×
Ad

Mengapa Penolakan terhadap Pusat Data Makin Masif?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 28 Okt 2026 17:03 WIB
London -

Ilustrasi pusat data (BBC)

Hingga beberapa tahun yang lalu, banyak dari kita mungkin sama sekali tidak menyadari apa itu pusat data.

Bangunan-bangunan raksasa yang mirip gudang ini mendukung hampir seluruh aktivitas internet kita, mulai dari pencarian web dan email hingga unduhan film atau perbankan online.

Mereka berada di jantung perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI). Fungsinya adalah untuk menampung chip komputer canggih dan server yang diperlukan guna menjalankan layanan seperti ChatGPT dan Claude.

Namun, laju pertumbuhannya yang drastis, jumlah listrik yang sangat besar yang dikonsumsinya, serta kekhawatiran mengenai dampak lingkungannya memicu reaksi keras dari masyarakat di seluruh dunia.

Di AS, isu ini telah menjadi perdebatan besar menjelang pemilihan sela pada 3 November, dengan Republik maupun Demokrat sebagai oposisi sama-sama menentang pengembangan pusat data.

Hal ini menempatkan para penentang perluasan pusat data pada jalur bentrokan dengan Presiden AS Donald Trump, yang telah menepis penolakan tersebut sebagai "konspirasi gila", meskipun kemarahan publik terus meningkat.

Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang perkembangan pesat pusat data dan mengapa penolakan terhadapnya semakin meluas.

Makin pesat

Menurut Data Center Map, sebuah perusahaan yang memantau lokasi-lokasi yang sudah beroperasi maupun yang masih dalam tahap pra-operasi, terdapat sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 2021, ketika terdapat sekitar 8.000 lokasi yang sudah beroperasi.

Baca juga:

Sebagaimana ditunjukkan pada grafik di bawah ini, pusat data paling padat terkonsentrasi di AS yang memiliki 4.767 lokasi. Posisi berikutnya adalah di UK dan Jerman.

Pusat data biasanya berlokasi di dekat kota-kota karena akses ke saluran listrik tegangan tinggi atau sumber air untuk pendinginan lebih mudah.

Namun, seiring dengan semakin besarnya skala pusat data, semakin banyak pula yang dibangun di daerah pedesaan.

Persebaran pusat data di dunia (BBC)

Namun, dalam hal kapasitas aktual, AS unggul dengan selisih yang jauh lebih besar, diikuti oleh China di posisi kedua, sementara Eropa tertinggal jauh di belakang.

Kesenjangan ini diperkirakan akan semakin melebar dalam beberapa tahun mendatang, sehingga beberapa pihak memperingatkan bahwa Eropa berisiko kehilangan potensi manfaat ekonomi dari booming kecerdasan buatan (AI).

Kapasitas pusat data per negara (BBC)

Ukurannya kian besar

Ukuran pusat data sangat bervariasi, mulai dari yang muat di dalam gudang kebun hingga yang menempati lahan amat luas.

Pusat data terbesar di dunia dilaporkan berada di Hohhot, Mongolia, dengan luas mencapai satu juta meter persegi, atau setara 140 kali lapangan sepak bola standar FIFA. Pusat data ini dimiliki China Telecom.

Namun, lokasi-lokasi yang jauh lebih besar sedang dalam tahap pembangunan, seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Rincian ukuran pusat data (BBC)

Semua lokasi ini dibangun secara eksklusif untuk menyediakan daya komputasi yang sangat besar untuk menjalankan layanan AI.

Misalnya, Colossus 2, yang merupakan bagian dari kompleks Colossus yang lebih luas di AS.

Colossus 2 akan menampung ratusan ribu chip AI canggih buatan raksasa teknologi Nvidia. Fasilitas ini juga akan digunakan untuk melatih chatbot xAI, Grok.

