Iran memperingatkan akan membalas jika diserang oleh AS, sementara sumber BBC dan para aktivis melaporkan ratusan demonstran telah tewas akibat tindakan represif aparat pemerintah yang semakin meningkat.
"Situasi di sini sangat, sangat buruk," kata seorang sumber di Teheran pada Minggu (11/01).
"Banyak teman kami tewas. Mereka memuntahkan peluru tajam. Ini seperti zona perang, jalanan penuh darah. Mereka membawa jenazah dengan truk."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BBC menghitung sekitar 180 kantong jenazah dalam rekaman video dari kamar jenazah dekat Teheran.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan telah memverifikasi kematian 495 demonstran dan 48 personel keamanan di seluruh negeri.
Sebanyak 10.600 orang lainnya telah ditahan selama dua minggu kerusuhan, ujar kantor berita tersebut.
AS telah mengancam akan campur tangan di Iran terkait pembunuhan para demonstran, tetapi pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa para pemimpin Iran telah menghubunginya dan bahwa "mereka ingin bernegosiasi".
Namun, dia menambahkan bahwa AS "mungkin harus bertindak sebelum digelar pertemuan".
Trump belum menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang sedang dipertimbangkan AS, tetapi pada Minggu dia berujar "kami sedang mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat".
Dia telah diberi pengarahan tentang opsi serangan militer terhadap Iran, kata seorang pejabat kepada mitra berita BBC di AS, CBS.
Pendekatan lain dapat mencakup peningkatan sumber anti-pemerintah secara daring, penggunaan senjata siber terhadap militer Iran, atau penerapan sanksi lebih lanjut, kata para pejabat kepada Wall Street Journal.
Ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa jika AS menyerang, baik Israel maupun pusat militer dan perkapalan AS di kawasan itu akan menjadi target yang sah.
Sebanyak 180 jenazah di luar area kamar jenazah
Aksi protes yang diawali lonjakan angka inflasi, belakangan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Jaksa Agung Iran mengatakan siapa pun yang berdemonstrasi akan dianggap sebagai "musuh Tuhan"sebuah pelanggaran yang dapat dihukum mati.
Sementara, Khamenei mengatakan para demonstran sebagai "sekelompok perusak" yang berusaha "menyenangkan" Trump.
Pada hari Minggu, negara itu mengumumkan tiga hari berkabung untuk apa yang disebutnya "para martir yang gugur dalam pertempuran nasional Iran melawan AS dan Israel".
Sejumlah staf di beberapa rumah sakit mengatakan kepada BBC bahwa mereka kewalahan dengan para demonstran yang tewas atau terluka dalam beberapa hari terakhir.
BBC Persia telah memverifikasi bahwa 70 jenazah dibawa ke sebuah rumah sakit di kota Rasht pada Jumat malam, sementara seorang petugas kesehatan di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan kepada BBC:
"Sekitar 38 orang meninggal. Banyak yang meninggal setelah mereka tiba di tempat tidur darurat... Mereka kena tembakan di kepala, dan jantung. Banyak dari mereka bahkan tidak sempat dilarikan ke rumah sakit."

Para demonstran memblokade jalan dalam demonstrasi di Teheran, Iran, pada 9 Januari 2026. (AFP via Getty Images)
BBC dan sebagian besar organisasi berita internasional lainnya tidak dapat melaporkan dari dalam Iran.
Pemerintah Iran telah memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis, sehingga sulit untuk mendapatkan dan memverifikasi informasi.
Beberapa rekaman telah beredar, termasuk video yang memperlihatkan deretan kantong jenazah di Pusat Diagnostik dan Laboratorium Forensik Provinsi Teheran dan kamar jenazah di Kahrizak.
Dalam salah satu video dari lokasi tersebut, sekitar 180 sosok yang terbungkus kantong jenazah atau kain kafan dapat terlihat, sebagian besar terbaring di tempat terbuka.
Teriakan dan tangisan terdengar dari orang-orang yang tampaknya tengah mencari orang-orang yang mereka cintai.
Rekaman tersebut telah dikaburkan untuk melindungi identitas orang-orang yang masih hidup, yang dapat menghadapi penganiayaan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Presiden Iran tuduh AS dan Israel di balik unjuk rasa
Beberapa video yang dikonfirmasi baru-baru ini oleh BBC Verify memperlihatkan bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran.
