Pemukim Israel Mengamuk, Nenek Palestina Ogah Angkat Kaki dari Rumahnya

ADVERTISEMENT

Pemukim Israel Mengamuk, Nenek Palestina Ogah Angkat Kaki dari Rumahnya

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 01 Mar 2023 14:19 WIB
Amal Awad berada di rumahnya yang rusak akibat serangan para pemukim Israel di Tepi Barat. (BBC)
Jakarta -

Amal Awad mengintip melalui jendela rumahnya yang pecah.

Rumahnya dibuat menggunakan struktur beton kasar dan di sekelilingnya terdapat semak belukar. Sekilas bangunan itu tampak seolah didirikan asal jadi, tetapi sudah ada di situ selama beberapa dekade, seperti Amal.

Nenek Palestina itu mengatakan selama ini dirinya terbiasa diganggu pemukim Israel, tetapi sekarang gangguan tersebut menjadi lebih sering.

Pada 13 Februari tengah malam, dia mengatakan sekelompok pemukim Israel mengepung tanahnya. Mereka menghancurkan semua kaca, termasuk jendela mobil dan panel surya, kemudian menyerang rumah Amal.

Dari pemantauan kamera CCTV, sejumlah individu terlihat membawa tongkat bisbol.

"Saya mengkhawatirkan keluarga saya. Di rumah saya ada anak kecil dan cucu. Mereka juga takut," paparnya.

Aksi kekerasan di Hawara, Tepi Barat

Hawara

Rumah-rumah dan mobil-mobil milik warga Palestina dibakar di Hawara, Tepi Barat. (Reuters)

Rumah-rumah di kawasan Hawara, Tepi Barat, serta sejumlah kendaraan di sana hangus terbakar setelah massa pemukim Israel datang menyerang pada Minggu (12/02) malam.

Sejumlah warga Hawara mengatakan kepada BBC bahwa kerumunan massa pemukim Israel mengamuk bersenjatakan tongkat besi dan batu selama berjam-jam. Mereka kemudian membakar bangunan-bangunan, mobil-mobil, hingga pepohonan.

Baca juga:

Aksi kekerasan massa pemukim Israel ini berlangsung setelah dua pemukim ditembak mati oleh seorang pria bersenjata asal Palestina.

"Para pemukim menyerang rumah kami, mereka menghancurkan jendela, membakar mobil dan truk keponakan saya. Mereka mencoba masuk ke ruang pamer mobil saya dan membakarnya," kata Abdel Nasser al-Junaidi, pemilik usaha jual-beli mobil.

Dia mengaku membawa anak-anaknya ke atap untuk menjaga mereka tetap aman.

"Tentara tidak melakukan apa pun untuk melindungi kami. Mereka mendukung para pemukim dan melindungi mereka. Penembakan dilakukan oleh para pemukim dan tentara. Kami ketakutan. Apa yang terjadi adalah serangan yang mengerikan dan biadab," kata al-Junaidi.

Skala kerusakan menjadi jelas ketika wartawan BBC berjalan di sepanjang kota tersebut yang berada di Jalur 60 - jalan raya utama yang membentang dari utara ke selatan melalui Tepi Barat yang diduduki Israel.

HawaraReutersKerumunan massa pemukim Israel mengamuk dan membakar bangunan-bangunan, mobil-mobil, hingga pepohonan.

Beberapa ratus meter dari jalan raya, sebuah keluarga besar mencoba berlindung karena rumah mereka diserang.

"Istri saya, ipar saya, dan anak-anak kami yang masih kecil ada di dalam rumah. Mereka berteriak, dan anak-anak menangis. Mereka meminta perlindungan dari penindasan para pemukim, dan kami tidak dapat menjangkau mereka," kata Oday al-Domadi, berbicara kepada BBC di sisa-sisa ruang tamunya yang terbakar.

Dia bergegas pulang dari pekerjaannya di Nablus setelah mendengar bahwa para pemukim sedang merencanakan pawai "balas dendam" setelah peristiwa pembunuhan dua pemukim Israel bernama Hillel dan Yagel Yaniv. Keduanya tinggal di wilayah pemukiman Har Bracha, yang berjarak 1,9 km sebelah selatan Nablus.

