×
Ad

Ketika Perang Memecah Belah Keluarga-keluarga di Iran

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 02 Apr 2026 17:09 WIB
Seorang perempuan muda terlihat terisak di luar gedung perkantoran yang menjadi sasaran serangan rudal di Teheran, 29 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP VIA GETTY IMAGES)
Teheran -

"Dia berkata kepadanya: 'Kau bukan lagi saudaraku,' dan dia membalas 'pergi saja kau ke neraka'."

Perselisihan antara seorang pria dan kakaknya di sebuah kota dekat Teheran ini disaksikan dan diceritakan kembali oleh salah satu kerabat mereka memberikan gambaran jelas tentang pertikaian menyakitkan yang terjadi di antara sanak-saudara dan perkawanan akibat serangan AS dan Israel.

Kerabat tersebut, yang kami sebut sebagai Sina, berujar bahwa ketika keluarganya baru-baru ini berkumpul di rumah neneknya, suasana langsung memanas dan emosi menggelegak, memperlihatkan perpecahan tajam di antara mereka.

Pamannya, seorang anggota Basij milisi sukarelawan yang kerap dikerahkan guna menekan perbedaan pendapat di Iran bahkan menolak menyapa adik perempuannya sendiri, yang menentang rezim yang berkuasa.

Setelah silang pendapat itu, sang paman "menutup mulut dan pulang lebih awal," kata Sina.

Dia dan sejumlah anak muda Iran lainnya menggambarkan situasi penuh emosi ketika perpecahan keluarga mulai terbuka akibat perang.

Bahkan di antara mereka yang menentang pemerintah, terdapat perbedaan tajam ihwal apakah perang ini akan membantu atau justru menghambat upaya perubahan.

Walaupun pemerintah Iran mematikan akses internet, BBC masih dapat berkomunikasi dengan sebagian kecil warga Iran yang berhasil menemukan cara agar tetap melakukan kontak daring.

Warga Iran bisa dipenjara karena berbicara kepada media internasional tertentu. Namun begitu, sepanjang perang yang telah berlangsung sebulan ini, mereka terus berbagi informasi melalui pesan teks yang sporadis dan sesekali panggilan suara.

Respons awal mereka keterkejutan dan ketakutan kini bergeser menjadi upaya menyesuaikan diri: berpindah tempat, mengubah rutinitas.

Mereka menceritakan detail kehidupan sehari-hari mereka; berlatih yoga, meski suara ledakan terdengar, memakan kue ulang tahun sendirian, dan sesekali keluar ke kedai kopi yang nyaris melompong.

Dan, dalam sejumlah catatan yang mengejutkan lantaran amat personal, mereka juga berbagi bagaimana konflik keluarga mempengaruhi hubungan mereka.

Demi keamanan, semua nama dalam artikel ini telah diubah.

Menjelang akhir Maret, warga Iran merayakan Nowruz, festival tahun baru Persia yang menandai titik ekuinoks musim semi dan biasanya menjadi momen keluarga berkumpul.

Sina, yang berusia 20an, menentang kepemimpinan ulama dan tetap mendukung serangan udara Israel dan AS, karena dia percaya hal itu akan membantu melengserkan rezim.

Dia berkata, pamannya, anggota Basij, tidak pernah menghadiri pertemuan keluarga saat Nowruz dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kali ini dia muncul al yang mengejutkan keluarga.

"Biasanya, kami tidak berbicara dengannya, juga tidak dengan anak-anaknya," ujar Sina.

Dia berujar nyaris tidak pernah berbicara dengan pamannya sejak aksi protes berskala besar pada 2022, setelah kematian Mahsa Amini perempuan muda yang meninggal dalam tahanan setelah dituduh tidak mengenakan hijab dengan benar.

Belakangan ini, Iran menyaksikan tindakan represif yang berlebihan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pelaku kekerasan itu adalah Basij dan aparat keamanan lainnya terhadap gelombang protes yang melanda negara itu pada Desember dan Januari.

Sedikitnya 6.508 pengunjuk rasa tewas dan 53.000 orang ditangkap, menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS.

Sina mengatakan bahwa menurut kerabat lainnya, pamannya amat murka terhadap para demonstran hingga pernah berkata bahwa bahkan jika anak-anaknya sendiri turun ke jalan dan tewas, dia tidak akan pergi mengambil jenazah mereka.

Namun kini, kata Sina, pamannya justru tampak "takut mati" akibat perang dan terlihat berusaha memperbaiki hubungan dengan beberapa anggota keluarga termasuk ibunya sendiri, nenek Sina.

Saat Nowruz, dia dan istrinya "terlihat sangat murung dan tak berdaya," ujar Sina.

"Saya tidak beradu argumen dengan mereka. Mereka seharusnya dipenjara."

Anak muda lainnya, Kaveh dari Teheran, merayakan Nowruz seorang diri.

Dia mengatakan hubungannya dengan sang kakak yang juga anggota Basij memang sudah sulit sejak lama.

Setelah dia ikut serta dalam protes tahun 2022, tambahnya, sang kakak mulai mengkritik aktivitasnya dan tidak menunjukkan simpati atas kematian teman-temannya dalam aksi protes Januari lalu.