Para demonstran yang menutup mukanya terlihat berlindung di balik tempat sampah dan kobaran api, dengan barisan pasukan keamanan di kejauhan.
Terlihat pula kendaraan roda empat yang dilalap api.
Beberapa tembakan terdengar, dan sayup-sayup terdengar pula suara panci dan wajan.
Sosok pria yang berdiri di jembatan penyeberangan tampak menembakkan beberapa tembakan ke sejumlah arah. Sementara beberapa orang berlindung di balik pagar.
Di Teheran, sebuah video terverifikasi dari Sabtu malam menunjukkan para demonstran menguasai jalanan di distrik Gisha.
Di alun-alun Punak terdengar suara panci, dan kerumunan orang berbaris dan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama di Distrik Heravi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan AS dan Israel di balik kerusuhan tersebut.
"Mereka telah melatih individu-individu tertentu di dalam dan luar negeri, membawa teroris ke negara itu dari luar, membakar masjid dan pasar," katanya tanpa memberikan bukti.
Namun, rekaman yang telah diverifikasi oleh BBC Persia dan BBC Verify mengkonfirmasi bahwa petugas keamanan Iran telah menembaki kerumunan demonstran di beberapa daerah.
Di antaranya di Teheran, Provinsi Kermanshah di wilayah Barat, dan Bushehr di bagian Selatan.
Beberapa video terverifikasi yang difilmkan di pusat kota Ilam di wilayah Barat akhir pekan lalu juga menunjukkan pasukan keamanan menembak ke arah Rumah Sakit Imam Khomeini, tempat para demonstran menggelar unjuk rasa.
Akses internet di Iran sebagian besar terbatas pada intranet domestik, dengan tautan terbatas ke dunia luar.
Tetapi selama protes saat ini, pihak berwenang untuk pertama kalinya juga membatasi akses internet secara ketat.
Seorang ahli mengatakan kepada BBC Persia bahwa pemblokiran ini lebih parah ketimbang aksi "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" pada 2022.
Alireza Manafi, peneliti internet, mengatakan satu-satunya cara yang mungkin untuk terhubung ke dunia luar adalah melalui satelit Starlink, tetapi memperingatkan bahwa penggunanya agar berhati-hati karena koneksi tersebut berpotensi dapat dilacak oleh pemerintah.
'Saya akan segera berada di sisi Anda' Putra Shah terakhir Iran
Pada hari Minggu, Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang diasingkan, yang tinggal di AS dan kepulangannya telah disuarakan oleh para pengunjuk rasa, mengatakan bahwa Trump telah "dengan cermat mengamati keberanian Anda yang tak terlukiskan".
Hal itu dia suarakan di media sosial miliknya.
"Rekan-rekan sebangsa Anda di seluruh dunia dengan bangga meneriakkan suara Anda," tulisnya.
Dia kemudian berjanji: "Saya tahu bahwa saya akan segera berada di sisi Anda."
Pahlavi mengklaim Republik Islam menghadapi "kekurangan tentara bayaran yang parah" dan bahwa "banyak pasukan bersenjata dan keamanan telah meninggalkan tempat kerja mereka atau tidak mematuhi perintah untuk menindas rakyat".
BBC tidak dapat memverifikasi klaim ini.
Dia mendorong orang-orang untuk terus berdemonstrasi pada Minggu malam, tetapi tetap berkelompok atau bersama kerumunan dan tidak "membahayakan nyawa Anda".
Di Inggris, video yang dibagikan di media sosial tampaknya menunjukkan para demonstran menurunkan bendera Iran dari balkon kedutaan besarnya di London pada hari Sabtu dan Minggu.
Iran telah memanggil duta besar Inggris di Teheran menyusul insiden tersebut, menurut media pemerintah Iran.
Protes ini merupakan yang paling meluas sejak pemberontakan pada 2022 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, perempuan muda Kurdi yang ditahan oleh polisi moral karena diduga tidak mengenakan hijabnya dengan benar.
Lebih dari 550 orang tewas dan 20.000 ditahan oleh pasukan keamanan selama beberapa bulan, menurut kelompok hak asasi manusia.
Rumah sakit kewalahan tangani korban
Sebelumnya, puluhan orang diyakini tewas dalam rangkaian demonstrasi yang telah menyebar ke lebih dari 100 kota di Iran.
Seorang dokter dan petugas medis di dua rumah sakit mengatakan kepada BBC, fasilitas mereka kewalahan menangani korban luka.
Seorang dokter mengatakan sebuah rumah sakit mata di Teheran telah memasuki tahap krisis.
BBC juga memperoleh pesan dari seorang petugas medis di rumah sakit lain, yang mengatakan mereka tidak memiliki cukup ahli bedah untuk mengatasi lonjakan pasien.
BBC dan sebagian besar organisasi berita internasional lainnya dilarang meliput berita di dalam Iran. Negara tersebut telah mengalami pemadaman internet hampir total sejak Kamis malam, sehingga menyulitkan untuk mendapatkan, dan memverifikasi informasi.
Sejak protes dimulai pada 28 Desember, setidaknya 50 demonstran dan 15 personel keamanan telah tewas, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS. Lebih dari 2.311 orang juga telah ditangkap, menurut kelompok itu.
Organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia, mengatakan setidaknya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, telah tewas.
Namun, jumlah ini dikhawatirkan terus bertambah.
BBC Persia telah memverifikasi vahwa terdapat 70 jenazah yang dibawa ke RS Poursina di Kota Rasht, pada Jumat (09/01), sehingga kamar jenazah tidak dapat lagi menampung jasad.
Aparat meminta keluarga korban uang sebanyak 7 miliar rial (sekitar Rp118 juta) agar jenazah bisa dibawa untuk dimakamkan, menurut sumber dari rumah sakit.
Seorang dokter dari Iran, yang menghubungi BBC melalui internet satelit Starlink pada Jumat malam, mengatakan bahwa Rumah Sakit Farabi, pusat spesialis mata utama di Teheran, telah memasuki tahap krisis dan unit layanan darurat kewalahan.
Penerimaan pasien dan operasi yang tidak mendesak dilaporkan telah ditangguhkan, dan tenaga kesehatan dipanggil untuk menangani kasus-kasus darurat.
BBC juga memperoleh pesan video dan audio dari seorang petugas medis di sebuah rumah sakit di kota Shiraz, pada hari Kamis.
Petugas medis tersebut mengatakan, sejumlah besar orang yang terluka dibawa masuk, dan rumah sakit tersebut tidak memiliki cukup ahli bedah mengatasi lonjakan pasien.
Ia mengklaim bahwa banyak dari korban luka mengalami luka tembak di kepala dan mata.
Seorang tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Teheran menyebut sedemikian banyaknya orang-orang cedera, staf RS tidak sempat melakukan pijatan dada atau CPR.
"Sekitar 38 orang meninggal. Banyak yang meninggal saat baru dibaringkan di ranjang rumah sakit. Jumlahnya sangat banyak sampai kamar jenazah tidak cukup. Jenazah ditumpuk satu sama lain di ruang salat," ujar seorang tenaga kesehatan.
BBC Persia telah berbicara dengan keluarga korban meninggal dan mengkonfirmasi identitas mereka.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan PBB sangat prihatin atas hilangnya nyawa tersebut.
"Orang-orang di mana pun di dunia memiliki hak untuk berdemonstrasi secara damai, dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi hak tersebut dan memastikan bahwa hak tersebut dihormati," katanya.
Kerusuhan dalam negeri yang terjadi berbuntut perang pernyataan 'ancaman' antara presiden AS dan petinggi Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut para demonstran antipemerintah sebagai "pembuat onar" yang berusaha "memenuhi keinginan presiden AS".
Iran juga mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB yang menuduh AS mengubah protes menjadi apa yang disebutnya sebagai "tindak kekerasan subversif dan vandalisme yang meluas" di Iran. Sementara itu, Trump mengatakan Iran "dalam masalah besar".
Aksi protes, yang memasuki hari ke-13, meletus karena masalah ekonomi dan telah berkembang menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memicu seruan mengakhiri Republik Islam, dan beberapa pihak mendesak pemulihan monarki.