Perusahaan milik Elon Musk akan menggunakan 41 turbin gas metana untuk membantu menyuplai daya ke lokasi tersebut, yang menurut para aktivis dapat "secara signifikan meningkatkan" polusi udara lokal.

Regulator setempat menyatakan bahwa turbin-turbin tersebut akan memenuhi standar kualitas udara.

Pusat data milik Elon Musk (BBC)

Menghabiskan listrik lebih banyak ketimbang Prancis

Tekanan yang ditimbulkan oleh pusat data terhadap sumber daya lokal telah memicu kekhawatiran yang semakin besar.

Fasilitas-fasilitas ini dapat menggunakan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan sistem mereka, yang menurut beberapa ahli berpotensi menyebabkan kelangkaan air.

Baca juga:

Pusat data di seluruh dunia juga diperkirakan mengonsumsi listrik lebih banyak daripada seluruh Prancis, seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Analisis menunjukkan bahwa meningkatnya kebutuhan akan listrik ini mendorong kenaikan emisi karbon, sekaligus memberikan tekanan pada jaringan listrik lokal, yang dikhawatirkan oleh sebagian pihak dapat memicu kenaikan harga energi.

Di sisi lain, ada pula yang khawatir dengan kebisingan yang ditimbulkan pusat data serta ruang yang mereka tempati, sehingga reaksi negatif dari masyarakat semakin menguat.

Sekitar 16 negara bagian di AS telah mengusulkan undang-undang untuk melarang atau menghentikan sementara pembangunan fasilitas baru, dan hal ini berpotensi menjadi isu utama dalam pemilihan sela (midterm election) pada November mendatang.

Di luar AS, penolakan terhadap pusat data juga muncul di negara-negara seperti Meksiko, Prancis, Indonesia, dan Inggris.

Klaim yang berulang: menciptakan lapangan pekerjaan

Para pendukung pusat data berpendapat bahwa fasilitas tersebut sangat penting bagi keamanan nasional dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Mereka juga menyatakan bahwa pusat data bermanfaat bagi perekonomian, karena menarik investasi, menghasilkan penerimaan pajak, dan menciptakan lapangan kerja di sektor-sektor seperti konstruksi.

Laporan terbaru dari Brookings Center menunjukkan bahwa pusat data memang menciptakan lapangan kerja lokal, meskipun jumlahnya lebih sedikit daripada yang diklaim oleh para pendukung industri ini.

Jenis pusat data juga berpengaruh. Laporan tersebut menemukan bahwa fasilitas yang disebut "hyperscale" yaitu lokasi berskala besar yang dimiliki dan dioperasikan oleh raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft memiliki dampak positif yang lebih besar terhadap lapangan kerja.

Namun, fasilitas "colocation", yang menyewakan ruang kepada penyewa jarak jauh tanpa kehadiran fisik di lokasi tersebut, memberikan manfaat yang lebih sedikit.

Seiring dengan semakin memanasnya perdebatan mengenai manfaatnya, pembangunan pusat data terus berlanjut.

Tahun ini, industri teknologi diperkirakan akan menghabiskan total US$765 miliar untuk infrastruktur AI. Angkanya diperkirakan naik melampaui US$1 triliun di 2027.

Namun, seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, industri teknologi sedang menjajaki alternatif-alternatif lain.

Salah satu gagasannya adalah menempatkan pusat data di luar angkasa atau di Bulan, di mana pusat data tersebut dapat memanfaatkan energi surya yang melimpah.

Pihak lain memperkirakan bahwa pemrosesan AI yang lebih banyak pada akhirnya dapat dilakukan oleh perangkat keras yang sudah ada di dalam komputer dan ponsel cerdas kita, sehingga mengurangi kebutuhan akan pusat data berskala besar secara keseluruhan.

Laporan tambahan dan desain oleh Erwan Rivault, Matt Faraci, dan Dominic Bailey.

Lihat juga Video Begini Kondisi Pembangunan Data Center Purwakarta Usai Disetop KDM




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork