Herman Wilianto
Berbisnis dengan Memanfaatkan Feng Shui
Senin, 01 Mar 2004 09:45 WIB
Jakarta - Sebuah stasiun televisi pernah menayangkan dialog yang cukup menarik antara seorang pawang hujan bernama Ki Narto dengan Pak Paulus, Pakar cuaca senior dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Pada Saat Pak Paulus bilang bahwa kondisi cuaca termasuk hujan, mendung, atau matahari akan bersinar terang, adalah merupakan dampak dari perubahan kondisi fisikawi alam, Ki Narto tak memungkirinya. Tapi Ki Narto kemudian menyatakan bahwa dengan energi yang dimilikinya manusia bisa mempengaruhi perubahan alam itu. Mendung di atas Gelora Olah Raga Bung Karno di Senayan misalnya, sesungguhnya terjadi karena mendung itu terseret oleh angin menuju ke situ. Jika anginnya dibelokkan, katakanlah ke Serpong, maka hujan tak akan turun di Senayan, tapi Serponglah yang bakal terguyur air.Anda boleh saja seribu kali menyatakan ketidakpercayaan terhadap kemampuan Ki Narto atau pawang hujan yang lain, tetapi pada saat yang sama para pawang hujan tetap saja akan kebanjiran order dari para pemakai jasanya. Para pengguna jasa pawang itu mungkin juga tak bisa menjelaskan apa kaitan antara sapu lidi yang didirikan dengan posisi terbalik dan diberi bumbu dapur pada ujungnya dengan berpindahnya guyuran air hujan. Yang mereka tahu, setelah mengundang pawang hujan, hajatan mereka selalu berjalan lancar tanpa terganggu guyuran air dari langit. Dalam acara itu seorang manajer di sebuah production house ikut berbicara. Dia mengaku sebagai pelanggan tetap pawang hujan. "Dengan menggunakan jasa mereka shooting film di luar ruangan tak pernah terganggu oleh guyuran hujan. Saya tak pernah peduli bagaimana cara sang pawang bekerja, tapi saya merasakan manfaat dari jasa mereka," kata sang manajer itu. Saya yakin, pemanfaatan jasa seorang ahli feng shui pun sebenarnya tak berbeda dengan pemanfaatan pawang hujan tadi. Orang kebanyakan akan susah mengerti logika mereka, tapi mereka bisa merasakan sesuatu yang lebih baik setelah mengikuti nasihat dari ahli feng shui. Dengan kata lain, kepercayaan atas feng shui bukan lahir dari proses berpikir, tapi dari proses merasakan. Cuma, hebatnya, orang yang percaya pada kehandalan perhitungan feng shui itu sangatlah besar.Sebuah survei di Hong Kong menemukan fakta bahwa 80% masyarakat negeri itu mempercayai perhitungan feng shui. Pakar feng Shui yang pernah menjadi tamu saya dalam acara Bedah Bisnis Rhenald Kasali yang pernah ditayangkan di TPI pada hari Selasa tanggal 25 Februari 2003 silam, Pak Herman Wilianto, Ph.D, juga pernah melakukan survei mengenai hal ini. Menurut Direktur Utama PT Yin Yang ini, 35% dari 450 responden yang berasal dari kalangan menengah ke atas di sekitar Padalarang, Jawa Barat, juga mengakui mempercayai feng shui.Boleh jadi, lantaran besarnya persentase orang yang mempercayainya ini, feng shui lantas menjadi salah satu mata kuliah wajib di jurusan arsitektur berbagai perguruan tinggi. Ini bisa dipahami. Jika tak paham feng shui, mungkin saja seorang arsitek akan membuat desain rumah dengan tiga kamar berjajar atau keran air di dapur berhadapan dengan kompor-- sesuatu yang amat diharamkan menurut feng shui.Orang kebanyakan tentu susah mengerti kenapa kamar berjajar tiga diharamkan. Hal itu sama susah dimengertinya dengan perkiraan Pak Herman Willianto bahwa bisnis barang-barang dari kayu akan berkembang pesat pada tahun 2003. Pak Herman bilang, bahwa perkiraannya itu didasari perhitungan bahwa shio tahun ini adalah kambing air. "Kambing itu energinya tanah, energi yang muncul dari bumi itu sifatnya tanah dan tanah lemah. Energi air itu dari atas, langit. Kombinasi ini membuat tanah menjadi lembab dan tumbuh kayu. Jadi energi kayu akan banyak berkembang, atau bisnis berenergi kayu akan bagus selama tahun ini," katanya.Saya sendiri melihat feng shui ini lebih dari sudut motivasi. Seseorang yang sudah memenuhi aturan feng shui tentu memiliki keyakinan diri lebih tinggi. Secara teoritis, makin besar motivasi yang muncul dari seseorang, akan makin besar pula peluangnya untuk menoreh sukses. ***Artikel ini pernah dimuat di harian sore SUARA PEMBARUAN tanggal 26 Februari 2003.
(rnld/)











