Apa 'ancaman' Trump, dan respons Khamenei?
"Kami akan menyerang mereka dengan keras di tempat yang paling menyakitkan," kata Trump di Gedung Putih pada Jumat, sambil menambahkan, pemerintahannya memantau situasi di Iran dengan cermat dan keterlibatan AS bukan berarti mengerahkan "pasukan di lapangan".
"Menurut saya, rakyat sedang mengambil alih beberapa kota yang tidak pernah dibayangkan, mungkin terjadi hanya beberapa minggu yang lalu," katanya.
Pernyataan ini sejalan dengan yang disampaikan presiden AS tentang pemerintah Iran pada Kamis, di mana ia berjanji akan "menyerang mereka dengan keras" jika mereka "mulai membunuh orang".
Khamenei bersikeras dalam pidato televisi pada Jumat.
"Biarkan semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa melalui darah ratusan ribu orang yang mulia dan tidak akan mundur di hadapan mereka yang menyangkal hal ini," kata pria berusia 86 tahun itu.
Lalu, dalam pernyataan yang disampaikan kepada sekelompok pendukung, dan disiarkan di televisi negara, Khamenei mempertegas sikapnya, mengatakan Iran "tidak akan mundur dalam menangani unsur-unsur destruktif".
Duta Besar Iran untuk PBB menuduh AS "campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, provokasi, dan dorongan sengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan" dalam surat kepada Dewan Keamanan.
Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images
Sejak protes dimulai pada 28 Desember, selain 48 demonstran yang tewas, lebih dari 2.277 orang juga ditangkap, menurut Human Rights Activist News Agency (HRANA) yang berbasis di AS.
Iran Human Rights (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia mengatakan setidaknya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak, telah tewas.
BBC Persia telah berbicara dengan keluarga 22 di antaranya dan mengonfirmasi identitas mereka. BBC dan sebagian besar organisasi berita internasional lainnya dilarang melaporkan dari dalam Iran.
Mengapa terjadi demonstrasi di Iran?
Ketegangan semakin meningkat di Iran seiring unjuk rasa terkait biaya hidup yang melonjak.
Video yang diverifikasi oleh BBC Persia memperlihatkan protes menyebar di kota pusat Lordegan, Tehran, dan Marvdasht di Provinsi Fars, pada 1 Januari lalu.
Sejumlah video di media sosial menunjukkan mobil-mobil dibakar selama bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Media milik pemerintah melaporkan seorang anggota pasukan keamanan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tewas dalam bentrokan dengan demonstran pada malam pergantian tahun, 31 Desember lalu, di kota Kouhdasht.
Selain itu, sebanyak 13 anggota polisi dan anggota Basij yang merupakan bagian dari IRGC terluka akibat lemparan batu di wilayah tersebut, menurut laporan media pemerintah.
Fatemeh Bahrami/Anadolu via Getty ImagesPemilik toko menutup bisnis mereka selama protes terhadap kenaikan harga dan ketidakstabilan pasar yang didorong oleh kenaikan nilai tukar mata uang asing yang cepat, dengan perdagangan dolar AS di sekitar 140.000 toman, di Teheran, Iran, pada 31 Desember 2025.
Para demonstran turun ke jalan untuk menuntut agar pemimpin tertinggi negara itu mundur. Beberapa orang juga terdengar menuntut pemberlakuan lagi sistem monarki.
Rentetan aksi protes di Iran ini dimulai dari kemarahan para pedagang di Tehran. Pemicunya adalah nilai mata uang Iran yang melemah terhadap dolar AS di pasar terbuka. Protes kemudian merembet ke berbagai lini.
Pada 30 Desember lalu, para mahasiswa ikut terlibat dan demonstrasi makin meluas ke beberapa kota. Sehari setelahnya, sekolah, universitas, dan lembaga publik ditutup di seluruh Iran.
Melalui pernyataan resmi, pemerintah Iran menyebut penutupan tersebut dilakukan dengan alasan penghematan energi akibat cuaca dingin. Namun, banyak warga Iran memandang ini sebagai upaya untuk mengendalikan massa dan meredam kerusuhan.
Gelombang demonstrasi kali ini merupakan aksi yang paling luas sejak pemberontakan pada 2022 karena kematian seorang perempuan muda bernama Mahsa Amini.
AFPSeorang demonstran memegang poster Mahsa Amini, perempuan muda yang diduga meninggal dalam tahana polisi syariah. Kematiannya telah memicu gelombang besar demonstrasi di Iran.
Saat itu, aksi terjadi usai Amini meninggal di dalam tahanan akibat tuduhan polisi moral tentang pemakaian jilbab yang tidak sesuai aturan. Akan tetapi, unjuk rasa kala itu skalanya tidak sebesar sekarang.
Untuk mencegah eskalasi, keamanan diperketat di Tehran yang menjadi titik mula demonstrasi.
Presiden Masoud Pezeshkian berkata pemerintahannya akan mendengarkan "tuntutan yang sah" dari para demonstran.
Namun, Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad juga memperingatkan bahwa upaya untuk menciptakan ketidakstabilan akan dibalas dengan "tanggapan yang tegas".
Respons aparat keamanan dan ancaman dari Trump
Merebaknya demonstrasi ini direspons dengan berbagai penangkapan oleh aparat keamanan Iran.
Ketua Mahkamah Agung Provinsi Lorestan, Saeed Shahvari, mengumumkan penangkapan sejumlah demonstran beberapa hari terakhir di kota Azna dan Delfan. Namun, Shahvari tidak menyebutkan jumlah tahanan yang ada.
Ia hanya berkata telah memerintahkan kepala keadilan dan jaksa penuntut umum serta jaksa revolusioner di dua kota tersebut untuk "mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap para perusuh dan pada mereka yang mengganggu ketertiban dan keamanan publik."
Sejak kemarin, banyak gambar demonstrasi bertebaran. Salah satunya demonstrasi yang terjadi di Azna.
Media massa di Iran melaporkan selama demonstrasi tersebut, markas polisi diserang sehingga menyebabkan "tiga orang tewas dan 17 luka-luka."
Kantor berita Fars menulis, "Sekelompok perusuh memanfaatkan kerumunan demonstrasi di Azna dan menyerang markas polisi, menggunakan berbagai senjata tajam dan panas untuk melucuti senjata petugas dan menyerang gudang senjata."
UGCDua tangkapan layar dari sebuah video yang menunjukkan seorang pria duduk di tengah jalan di Teheran di depan pasukan keamanan Iran.
Dalam situasi ini, Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengeluarkan peringatan pada Iran.
Trump menulis di pelantar media sosial Truth Social, "Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, seperti kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menolong mereka. Kami siap mengambil tindakan."
Sebelumnya, laman Persia dari Departemen Luar Negeri AS juga menanggapi aksi protes di Iran.
Melalui unggahan di X, lembaga itu menyebut, "sangat prihatin dengan laporan dan video yang menunjukkan bahwa demonstran damai di Iran menghadapi intimidasi, kekerasan, dan penangkapan. Menuntut hak dasar bukanlah kejahatan. Rezim Republik Islam harus menghormati hak-hak rakyat Iran dan menghentikan penindasan."
Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images
Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menanggapi sikap Trump yang mendukung para demonstran. Ia bilang klaim AS tentang "kasih sayang terhadap rakyat Iran" tidak sesuai dengan catatan sejarah tindakan negara tersebut terhadap orang-orang Iran.
Dalam pesan di platform media sosial X, Baghaei menuduh AS "mengorganisir kudeta 19 Mordad 1953 terhadap pemerintah terpilih Dr. Mohammad Mossadegh."
Dia juga menuding AS pernah "menembak jatuh pesawat penumpang Iran pada 1988 dan membunuh perempuan dan anak-anak tak bersalah".
Baghaei menulis pula, AS "sepenuhnya mendukung Saddam Hussein dalam perang delapan tahun." Kini, Trump mengancam akan menyerang "dengan dalih belas kasihan terhadap orang Iran."
Baghaei pun menekankan bahwa "orang Iran tidak akan membiarkan intervensi asing dalam dialog dan interaksi mereka untuk menyelesaikan masalah."
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menafsirkan sikap Trump terhadap protes di Iran mengindikasikan keterlibatan AS dalam protes tersebut.
