Xi Jinping Disambut Meriah Trump, Tapi Tak Semua Keinginannya Terpenuhi

Xi Jinping Disambut Meriah Trump, Tapi Tak Semua Keinginannya Terpenuhi

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 25 Sep 2026 14:41 WIB
Xi Jinping Disambut Meriah Trump, Tapi Tak Semua Keinginannya Terpenuhi
Washington DC -

Meski disambut dengan upacara kenegaraan meriah dan jamuan makan malam di Gedung Putih, Presiden China Xi Jinping tidak mendapatkan semua yang diinginkannya di Washington.

China meyakini Amerika Serikat berupaya membendung kebangkitannya sebagai kekuatan adidaya. Karena itu, Beijing ingin Washington tidak menghalangi jalannya, terutama dalam isu perdagangan, teknologi, dan Taiwan.

Namun, gencatan yang membuat kedua negara menghentikan perang tarif dan mencegah eskalasi lebih lanjut, hanya diperpanjang selama beberapa bulan, dari November hingga Januari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padahal, Beijing berharap perpanjangan itu berlaku setidaknya selama satu tahun, seiring upaya Xi melewati sisa masa kepresidenan Trump.

Artinya, sejumlah sengketa utama antara kedua negara, mulai dari tarif perdagangan, dominasi China dalam pasokan mineral tanah jarang, hingga akses terhadap cip canggih buatan AS, kembali ditunda penyelesaiannya ke putaran negosiasi berikutnya.

ADVERTISEMENT

Hal ini mengindikasikan bahwa AS ingin China berbuat lebih banyak untuk memenuhi bagiannya dalam kesepakatan sebelum Washington bersedia memberikan konsesi yang lebih bersifat jangka panjang.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memegang sebuah map di samping Presiden China Xi Jinping, sesaat sebelum Xi menyampaikan pidato dalam jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih, Washington.

Trump dan Xi hadiri jamuan makan malam di Gedung Putih (Reuters)

Kenyataan yang kurang nyaman bagi Xi adalah bahwa perekonomian domestik China sedang menghadapi tekanan.

Meski negara itu mencatat rekor ekspor ke berbagai penjuru dunia, konsumen di dalam negeri masih menahan belanja.

Angka pengangguran pada kalangan penduduk berusia muda tetap tinggi, sementara harga properti terus merosot di negara di mana sekitar 80% penduduk memiliki rumah sendiri.

Di tengah kondisi tersebut, perdagangan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi China. Karena itu, akses ke pasar luar negeri menjadi semakin penting bagi Beijing. Xi perlu melindungi ekspor China dari tarif tinggi seperti yang diberlakukan Amerika Serikat tahun lalu, yang berpotensi menghambat kinerja ekonomi negara itu.

Dalam isu Taiwan, Xi kembali menegaskan bahwa penjualan senjata AS kepada Taiwan merupakan garis merah bagi China.

Di sisi lain, Amerika Serikat terikat oleh undang-undang untuk membantu Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan sendiri, mempertahankan kemampuan pertahanannya.

Baca juga:

Pada Mei lalu, Xi memperingatkan Trump bahwa kesalahan dalam menangani isu Taiwan dapat membuat kedua negara "bertabrakan atau bahkan terjerumus ke dalam konflik".

Tak lama setelah itu, Trump menunda persetujuan paket penjualan senjata senilai US$14 miliar (sekitar Rp250 triliun) untuk Taiwan, dengan menyebutnya sebagai "alat tawar yang sangat baik" dalam negosiasi dengan Beijing.

Xi kemungkinan memanfaatkan celah tersebut dalam perundingan kali ini. Ia tampaknya berargumen bahwa menahan dukungan terhadap Taiwan dapat mengurangi risiko konflik.

Pada Kamis (24/09), Xi kembali menyatakan harapannya agar AS tetap berpegang pada "posisi yang benar" dengan menentang kemerdekaan Taiwan.