Kaveh selama ini membantu menyediakan akses internet bagi teman dan keluarganya melalui Starlink milik SpaceX, yang menawarkan konektivitas lewat satelit.

Di Iran, memiliki atau menggunakan terminal Starlink bisa dihukum hingga dua tahun penjara.

Dia awalnya bergabung dengan keluarga untuk merayakan hari raya, tetapi kemudian pergi sebentar dari tempat mereka menginap.

Ketika kembali, dia mendapati kakaknya telah mencabut koneksi Starlink dan seluruh perangkat yang terhubung. Ketika ia menegurnya, pertengkaran pun pecah.

"Aku sudah tidak tahan lagi dengannya Kami berdebat, dan aku bilang aku tidak sanggup, lalu aku pergi," katanya.

"Aku sangat menantikan Nowruz. Aku sudah mengemas pakaian dan ingin berada bersama keluarga," ujar Kaveh melalui sambungan terenkripsi saat dia pulang sendirian.

"Tapi sekarang aku sama sekali tidak merasakannya."

Sebagian besar warga Iran kini tidak memiliki akses internet.

Perangkat Starlink bukan hanya ilegal, tetapi juga sangat mahal, sehingga mereka yang bisa menggunakannya umumnya berasal dari kalangan yang relatif mampu.

Beberapa orang lainnya masih bisa terhubung melalui VPN.

Sebagian besar warga Iran yang bersedia berbicara kepada BBC Persia merupakan pihak yang menentang rezim. Namun bahkan di antara para pengkritik pemerintah, perbedaan pendapat tentang perang ini dan dampaknya sangatlah mendalam.

Menurut Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, 1.900 orang tewas di Iran akibat serangan AS dan Israel, sementara HRANA menyebut jumlahnya lebih dari 3.400, dengan lebih dari 1.500 di antaranya merupakan warga sipil.

Maral, mahasiswa berusia 20an tahun di kota Rasht, Iran utara, mengatakan dia makin frustrasi terhadap ayahnya yang terus mendukung perang tersebut.

Ayahnya merupakan pendukung fanatik Reza Pahlavi, putra mahkota Iran sebelum revolusi 1979.

Pahlavi, yang kini tinggal di Amerika Serikat, memosisikan dirinya sebagai calon pemimpin transisi negara tersebut.

Dia mendukung serangan AS dan Israel terhadap Iran meskipun jumlah korban terus bertambah, menyebut serangan itu sebagai "intervensi kemanusiaan", dan baru-baru ini mendesak AS untuk "tetap pada jalurnya".

Popularitasnya di Iran meningkat dalam beberapa bulan terakhir sebagai figur oposisi, dan sebagian demonstran dalam aksi protes Januari meneriakkan namanya.

"Saya hanya ingin perang ini segera berakhir," kata Maral. "Begitu banyak orang biasa yang tewas."

Sejumlah pengunjung di dalam sebuah kafe di pusat kota Teheran, 29 Maret 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke kota itu. (AFP via Getty Images)

Dia mengatakan dirinya kerap "kesal" karena ayahnya "sangat optimistis", bahkan ketika bom terus berjatuhan.

'Kami mencoba berbicara dengannya, tapi dia terus saja bicara soal "Pangeran, Pangeran",' ujarnya.

"Ayahku hidup dalam ilusi bahwa Iran akan membuka perbatasannya dan dalam lima tahun semuanya akan dibangun kembali, semuanya akan baikbaik saja. Ia terpengaruh propaganda Israel bahwa kedua negara akan berteman."

Dia menambahkan, ayah dan ibunya acap bertengkar soal Pahlavi.

Sementara itu, Tara, perempuan berusia 20an di Teheran, mengatakan bahwa pada awalnya anggota keluarganya mengkritik dirinya karena menentang perang.

"Mereka semua mendukung serangan terhadap Iran Ibu dan kakakku mengatakan: "Kamu tidak kehilangan siapa pun [selama protes], makanya kamu menentang serangan ini. Kamu hanya tidak ingin rutinitasmu, latihanmu, dan ngopi santaimu terganggu Kalau mereka [rezim] membunuh salah satu teman atau saudaramu [selama protes], pasti pendapatmu berbeda."'

Namun Tara berkata: "Ribuan orang tak bersalah juga bisa terbunuh dalam perang, tanpa ada yang mengingat mereka."

Dia mengatakan bahwa pandangan kakaknya seperti beberapa warga Iran lain yang dihubungi BBC mulai melunak seiring serangan terus berlangsung. Barubaru ini, setelah sebuah area di dekat rumah mereka terkena serangan, kakaknya hanya berkata: "Semoga perang cepat selesai."

Dan meskipun mereka berbeda pandangan, keluarganya tetap berusaha pergi ke mana pun bersama-sama, ungkap Tara.

Dengan cara itu, "kami akan mati bersama-sama kalau kami terkena serangan."

Simak juga Video Trump Siapkan Serangan Baru ke Iran: Kita Bawa Mereka ke Zaman Batu




(nvc/nvc)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork