Harapan Inggris untuk menjuarai Piala Dunia kandas setelah Argentina mencetak dua gol pada menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan dan memenangkan laga semifinal dramatis di Atlanta.
Tim asuhan Thomas Tuchel sempat berada di jalur menuju final Piala Dunia putra pertama Inggris sejak kesuksesan mereka pada 1966, setelah Anthony Gordon membawa The Three Lions unggul dalam laga sengit pada menit ke-55.
Namun, Argentina bangkit berkat inspirasi para pemainnya. Enzo Fernandez mencetak gol yang spektakuler lima menit menjelang laga usai, sebelum Lautaro Martinez menyundul umpan silang Lionel Messi untuk mencetak gol kemenangan pada masa injury time.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penantian Inggris untuk kembali meraih kesuksesan pun berlanjut. Mereka kini akan menghadapi Prancis dalam laga perebutan tempat ketiga, sementara Argentina akan berusaha mempertahankan gelar juara saat menghadapi Spanyol pada Senin (20/07) dini hari.
Atmosfer panas di dalam maupun di luar Stadion Atlanta tercermin dalam babak pertama yang berlangsung keras dan diwarnai 19 pelanggaran.
Wasit asal Amerika Serikat, Ismail Elfath, tampak kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan.
Fernandez sempat menjadi pemain yang paling dekat mencetak gol melalui tendangan jarak jauh yang tipis melenceng dari sasaran.
Namun, justru Inggris yang memecah kebuntuan ketika Morgan Rogers membenarkan kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mengirim umpan silang sempurna dari sisi kanan yang diselesaikan Gordon di tiang jauh.
Gol tersebut memicu respons Argentina. Inggris kemudian membutuhkan penyelamatan refleks yang brilian dari kiper Jordan Pickford untuk menggagalkan sundulan Nico Gonzalez.
Saat Inggris terus berada di bawah tekanan, Alexis Mac Allister menanduk bola yang membentur tiang gawang sebelum Argentina akhirnya menyamakan skor lima menit menjelang waktu normal berakhir. Fernandez menaklukkan Pickford yang tampil gigih melalui tendangan keras dari jarak sekitar 25 yard.
Tuchel menyiapkan timnya untuk mempertahankan kotak penalti dengan menempatkan empat bek tengah.
Namun, momentum Argentina tak terbendung. Mac Allister kembali menghantam tiang gawang sebelum pertahanan Inggris akhirnya runtuh pada menit ke-92, ketika Martinez mencetak gol yang memastikan kemenangan Argentina dalam semifinal yang memikat ini.
Analisis: Kehati-hatian Tuchel harus dibayar mahal
Inggris, seperti yang beberapa kali terjadi ketika kemenangan tampak sudah berada dalam genggaman mereka, termasuk di era Sir Gareth Southgate, tiba-tiba bermain terlalu berhati-hati. Dalam hal ini, pelatih kepala Thomas Tuchel juga harus memikul sebagian tanggung jawab.
Dari posisi yang relatif mengendalikan pertandingan, meski hanya relatif dalam atmosfer semifinal Piala Dunia yang begitu intens melawan Argentina, Tuchel dan timnya justru menyerahkan inisiatif permainan kepada lawan. Konsekuensinya terbukti sangat merugikan.
Mimpi menuju final mulai terlihat nyata setelah gol Anthony Gordon. Namun setelah itu, Inggris memilih bertahan lebih dalam dan menumpuk pemain belakang.
Keputusan memasukkan Ezri Konsa menggantikan pencetak gol Gordon saat laga menyisakan 18 menit menjadi salah satu simbol pendekatan tersebut.
Kali ini, strategi mengandalkan postur tinggi Dan Burn sebagai benteng pertahanan tambahan juga tidak membuahkan hasil.
Inggris terkurung di area penalti mereka sendiri dan terus-menerus berada di bawah tekanan. Tuchel mengubah formasi menjadi lima bek terlalu cepat, sebuah langkah yang justru mengundang tekanan lebih besar dari Argentina.
Pada akhirnya, pertahanan Inggris runtuh.
Di antara berbagai kekecewaan yang dialami Inggris dalam beberapa tahun terakhir, kekalahan ini mungkin menjadi yang paling menyakitkan.
Mereka sudah begitu dekat dengan final, tetapi sekali lagi harus menerima akhir yang pahit dan terasa begitu akrab.
Analisis: Messi kembali menjadi sumber inspirasi
Lionel Messi memang baru menunjukkan pengaruh besarnya pada fase akhir semifinal Piala Dunia yang penuh drama ini. Tapi ketika momen itu tiba, dia sekali lagi menjadi inspirasi utama bagi Argentina.
Dalam tim Argentina yang sejauh ini seolah menolak untuk kalah di Piala Dunia ini, Messi berperan penting dalam kebangkitan timnya.
Dia memberikan umpan yang berujung pada gol penyama kedudukan Enzo Fernandez melalui tendangan keras lima menit menjelang pertandingan berakhir.
Tak lama kemudian, Messi mengirim umpan silang dengan kaki kanannya yang disundul Lautaro Martinez menjadi gol kemenangan pada masa injury time, membuat Inggris harus menelan kekecewaan besar.
Performa Argentina meningkat setelah mereka meninggalkan pendekatan kontroversial yang mewarnai permainan mereka pada babak pertama.
Alih-alih mengandalkan upaya-upaya mengganggu ritme lawan, Argentina mulai mendominasi permainan dan secara fisik menguasai pertandingan saat Inggris semakin tenggelam dalam pendekatan bertahan.
Gelombang demi gelombang serangan pada menit-menit akhir akhirnya terlalu sulit dibendung oleh Inggris.
Kini, pada usia 39 tahun, Messi berpeluang menambah satu lagi gelar Piala Dunia ke dalam koleksi prestasinya.
Di final nanti, dia akan berhadapan dengan bintang muda Spanyol yang digadang-gadang sebagai penerus takhtanya, Lamine Yamal, serta tim juara Eropa yang tampil luar biasa saat menyingkirkan Prancis di semifinal lainnya.
Simak juga Video: Harry Kane Bicara soal Apa yang Salah dari Timnas Inggris










