"Ada sekitar 30 pemukim bertopeng membawa pistol yang menghancurkan rumah Saat kami memasuki rumah, mereka melempari kami dengan batu dan mematahkan bahu saudara laki-laki saya.

"Saya meneriaki tentara untuk melindungi anak-anak dan mencegah para pemukim menakut-nakuti mereka, tetapi tentara membalas dengan menembaki saya dan meneriaki saya untuk tinggal di rumah," kata al-Domadi, yang akhirnya berhasil memastikan anak-anaknya tetap tinggal di bagian lain rumahnya.

"Hal terburuk yang dialami anak-anak itu adalah teror dan kepanikan. Setelah itu, mereka gemetar ketakutan dan berlindung di pangkuan saya, memohon agar saya tetap di samping mereka."

Baca juga:

Militer Israel membela diri atas penanganan mereka dalam aksi kekerasan tersebut, tetapi seorang pejabat militer mengatakan, "Kebijaksanaan penempatan itu dapat ditentang."

Aksi-aksi kekerasan terhadap warga sipil Palestina, menurut sejumlah kelompok hak asasi manusia, terjadi karena aparat tidak pernah memproses hukum para pemukim di Tepi Barat yang diduduki, khususnya di beberapa permukiman paling ideologis di daerah sekitar Hawara dan Nablus.

Kelompok-kelompok pembela HAM mengatakan aksi kekerasan tersebut kini semakin diperkuat oleh keberadaan elemen di tubuh pemerintah Israel yang sangat pro-pemukim.

Polisi Israel secara rutin mengatakan sedang menyelidiki kasus-kasus seperti itu, tetapi para pegiat HAM mengatakan kerap pernyataan itu hanya retorika.

Menlu RI: Dunia tidak boleh menutup mata

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno LP Marsudi, mengatakan insiden di Kota Huwara, Tepi Barat, menunjukkan situasi HAM di Palestina semakin memburuk.

"Insiden di Huwara baru-baru ini menunjukkan situasi HAM dan kemanusiaan di Palestina semakin memburuk," kata Retno setelah pertemuan Sidang Dewan HAM PBB ke-52 di Jenewa, Swiss, dikutip dari siaran YouTube Kemenlu, Rabu (01/03).

Retno menuturkan, dunia tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina.

"Kita harus menghentikan perang dan konflik. Solusi damai untuk konflik harus dikedepankan, termasuk di Afghanistan, Palestina, Myanmar, dan Ukraina," tegas Retno.

Amal Awad

Amal Awad mengatakan militer Israel menghancurkan salah satu ruangan di rumahnya beberapa tahun lalu. (BBC)

Kekerasan berkepanjangan untuk mengusir warga Palestina

Amal Awad tinggal di Tepi Barat yang diduduki. Menurutnya, aksi kekerasan yang terjadi merupakan bagian dari upaya lama untuk memaksa warga Palestina keluar dari tanah itu.

"Baru-baru ini, mereka mulai datang setiap beberapa hari. Kami biasanya melihat mereka. Lalu kami menelepon tetangga-tetangga untuk memperingatkan bahwa akan ada serangan," jelas Amal. "Tapi kali ini, mereka datang setelah tengah malam begitu semua orang sudah tidur."

Tepi BaratBBC

Para pejabat Otorita Palestina mengatakan telah terjadi 600 serangan serupa sejak awal tahun, meningkat tajam dibandingkan tahun lalu, ketika terdapat 55 serangan yang tercatat di bulan Januari dan Februari.

Insiden ini, biasa disebut sebagai "serangan bayar harga", yaitu aksi para pemukim Israel yang menentang pembongkaran permukiman ilegal Yahudi. Para pemukim ingin menghukum komunitas Palestina karena kehilangan lokasi permukiman yang tidak sah.