Namun Trump, yang tengah menghadapi tekanan dari kalangan Demokrat maupun Republik untuk terus mendukung Taiwan, sejauh ini belum memberikan tanggapan terbuka atas pernyataan pemimpin China tersebut.

Robot mengelas bodi kendaraan niaga energi baru di bengkel pengelasan kendaraan niaga milik Dongfeng Liuzhou Automobile Co., Ltd., di Liuzhou, Guangxi, pada 16 September 2026.

Perdagangan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi China (Getty Images)

Kedua pemimpin setidaknya membahas kecerdasan buatan (AI), meski belum jelas apakah mereka mencapai kesepakatan mengenai langkah-langkah pengamanan teknologi tersebut.

Perhatian banyak pihak tertuju pada kemungkinan munculnya keputusan konkret terkait AI, seperti kesepakatan untuk menggelar pertemuan tingkat tinggi, menyusul esai yang ditulis CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menyerukan perlambatan pengembangan AI agar teknologi itu dapat dibuat lebih aman.

Seruan tersebut muncul setelah salah seorang peneliti keselamatan AI senior di perusahaan itu memperingatkan bahwa terdapat "peluang lebih dari 10%" AI dapat menyebabkan kepunahan umat manusia.

Namun, selain pernyataan Xi mengenai pentingnya memastikan AI "selalu berada di bawah kendali manusia", tidak banyak informasi baru yang muncul dari pembahasan tersebut. Trump sendiri belakangan menyebut kekhawatiran bahwa AI dapat memusnahkan manusia sebagai "tipuan".

Dan tentu saja, ada satu hal lain yang tidak boleh dilupakan: panda.

Rencana pengiriman dua panda bernama Ping Ping dan Fu Shuang ke Atlanta pertama kali diumumkan pada April lalu. Kini, Xi mengatakan keduanya akan tiba dalam beberapa hari ke depan, menandai kembali bergulirnya diplomasi panda China.

Masih mungkin ada pengumuman lain dalam waktu dekat, mengingat kedua pemimpin dijadwalkan menikmati jamuan teh bersama dan mengunjungi Arsip Nasional AS pada Jumat.

Panda raksasa Le Le menikmati hidangan khusus Festival Pertengahan Musim Gugur di Ocean Park Hong Kong pada 23 September 2026.

Panda telah memainkan peran penting dalam diplomasi China (Getty Images)

Namun untuk saat ini, salah satu kemenangan terbesar Beijing dari pertemuan puncak tersebut mungkin justru terletak pada pencitraannya.

Sambutan mewah yang diberikan kepada Xi, mulai dari penyambutan langsung oleh Trump di bandara hingga jamuan makan malam kenegaraan yang menyajikan kakap laut berbalut wijen dan pakcoy muda rebus, disambut positif oleh banyak warga China yang mengikutinya dari tanah air.

Semua itu membantu memperkuat citra Xi di dalam negeri sebagai sosok yang setara dengan Trump.

Berbagai meme yang membandingkan kedua pemimpin tersebut pun ramai beredar di media sosial China.

Salah satu gambar yang populer memperlihatkan Trump meringis ketika pesawat pengebom melintas di atas kepala, sementara Xi tetap menunjukkan ekspresi datar.

Xi tampaknya telah menemukan cara untuk menghadapi salah satu pemimpin dunia yang paling sulit diprediksi.

Namun, sementara Trump berbicara tentang "persahabatan yang benar-benar luar biasa", Xi berfokus pada tujuan yang lebih besar: memastikan China mendapat tempat sejajar dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan adidaya dunia.

Panda, seremoni kenegaraan, dan kata-kata hangat mungkin dapat membantu memperhalus hubungan kedua negara.

Namun di balik semua kemegahan itu, persaingan antara dua negara paling berpengaruh di dunia ini tetap sengit seperti sebelumnya.



(nvc/nvc)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini