Australia saat ini sedang mengalami wabah difteri terbesar dengan kasus terbanyak ditemukan di Kawasan Australia Utara, Australia Barat, dan Australia Selatan.Hingga pertengahan bulan Mei 2026 lalu, tercatat ada 230 kasus difteri di Australia dengan satu warga Kawasan Australia Utara meninggal kemungkinan disebabkan oleh penyakit tersebut.
Para ahli mengatakan vaksinasi tetap menjadi cara teraman dan terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular ini dan mendesak masyarakat untuk memeriksa apakah mereka perlu mendapatkan suntikan penguat atau 'booster'.
Inilah penjelasan tentang penyakit itu.
Apa itu difteri?
Difteri adalah infeksi bakteri serius.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Australia (CDC), penyakit ini disebabkan oleh strain penghasil toksin dari bakteri Corynebacterium diphtheriae atau Corynebacterium ulcerans.
Penyakit ini dapat menginfeksi hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan, atau kulit.
Bagaimana penyebarannya?
Penyakit ini menyebar melalui dua cara, tergantung pada bagian tubuh mana yang terinfeksi.
Difteri pernapasan menyebar melalui tetesan dari batuk dan bersin.
Difteri kulit menyebar melalui kontak langsung dengan luka kulit yang terinfeksi.
Apa saja gejalanya?
Difteri pernapasan biasanya dimulai dengan demam, sakit tenggorokan, kehilangan nafsu makan, dan perasaan tidak enak badan secara umum, kata CDC.
Dalam beberapa hari, selaput tebal berwarna abu-abu keputihan dapat terbentuk di atas tenggorokan dan amandel, sehingga sulit untuk menelan dan bernapas.
Pada kasus yang parah, penyakit ini dapat menyumbat saluran pernapasan, menyebabkan kematian akibat sesak napas.
Sementara itu, difteri kutaneus menyebabkan luka kulit yang lambat sembuh, biasanya di lengan atau kaki. Menurut CDC, penyakit ini umumnya kurang parah dibandingkan bentuk pernapasan.
Bagaimana cara pengobatannya?
Pusat Penelitian dan Pengawasan Imunisasi Nasional (NCIRS) mengatakan kedua bentuk penyakit ini membutuhkan pengobatan antibiotik segera untuk membersihkan bakteri dan mengurangi penyebarannya.
Difteri pernapasan mungkin memerlukan antitoksin difteri, yang harus diberikan sejak dini sebelum toksin masuk ke dalam sel dan menyebabkan kerusakan permanen.
Namun, pasokan global terbatas karena kasusnya sekarang jarang terjadi dan produksi telah menurun.
Bahkan dengan pengobatan, CDC memperingatkan bahwa hingga 1 dari 10 orang dengan difteri pernapasan akan meninggal.
Bagaimana cara mencegahnya?
CDC mengatakan vaksinasi adalah perlindungan terbaik terhadap penyakit ini.
Kepala eksekutif AMSANT, Donna Ah Chee, mengatakan penting bagi masyarakat untuk melindungi diri mereka sendiri dan anggota keluarga mereka dengan selalu memperbarui vaksinasi.
"Di Wilayah Utara Australia, faktor-faktor seperti perumahan yang padat, keterpencilan, dan akses terbatas ke perawatan dapat meningkatkan penularan," katanya.
"Wabah ini cenderung berdampak paling besar pada orang-orang yang paling rentan di komunitas kita, seperti mereka yang berisiko lebih tinggi atau memiliki hambatan dalam mengakses layanan kesehatan, itulah sebabnya respon harus tepat sasaran, mudah diakses, dan aman secara budaya.
"Kami melihat bahwa orang yang divaksinasi jauh lebih kecil kemungkinannya untuk sakit parah. Tersedia pengobatan yang efektif, tetapi mendapatkan perawatan sejak dini sangat penting."
Mengapa kasus muncul kembali?
Otoritas kesehatan di Australia mengatakan wabah dapat terjadi ketika kekebalan menurun, tingkat penguat menurun, atau penyakit tersebut diimpor melalui perjalanan luar negeri.
Kepala petugas kesehatan di Kawasan Australia Utara, Paul Burgess, mengatakan penyakit ini terutama menyerang penduduk asli Wilayah Utara, dengan 93 persen kasus yang dikonfirmasi terjadi di antara penduduk asli Aborigin dan Kepulauan Torres Strait.
Ia mengatakan wabah saat ini kemungkinan terkait dengan wabah yang sebelumnya tercatat di Queensland Utara dan Kimberley di Australia Barat.
Petugas medis kesehatan masyarakat John Boffa dari Kongres Kesehatan Aborigin Australia Tengah mengatakan masih belum jelas mengapa penyakit ini kembali muncul.
"Penyakit itu muncul kembali, tetapi kami tidak yakin mengapa," katanya.
"Mungkin karena, sejak COVID, sayangnya, ada keengganan dari sebagian orang untuk divaksinasi dan, di beberapa bagian wilayah, tingkat vaksinasi tidak setinggi yang seharusnya."
Dr. Boffa menambahkan bahwa sebagian besar orang yang sakit parah adalah mereka yang belum divaksinasi atau kurang divaksinasi.
"Jika Anda mendapatkan booster ini, Anda mungkin [masih] terkena penyakit, tetapi Anda tidak akan sakit parah. Dan ini adalah vaksin yang telah teruji dan terbukti efektif."
Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari laporan ABC News.
Lihat juga Video: Wabah Mematikan di Kapal Pesiar Mewah, 3 Orang Tewas Kena Hantavirus











































