku "After Image" mempertegas sinyalemen ini. Dalam bukunya itu ia mengatakan bahwa manusia kini memasuki fase di mana dalam beraktivitas harus melibatkan tiga hal sekaligus, yaitu work, leisure dan learning. Implikasinya berbagai produk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia menjadikan musik sebagai salah satu unsur leasure yang dominan dalam kegiatan sehari-hari.Lihat saja Produk Handphone, menyediakan beragam deringan musik(ringtones) dan jenis lagu. Pada PC dan laptop hampir dapat dipastikan terdapat banyak jenis lagu dan musik yang dapat Anda nikmati sambil bekerja. Berbagai institusi pun kini mengadopsi hal yang sama. Di Program Pasca Sarjana FE UI yang saya asuh, hampir setiap sisi ruangan dipasang speaker yang sepanjang hari melantunkan suara musik mengiringi aktivitas perkuliahan mahasiswa. Sesuatu yang biasanya hanya dijumpai di mal-mal tempat Anda berbelanja.Musik memang milik siapa pun, ia menjadi kebutuhan dan terus berkembang dengan aliran masing-masing. Beberapa entrepreneur pun membidiknya sebagai peluang bisnis yang cukup besar. Rekan saya Adrie Subono, mengakui bahwa dengan bisnis musik perusahaannya Java Musikindo dapat meraup untung yang lumayan, maklum saja Adrie adalah seorang entertainer yang sering mendatangkan artis-artis kelas dunia, seperti Westlife, the Corrs hingga Mariah Carey yang tampil di Jakarta tanggal 15 Februari 2004 lalu.Namun berbeda dengan Adrie yang kebanyakan "mengurus" artis impor, tamu saya semalam adalah seorang promotor terkenal yang telah mengorbitkan berbagai grup band yang kita kenal saat ini khususnya rock. Log Zhelebour adalah nama yang tidak asing lagi. Dia berada di balik kebesaran group rock legendaris God Bless yang berjaya di era 80-an, Power Metal serta grup Jamrud yang lagi naik daun saat ini. Nicky Astria dan Mel Shandy, dua rocker wanita yang sempat melambung juga sempat ditanganinya. Log panggilan akrab pria asal Surabaya ini memang akrab di belantara musik rock nasional. Kiprahnya di balik layar menjadi jaminan kesuksesan musisi yang ditanganinya."Mereka yang mau bersabar dan tunduk pada manajemen kami akan mendulang hasilnya" demikian pengakuan log saat ditanya. Pria yang memulai bisnisnya sejak tahun 1977 ini memulai usahanya berbekal kecintaannya terhadap musik, meskipun ia sendiri tidak pandai bermain musik. Namun kecerdasan dan totalitasnya menggeluti apa yang dicintainya, membuatnya menjadi promotor yang sangat disegani di tanah air.Tidak semua orang mampu melakukan apa yang digeluti log, sebab semuanya menuntut kejelian dan ?strategi?. Sebuah karya musik saat ini menjadi lebih enak terdengar di telinga konsumennya karena melibatkan banyak pihak, mulai dari pencipta, penyanyi, teknologi pendukung, promotor hingga strategi pemasarannya. Semua bisa terintegrasi dan ber-simbiosis mutualisme hanya jika ditangani oleh manajemen yang profesional.Oleh karena itu 'skill'. yang tinggi sangat dibutuhkan dalam bisnis seperti ini. Bagi entrepreneur yang memutuskan menjadikan musik sebagai lahan bisnis mereka, paling tidak terdapat empat hal yang harus dipenuhi, yaitu: Pertama, Business Skill, yaitu kemampuan manajerial untuk melakukan koordinasi dengan seluruh elemen yang terkait, mulai dari pencipta lagu, aransemen, grup band, dan semua hal yang berkaitan hingga sebuah lagu dapat di-deliver dan mendapat respon pasar yang memadai. Syukur-syukur menjadi salah satu hits yang disukai. Dalam konteks ini pula seorang pebisnis seharusnya dapat menentukan company paperwork-nya termasuk deal dengan pihak lain secara detail agar hasil optimal dapat diraih.Kedua, Musical Skills. Manajemen yang baik tidak berarti apa-apa jika keterampilan yang dimiliki pemusik sangat pas-pasan. Kondisi ini akan diperburuk jika penanganannya juga tidak memadai. Banyak grup musik yang berusaha ditonjolkan, termasuk dengan menggunakan promotor terkenal harus gagal, sebab tidak memiliki talenta yang cukup untuk bersaing dengan pemusik lain yang lebih berkualitas. Kebanyakan mereka menghilang setelah dapat muncul sekali, atau jika muncul lagi pasar tidak memberi respon yang memadai. Intinya baik promotor maupun grup musiknya harus memiliki pengetahuan mendalam terhadap musik yang digelutinya.Ketiga, Psychological Skill. Sudah selayaknya seorang promotor harus bisa meng-handle bakat para musisinya, mereka harus bisa bergerak sesuai kemampuan, bahkan memahami "mood" mereka dalam rangka menemukan the best performance-nya. Dalam banyak hal tuntutan bekerja sepenuh hati mutlak diperlukan meskipun harus berada di bawah tekanan (under stress).Keempat, Technical Skill. Kemampuan teknikal ini dibutuhkan untuk menemukan efek maximum dari apa yang sedang digarap. Para musisi dan promotor hendaknya tidak pernah berhenti melakukan eksperimen dengan perangkat yang mereka miliki. Saat ini bantuan teknologi ikut menentukan performa musik yang dihasilkan. Oleh karena itu bereksperimen untuk menemukan performa terbaik dari perlengkapan yang dimiliki seharusnya menjadi salah satu faktor yang harus terus dikembangkan.Akhirnya menekuni musik sebagai basis bisnis memang tidak mudah sebab kondisinya sarat dengan hal-hal detail yang menuntut keahlian dan melibatkan banyak pihak. Harus digarisbawahi bahwa musik adalah 'art' yang senantiasa menuntut talenta yang tinggi dari para peminatnya. Namun ke depan bisnis musik tetaplah menjadi lahan ekonomi yang menggiurkan, asal ditangani oleh manajemen profesional. Hal ini berarti bahwa tangan dingin para promotor tetap dituntut perannya.Artikel ini pernah dimuat di harian sore SUARA PEMBARUAN tanggal 18 Februari 2004. (rnld/)


Berita Terkait