Baca juga:

Tepi Barat dibagi menjadi tiga zona berdasarkan perjanjian perdamaian Oslo 1993. Amal tinggal di zona terbesar yang dikenal sebagai 'Area C'. Area itu dikuasai Israel. Tidak ada pemerintahan Palestina di sana.

"Kami memanggil polisi dan tentara, tapi tidak ada yang datang," ujar Amal dengan nada antara putus asa dan pasrah. "Sampai sekarang, belum ada yang datang untuk memeriksa kerusakannya."

Taktik keji

Amal melihat para pemukim menjadi semakin berani setiap tahun. Serangan pertama di rumahnya terjadi pada Oktober 2021.

"Pertama kali, mereka melempari rumah kami dengan batu. Kami tidak dapat menghentikan mereka dan tidak ingin memperkeruh situasi sehingga kami tidak menanggapinya," katanya.

"Tapi setelah 20 hari, mereka kembali. Mereka menggunakan semprotan merica dan menghancurkan jendela dan pagar."

CCTV menangkap insiden ketika sejumlah pemukim Yahudi menyerang rumah Amal Awad pada 13 Februari tengah malam.

CCTV menangkap insiden ketika sejumlah pemukim Yahudi menyerang rumah Amal Awad pada 13 Februari tengah malam. (BBC)

Sejumlah permukiman Yahudi di Tepi Barat tergolong ilegal menurut hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.

Israel telah membangun sekitar 140 pemukiman yang menampung sekitar 600.000 orang Yahudi sejak menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam Perang Timur Tengah 1967.

Ketika permukiman-permukiman ini berkembang, ketegangan antara kedua komunitas juga meningkat.

Israel juga mengintensifkan razia di Tepi Barat selama setahun terakhir. Alasannya adalah sedang mencoba membendung serentetan serangan mematikan Palestina yang menargetkan warga Israel.

Di desa dekat rumah Amal, terdapat Fuad Hassan. Dia adalah seorang warga Palestina yang bergabung dengan Komite Publik Palestina, yaitu kelompok warga yang melakukan ronda secara sukarela.

"Kami memulai ronda tahun 2012 untuk melindungi warga sipil dan properti mereka dari serangan para pemukim," kata Fuad.

"Ketika warga melihat ada pergerakan di desa, jika mereka melihat ada aktivitas, mereka melaporkan kembali kepada kami. Kami memantau daerah itu siang dan malam."

Fuad palestina

Fuad melakukan tugas ronda di desanya tapi kerap merasa tidak berdaya menghadapi massa pemukim Israel. (BBC)

Kecuali polisi Palestina di wilayah yang mereka tangani, warga sipil Palestina yang tinggal di Tepi Barat tidak diizinkan membawa senjata. Mereka membela diri hanya dengan obor dan ponsel. Ketika serangan terjadi, mereka juga sering kalah jumlah.

"Allah adalah satu-satunya senjata kami," kata Fuad. "Yang kami inginkan hanyalah agar serangan ini berhenti."

Tahun lalu, Fuad terluka saat berusaha melindungi tetangganya dari penyerangan di desanya.

"Hanya ada empat dari kami dan mereka berkelompok besar. Saya menerima lima jahitan di kepala saya."

Tapi Fuad beruntung. Pada 2014, salah satu warga tewas dalam serangan pemukim. Fuad mengatakan tentara Israel yang hadir tidak melakukan apapun untuk melindungi desa tersebut.

"Tentara Israel melindungi para pemukim, bukan warga Palestina," tambahnya.

Seorang juru bicara tentara Israel mengatakan kepada BBC bahwa penduduk seperti Amal dapat melaporkan tindakan kekerasan dan pasukan Israel diminta untuk bertindak.

Namun menurut organisasi hak asasi manusia Israel, Yesh Din, sejak tahun 2005 hanya 3% dari semua penyelidikan Israel, terhadap apa yang digolongkan sebagai 'kejahatan bermotivasi ideologis' di Tepi Barat, telah mengarah pada hukuman.

Simak Video 'Warga Israel Serang Pemukiman Palestina, Satu Orang Dibunuh':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT