Horor Penembakan Sekolah Thailand, Siswa Kabur Memanjat Pagar

Horor Penembakan Sekolah Thailand, Siswa Kabur Memanjat Pagar

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2026 18:54 WIB
Para murid dan guru Sekolah Debsirin Nonthaburi menangis setelah peristiwa penembakan di sekolah tersebut, Jumat (07/08). (Getty Images)
Para murid dan guru Sekolah Debsirin Nonthaburi menangis setelah peristiwa penembakan di sekolah tersebut, Jumat (07/08). (Getty Images)
Jakarta -

Sedikitnya delapan orang tewas dalam insiden penembakan di Nonthaburi, Thailand, pada Jumat (07/08).

Pelaku yang diduga melakukan penembakan adalah seorang siswa laki-laki kelas 9 di Sekolah Debsirin Nonthaburi yang berusia 14 tahun. Menurut kepolisian, pelaku melepaskan tembakan ke arah guru dan rekan-rekan sesama siswa. Dia kemudian mengakhiri hidupnya.

Sejauh ini, korban tewas lainnya yang diketahui adalah lima guru di sekolah tersebut, serta kakek dan nenek pelaku di rumahnya. Belakangan, media Thailand melaporkan seorang pelajar juga tewas setelah menderita luka-luka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setidaknya 22 orang juga terluka dalam kejadian ini.

Video dari lokasi kejadian memperlihatkan staf sekolah bergegas mengevakuasi para siswa dari ruang kelas, sementara petugas kepolisian berupaya mencari pelaku penembakan.

Korban luka mendapat penanganan awal dari tim medis di lokasi sebelum dilarikan ke rumah sakit.

Insiden ini terjadi setelah penembakan lain di sebuah sekolah di Thailand selatan pada Februari lalu. Peristiwa tersebut kembali memicu pertanyaan mengenai mudahnya akses terhadap senjata api di Thailand, isu yang kini diperkirakan akan kembali menjadi sorotan.

Kepolisian Kerajaan Thailand dalam sebuah pernyataan menyatakan tengah melakukan penyelidikan atas insiden penembakan tersebut untuk mengungkap penyebab kejadian dan melanjutkan proses hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Apa yang diketahui soal pelaku sejauh ini?

Wakil Menteri Dalam Negeri Thailand, Polapee Suwanchawee, mengungkapkan bahwa pelaku terindikasi sangat gemar bermain gim, berdasarkan bukti yang ditemukan polisi di rumahnya.

Diketahui, pelaku selama ini tinggal bersama kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya telah bercerai.

Seorang guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa siswa itu dikenal sebagai "anak yang baik dengan prestasi akademik yang baik" serta tidak memiliki riwayat perilaku agresif.

Pistol kaliber 9 mm yang digunakan dalam aksi tersebut merupakan milik kakeknya, yang berprofesi sebagai guru, menurut keterangan Kolonel Polisi Thadsakorn Konthong. Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan tanda-tanda bahwa senjata tersebut didapatkan dari dalam kamar tidur sang kakek.

Media internasional dan lokal melaporkan bahwa senjata itu terdaftar secara legal dan memiliki izin resmi.

Baca juga:

Remaja itu disebut-sebut menembak kakeknya yang berusia 73 tahun dan neneknya yang berusia 74 tahun di rumah susun dua lantai mereka sekitar pukul 05.00 waktu setempat pada Jumat (07/08).

Masing-masing tewas akibat satu tembakan di kepala, kata seorang pejabat kepolisian Thailand.

Bagaimana kronologinya?

Setelah membunuh kakek-neneknya, remaja itu naik bus sekolah sambil membawa senjata api tersebut dan puluhan butir peluru, lapor kantor berita Reuters.

Dia kemudian mengikuti pelajaran pertamanya pada pukul 08.30 dan pelajaran keduanya pada pukul 09.20.

Sekitar setengah jam sejak kelas keduanya berlangsung, dia mengeluarkan senjata api dan mulai menembak.

Remaja tersebut diyakini pertama kali menembak para guru di lantai enam sekolah, menewaskan tiga orang guru.

"Dia kemudian berjalan menuruni tangga dan berpapasan dengan wakil kepala sekolah serta sekretaris kepala sekolah, yang sedang menaiki tangga untuk memeriksa situasi," kata Mayor Jenderal Polisi Dejrapee Kongdee kepada Reuters.

"Pelaku kemudian menembak dan membunuh keduanya di tangga."

Lokasi sekolah.

Lokasi sekolah tempat penembakan terjadi di Thailand. (BBC)

Polisi dikerahkan ke lokasi saat penembakan masih berlangsung. Mereka menemukan pelaku, yang saat itu sudah menembak dirinya sendiri, sekitar pukul 10.40, kata Dejrapee.

Lima orang meninggal dunia seketika dan sedikitnya 23 orang mengalami cedera.

Belakangan, media pemerintah Thailand dan Bangkok Post melaporkan seorang pelajar turut meninggal dunia.