Larijani juga berkata "latar belakang di balik layar telah menjadi jelas." Apalagi pasca peringatan Trump tersebut.
Larijani menulis di akun media sosial X miliknya, "Dengan sikap pejabat Israel dan Trump, latar belakang insiden tersebut menjadi jelas. Kami menganggap posisi pengusaha yang berdemonstrasi terpisah dari unsur-unsur destruktif."
Ia juga menambahkan, "Trump harus tahu bahwa campur tangan Amerika dalam masalah internal ini setara dengan kekacauan di seluruh wilayah dan menjadi kehancuran kepentingan Amerika."
Penasihat Pemimpin Republik Islam, Ali Shamkhani, juga menanggapi pernyataan Trump dengan berkata: "Rakyat Iran tahu betul pengalaman menyelamatkan orang Amerika; dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza."
Pada akun media sosial X-nya, Shamkani juga menuliskan: "Setiap tangan intervensionis yang mendekati keamanan Iran dengan dalih apa pun akan dipotong sebelum tiba. Keamanan nasional Iran adalah garis merah, bukan panggung untuk cuitan yang provokatif."
Bagaimana tanggapan oposisi?
Gambar yang dirilis dari kota Zahedan menunjukkan peserta salat Jumat pada 3 Januari, meneriakkan slogan protes sebagai bentuk solidaritas untuk para demonstran dari kota-kota lain di Iran.
Foto yang diperoleh BBC, serta gambar-gambar mengerikan lainnya, menampilkan juga para jamaah meneriakkan slogan seperti "Warga Iran, teriakkan hak-hakmu" dan "Mati bagi diktator" setelah meninggalkan masjid Zahedan.
Mawlavi Abdul Hamid Esmailzahi, pemimpin shalat Jumat di Zahedan, menyampaikan dalam khotbah salat Jumat pekan ini, "Hidup dan mata pencaharian rakyat Iran telah mencapai jalan buntu."
"Rakyat berhak mengadakan protes damai, dan petugas tidak boleh menangani demonstran dengan kekerasan," tuturnya.
Apa yang disampaikan Esmailzahi ini merujuk pada rentetan unjuk rasa baru-baru ini.
Ia juga menyampaikan, "Kita semua adalah orang Iran. Hari ini, orang-orang kelaparan, dan bahkan beberapa kapitalis menghadapi masalah serius. Pejabat harus mendengarkan suara bangsa dan berpikir secara mendasar."
Esmailzahi mengkritik rencana pembagian kupon oleh pemerintah.
"Program-program semacam itu tidak berguna. Pejabat harus melihat apa yang diinginkan rakyat. Cara dan kehendak rakyatlah yang menjadi patokan, dan tidak ada yang boleh memaksakan pandangan dan keinginan mereka pada rakyat," tuturnya.
- AS gabung dengan Israel serang Iran akan ciptakan 'malapetaka' Bagaimana posisi UK?
- AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, apa dampaknya dan bagaimana Iran akan membalas?
- Bagaimana cara pesawat siluman B-2 menyerang fasilitas nuklir Iran?
Mehdi Karroubi, kritikus politik dan mantan ketua parlemen Iran, mengkritik jumlah anggaran yang dialokasikan untuk "institusi agama dan pemerintah. Karroubi menyebutnya sebagai "pencurian harta negara."
"Saya terkejut bahwa Dr. Pezhakian, dalam kondisi keuangan yang sulit dan situasi perang seperti ini, telah menyerah sehingga berani untuk merampok atau memboroskan kekayaan negara dengan cara ini," ujar Karroubi.
Karroubi, yang dibebaskan dari tahanan rumah kurang dari setahun lalu, menyinggung presiden: "Dia harus menghentikan praktik mencari keuntungan dari lembaga-lembaga yang menghabiskan anggaran negara dan tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi negara,"
"Sebagai ulama, saya malu kepada rakyat karena anggaran yang diberikan kepada individu-individu berkedok lembaga keagamaan dan budaya," ujarnya.
Simak juga Video: Khamenei Sebut Gelombang Demo di Iran Ulah AS











































