Bpk. Priyo Utomo dan Ibu Listiana Srisanti
Harry Potter Menyihir Pembaca
Sabtu, 20 Apr 2002 12:02 WIB
Jakarta - BUKU Harry Potter mampu menyihir masyarakat pembaca di seluruh dunia. Dalam waktu singkat buku ini diterbitkan di 35 negara dan telah terjual di atas 250 juta eksemplar. Cerita yang penuh kompleksitas dan imajinasi menjadi kekuatan buku ini. Buku ini ternyata tidak hanya enak untuk dibaca tapi juga menguntungkan dari sisi bisnis. Karena itu, penerbit buku Gramedia tertarik untuk menerbitkannya dalam versi Indonesia. Perkiraan bahwa buku ini sangat laku keras ternyata tidak meleset. Bayangkan dalam waktu yang relatif singkat Gramedia mampu menjual hingga 600.000 eksemplar. Β Β Β Β Dalam Acara Bedah Bisnis Rhenald Kasali di TPI tanggal 25 Februari 2004, Priyo Utomo, Direktur Eksekutif Gramedia Pustaka Utama, dan Listiana Srisanti, Manajer Produksi Fiksi Gramedia, mengatakan, kemampuan melihat peluang dan berani mengambil keputusan merupakan faktor pendorong utama penerbitan buku ini. Berikut ini, petikan wawancara mereka:Faktor apa yang membuat Anda yakin bahwa penerbitan buku Harry Potter akan berhasil?Β Β Β Β Sebelum mengambil keputusan, kita lebih dahulu mengadakan diskusi. Dalam diskusi itu kita lihat, buku Harry Potter ini bakal laku keras, karena sudah ada di mana-mana dan mempunyai gema yang luar biasa. Bayangkan dalam waktu singkat buku ini sudah diterbitkan di 35 negara.Bagaimana Anda menerjemahkan buku ini, sehingga isinya tetap menarik seperti buku aslinya?Kebetulan ada yang tidak diterjemahkan, misalnya, nama bola dan nama permainan. Selain itu, ada beberapa kata tertentu yang tetap dipertahankan seperti aslinya, misalnya kata-kata mantra. Kami menilai Rowling sangat pandai dalam bermain kata-kata dan menguasai banyak bahasa, sehingga kadang-kadang beberapa kata sulit dicari padanannya. Ada beberapa kata yang tidak ada dalam kamus. Untuk itu kami menulis surat kepada Rowling untuk menjelaskan maksud dari istilah yang digunakan. Kalau sulit, kami biasa mencari arti kata itu dalam kamus keenam.Apa saja suka-duka dalam mempersiapkan penerbitan buku ini?Ketebalan buku ini menimbulkan masalah tersendiri, terutama pada saat dijilid. Kami terpaksa menjilid dua kali, pertama dengan lem dan kedua dengan benang. Tapi mesin cetak di Gramedia, meskipun bekerja 24 jam, sehari hanya bisa menghasilkan 2200 buku. Jadi untuk menjilid 150.000 eksemplar membutuhkan waktu dua setengah bulan. Karena itu, Gramedia mencari partner yang dipercaya dan berkualitas. Selain itu, ada masalah lain, yaitu lem di percetakan hanya bisa me-lem buku setebal 3,5 cm padahal Harry Poter ini tebalnya 5,4 cm. Karena itu kita harus pakai tangan. Satu orang untuk satu jam pertama, 35 buku. Tapi karena pada waktu itu masih lebaran maka kita menyewa orang untuk membuat punggung buku.Berapa jumlah yang terjual di seluruh dunia hingga saat ini?Β Β Β Β Data terakhir yang dikeluarkan pada tanggal 17 November 2003, sebanyak 250 juta eksemplar. Tapi sekarang kita belum tahu berapa lagi yang terjual. Hanya, dalam perkembangan terakhir ini, buku kelima Harry Potter sudah diterbitkan di 35 negara. Karena itu saya kira, hingga saat ini bisa terjual melampaui 250 juta buku. Untuk Indonesia saja Harry Potter kelima terjual hingga 210.000 eksemplar. Padahal kita baru meluncurkan buku ini pada tanggal 11 Januari 2004 lalu.Apakah angka penjualan 210 ribu itu termasuk besar atau kecil?Β Β Β Β Saya kira termasuk besar. Selama ini belum pernah ada penjualan yang mencapai 210 eksemplar dalam waktu singkat. Jadi ini baru pertama di Indonesia. Angka penjualan dari buku pertama hingga kelima terus mengalami peningkatan, misalnya, buku pertama dicetak sebanyak 15.000 dan kemudian dicetak ulang. Buku kedua sebanyak 50.000 ribu, buku ketiga 80.000 ribu, keempat 100 ribu, dan kelima sebanyak 150.000. Tapi karena pada 15 Desember 2003 buku kelima ini habis terpesan, maka kita mencetak kembali sebanyak 60 ribu buku, sehingga mencapai 210 ribu. Ini merupakan rekor baru dalam penjualan buku di Indonesia.Bagaimana strategi pemasaran buku ini?Β Β Β Β Dari buku pertama hingga keempat, kita melakukan promosi standar. Kemudian untuk penerbitan buku kelima, kita lebih dahulu berdiskusi dengan teman-teman. Kita menargetkan buku kelima dicetak sebanyak 300 ribu eksemplar, mengingat banyak pesanan. Lalu kita buat sedikit sensasi yaitu mengadakan konvoi tengah malam. Kita menjual langsung buku itu pada jam 12.00 malam kepada konsumen. Saat konvoi itu kita bawa sebanyak 300 eksemplar dengan tiga mobil. Saat itu pembeli mengikuti kita. Strategi ini ternyata cukup efektif, karena menarik banyak media cetak dan elektronik untuk diliput jadi berita. Akibat publikasi itu, anggaran untuk iklan tidak banyak. Selama ini kita baru dua kali pasang iklan.Bagaimana animo masyakat Indonesia menyambut buku ini dibandingkan dengan negara lain?Β Β Β Β Kalau dibandingkan dengan Jerman mungkin kita kalah. Bayangkan di Jerman dari buku pertama hingga buku keempat sudah berhasil menjual 6 juta eksemplar. Sedangkan di Inggris, Harry Potter kedua terjual 6000 eksemplar untuk empat minggu pertama. Buku ketiga, terjual 153.000 eksemplar. Buku keempat, satu bulan pertama terjual sebanyak 648.000 buku. Sedangkan Gramedia baru bisa menjual sekitar 600.000 eksemplar.Apa sebetulnya tujuan J.K. Rolling menulis buku ini?Β Β Β Β Ia menulis buku ini sebetulnya untuk dirinya sendiri. Namun, dalam perkembangannya, buku ini tidak hanya disukai oleh anak-anak tapi juga orang dewasa. Pembacanya berumur 9 hingga 99 tahun. Meskipun kompleksitas ceritanya tidak terlalu mudah, tapi buku ini kaya dengan imajinasi, sehingga ini yang membuat anak-anak tertarik untuk membacanya. (GOLO RIWU dan SIFFI MASDI)Tanya Jawab dilakukan oleh Rhenald Kasali PhD dan ditulis kembali oleh Golo Riwu dan Siffi Masdi.Artikel ini pernah dimuat di harian sore SUARA PEMBARUAN tanggal 25 Februari 2004.
(rnld/)











