'Saya tidak mengira itu suara tembakan'

Seorang siswa mengatakan kepada Reuters bahwa awalnya ia mengira suara tembakan saat insiden penembakan di sekolah itu adalah suara petasan atau seseorang yang sedang membenturkan sesuatu.

"Saya tidak mengira itu suara tembakan pada awalnya," katanya.

"Terdengar banyak letusan, 'dor dor dor'. Lalu suasananya hening. Setelah itu suara tembakan terdengar lagi."

Sejumlah siswa terlihat berlarian meninggalkan lokasi penembakan, sementara staf Sekolah Debsirin Nonthaburi tampak terpukul dan cemas saat menunggu di luar area sekolah.

Seorang pelajar menangis setelah lolos dari peristiwa penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi.Seorang pelajar dan ibunya menangis setelah lolos dari peristiwa penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi. (Reuters)

Seorang siswi kelas 8 yang masih mengenakan seragam sekolah berbicara kepada jurnalis BBC News saat berdiri di samping ibunya, menunggu dijemput di sebuah kios makanan di seberang sekolah.

"Saya sedang berdiri di depan guru ketika beliau ditembak. Saat itu beliau sedang berbicara dengan saya ketika pelaku datang dan menembaknya," katanya.

"Saya tidak bisa melihat apa-apa selain kepulan debu. Dia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Meja saya sangat dekat dengan posisi guru. Saya terpaksa memanjat pagar sekolah untuk melarikan diri bersama teman-teman lain."

Siswi tersebut tampak masih dalam kondisi syok. Sang ibu mengatakan putrinya sempat berkata kepadanya, "Saya pikir saya tidak akan pernah bisa bertemu Ibu lagi."

Penembakan di sekolah kedua tahun ini

Jurnalis BBC, Jonathan Head, melaporkan dari Bangkok

Kami mendapat informasi bahwa pelaku penembakan tampaknya menargetkan para guru. Penembakan berlangsung sekitar satu jam sebelum pelaku, seorang siswa berusia 14 tahun di sekolah tersebut, terlihat menembakkan senjatanya ke dirinya sendiri.

Pacar salah satu guru yang tewas tampak sangat terpukul. "Hal ini seharusnya tidak terjadi," katanya kepada wartawan sambil berusaha menahan air mata.

Sekolah Debsirin Nonthaburi terletak di kawasan pemukiman dan komersial perkotaan yang luas di utara Bangkok. Banyak orang yang bepergian dari sini ke ibu kota.

Di daerah Nonthaburi, sekolah tersebut sangat dikenal sehingga insiden ini akan berdampak sangat mendalam bagi masyarakat setempat.

Baca juga:

Peristiwa ini adalah penembakan di sekolah kedua di Thailand tahun 2026. Februari lalu, seorang kepala sekolah dan seorang siswi ditembak oleh seseorang berusia 18 tahun selama penyanderaan di sebuah sekolah di Thailand selatan.

Pada Oktober 2022, seorang warga berusia 34 tahun di provinsi Nong Bua Lamphu, Thailand timur, menewaskan 37 orang, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak prasekolah.

Masalah sebenarnya di Thailand, meskipun ada pembatasan kepemilikan senjata api, orang masih dapat memperoleh senjata tersebut, baik secara legal maupun ilegal dengan relatif mudah.

PM Thailand akan ketatkan aturan senjata api

Perdana Menteri Thailand berjanji untuk mengetatkan Undang-Undang Pengendalian Senjata menyusul aksi penembakan di sekolah, pada Jumat (07/08).

Berbicara setelah insiden tersebut, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa ia berencana mengajukan undang-undang yang membatasi kepemilikan dan membawa senjata api di tempat umum.

Dalam rancangan aturan baru itu, hanya pejabat pemerintah yang sedang menjalankan tugas yang diizinkan membawa senjata api.

Anutin mengatakan bahwa tragedi tersebut "seharusnya tidak terjadi."

"Saya tidak hanya merasa sedih terhadap para korban, tetapi juga sedih karena peristiwa ini bisa terjadi. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi di negara kita?" tambah Anutin.

Selama menjabat sebagai menteri dalam negeri, Anutin telah memperkenalkan sejumlah aturan pengendalian senjata, termasuk larangan sementara penerbitan izin senjata baru serta pembatasan impor senjata api.

Tingkat kepemilikan senjata api oleh warga sipil di Thailand adalah yang tertinggi di Asia Tenggara. Sekitar 10,3 juta senjata api berada di tangan masyarakat. Sekitar empat juta di antaranya diyakini dimiliki secara ilegal.

Negara tersebut memiliki undang-undang senjata yang ketat, yang dapat menghukum kepemilikan senjata ilegal dengan hukuman penjara hingga 10 tahun.

Namun, penegakan hukum terhadap aturan-aturan tersebut masih menjadi kendala.

Tonton juga video "Pelaku Penembakan di Thailand Ternyata Juga Bunuh Kakek-Neneknya"

(ita/ita)


Berita Terkait