Perang Ukraina Telah Memecah Keluarga-keluarga Rusia

ADVERTISEMENT

Perang Ukraina Telah Memecah Keluarga-keluarga Rusia

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 24 Feb 2023 17:33 WIB
Uliana berdebat soal perang Ukraina dengan ayahnya, Boris (Anastasia Popova)
Jakarta -

Uliana menangis saat peti kematian adik laki-lakinya diturunkan ke tanah.

Aktris berumur 37 tahun itu menghadiri upacara pemakaman Vanya, seorang prajurit Rusia yang terbunuh di garda depan Ukraina.

"Mereka bilang dia meninggal sebagai pahlawan, kata Uliana tentang Vanya yang berumur 23 tahun.

"Saya pikir, Apa artinya, [meninggal] sebagai pahlawan? Itu tidak masuk akal. Saya mau punya adik laki-laki ketimbang pahlawan yang tewas.

Walaupun ayah Uliana, Boris, juga sedang berkabung, ia merasa bangga bahwa putranya, Vanya, meninggal saat berjuang demi negaranya.

Menurut Boris, konflik yang terjadi antara negaranya dengan Ukraina adalah perlawanan dengan pemerintah yang menyuarakan fasisme.

Klaim tersebut berakar dari kata-kata Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengeklaim bahwa pemerintahannya sedang menghilangkan pengaruh Nazi dari Ukraina.

Putin juga mengeklaim bahwa negara itu melakukan genosida, namun ia tidak memiliki bukti.

Perpecahan antara anggota keluarga akibat perang

Uliana saat menghadiri pemakaman adik laki-lakinya, Vanya.

Uliana saat menghadiri pemakaman adik laki-lakinya, Vanya. (Anastasia Popova)

Baca juga:

"Sebelum [kematian] ini terjadi kepada Vanya, kami tidak pernah membahas perang itu, kata Uliana saat menjelaskan hubungannya dengan ayahnya. "Tetapi setelah Vanya meninggal, kami seringkali bertengkar hebat tentang itu.

Dalam film baru BBC, Storyville, ayah dan anak itu berdebat soal perang Ukraina. Hal serupa juga terjadi di banyak keluarga Rusia lainnya.

Sulit untuk mendapat gambaran pasti mengenai bagaimana perasaan penduduk Rusia terkait serangan negaranya terhadap Ukraina.

Sebab, kebijakan di negara itu melarang komentar yang menjelekkan angkatan militer ataupun komentar yang menyebut serangan itu sebagai perang, bukan operasi militer khusus.

Namun, survei yang diterbitkan pada November 2022 oleh lembaga riset independen Rusia menunjukkan bahwa topik tersebut membelah generasi.

Sebanyak 75% dari responden berusia 40 ke atas mengaku mendukung perang, dibandingkan 62% yang berusia 18-24 tahun.

Pembuat film asal Rusia Anastasia Popova mengatakan hal tersebut senada dengan persepsinya saat ia keliling Rusia untuk merekam dokumenter.

"Saya melihat banyak perpecahan antara anggota keluarga. Anak-anak mereka kebanyakan tak setuju dengan perang.

"Sementara orang tua mereka -generasi yang dibesarkan pada masa Uni Soviet, yang menonton TV milik pemerintah dari pagi sampai malam- mendukung perang itu. Saya juga menghadapi retakan yang sama dengan keluarga saya, tambahnya.

Anastasia mengungkapkan ayahnya mendukung aksi militer Rusia.

Bergantung pada media televisi milik negara sebagai sumber berita berarti masyarakat menyerap narasi resmi yang disiarkan oleh pemerintah Rusia setiap harinya.

Uliana, dan warga Rusia lainnya yang seumuran, lebih banyak mendapatkan berita mereka dari sumber lain, seperti YouTube dan media sosial.

"[Perkataan] maaf tak sanggup untuk mengutarakan kesedihan saya yang mendalam, kata Uliana.

Dia mengatakan perang ini telah mengubah banyak orang.

"Saya melihat orang-orang di kereta bawah tanah [di Moskow]. Mereka membaca berita, lalu buang muka. Mereka sudah tidak lagi menatap mata satu sama lain."

Ia dulu anak emas

Pembuat film dokumenter Anastasia Popova menekankan bahwa di luar kota-kota besar, dukungan untuk perang itu lebih besar, terlepas dari kelompok demografi.

Ia mengatakan kenyataan tersebut semakin jelas ketika dia merekam pemakaman Vanya di rumah keluarganya di Desa Arkhangelskoe, 97 km di luar Moskow.

Uliana membicarakan momen ketika ia sadar betul akan perubahan yang terjadi.

"Ketika saya melihat orang-orang itu, saya menjadi sadar akan kepercayaan mereka terhadap kata-kata yang mereka ucapkan, kata Uliana. "Bahwa Vanya meninggal sebagai sosok pahlawan, seorang patriot sejati yang membela tanah airnya.

"Saya tahu ada sesuatu yang salah. Siapa yang seharusnya kita selamatkan di sana? Untuk apa para laki-laki kami tewas?

"Saya tidak pernah membayangkan seumur hidupku bahwa saudara laki-lakiku akan dibawa kepadaku dalam peti mati yang terbuat dari seng.

Vanya adalah anak bungsu dari empat bersaudara, dan dia satu-satunya laki-laki.

"Ia dulu anak emas, kata Uliana.

"Dia mendapatkan pendidikan yang luas, jelas Boris. "Sekolah seni, sekolah musik, olahraga... Saya menuangkan semua impianku kepadanya.

Setelah meninggalkan rumah, Vanya bergabung dengan institut sastra di Moskow untuk mempelajari penulisan kreatif.

Ia juga bermain peran dalam pertunjukkan eksperimental, termasuk di Teater Bolshoi.

Selama di Moskow, Boris mengatakan Vanya patah hati ketika ia jatuh cinta dengan perempuan yang tidak mau menikah.

"Ini dunia teater. Mereka memiliki pandangan hidup sendiri. Dengan kriteria etika dan moral tersendiri. Sebagai pengganti nilai-nilai kekeluargaan, mereka memiliki hubungan terbuka antara laki-laki dan perempuan, kata Boris.

Vanya sangat terlibat dalam dunia seni Moskow sebelum bergabung dalam pasukan militer.

Vanya sangat terlibat dalam dunia seni Moskow sebelum bergabung dalam pasukan militer. (Ivan)

Uliana mengatakan Vanya terlihat sangat senang mendalami seni teater, tetapi ayahnya menganggap seni tersebut menumbuhkan semacam krisis dalam putranya.

"Dia tidak suka dengan pandangan mereka terhadap dunia, karena mereka selalu berpikir negatif mengenai Rusia. Bahwa orang Rusia bukan siapa-siapa bagi mereka; bahwa nenek moyang mereka dan seluruh sejarah Rusia penuh omong kosong.

"Ia [Vanya] paham itu tapi ia tidak seperti mereka. Kami sudah membicarakan itu. Apa yang harus dia lakukan? kata Uliana.

Maka, sambung Boris, ia dan Vanya sepakat bahwa Vanya harus masuk militer.

"Untuk dapat hidup sebagai seniman kreatif Anda perlu punya pengalaman hidup, kata Boris.

"Di mana Anda bisa menemukan itu? Kami memutuskan ia harus mengikuti jejak para penulis hebat. Dengan bergabung dalam pasukan tentara.

Vanya masuk ke dalam angkatan militer melalui program wajib militer. Kemudian, karena ia menginginkan tantangan yang lebih menarik, ia mengambil kontrak militer.

Dia menjabat sebagai marinir yang berbasis di Kota Sevastopol di Krimea, wilayah yang diduduki Rusia usai melancarkan serangan besar-besaran di kota-kota di seluruh Ukraina pada Februari tahun lalu.

Vanya disuruh menelpon keluarganya untuk pamit sebelum dikirim ke kota pelabuhan Ukraina, yakni Mariupol.

"Kami berbicara cukup lama, selama lebih dari satu jam, kata Uliana.

"Matanya berair. Saya bilang: Vanya, tunjukkan apa itu yang kamu pegang. Ia menunjukkan senapan mesin kepadaku. Seperti ia dulu memperlihatkan mainan kepadaku saat masih kecil.

Boris menunjukkan cuplikan pesan video yang dikirim Vanya kepadanya. "Tujuan kita adil, kata Vanya. "Halo semuanya. Saya akan mengabari ketika saya sampai di sana. Pelukan dan ciuman.

"Itulah kata-kata terakhirnya, kata Boris.

Ia tewas dekat pabrik baja Azovstal di Mariupol pada 15 Maret 2022.

Baca juga:

Perbedaan pendapat usai kematian Vanya

Kematiannya membuat perbedaan pandangan Uliana dan Boris terhadap perang semakin terlihat nyata.

Boris memberi tahu Uliana bahwa dia terlalu muda untuk mengingat apa yang dia sebut sebagai "persaudaraan" republik Uni Soviet.

Dia berpendapat bahwa kejatuhannya "menghancurkan jiwa banyak generasi yang akan datang, mengingatkan mereka bahwa Rusia adalah musuh mereka".

Diksi yang ia gunakan mirip dengan Presiden Putin, yang menyebut jatuhnya Kerajaan Soviet sebagai "bencana geopolitik terbesar abad [ke-20].

Ukraina mendeklarasikan kemerdekaan tak lama sebelum Uni Soviet runtuh pada 1991.

Putin juga menyalahkan NATO dan negara-negara Barat atas perang yang sedang berjalan. Ia mengatakan mereka mencoba untuk melemahkan dan akhirnya menghancurkan Rusia. Boris pun percaya dengan narasi ini.

"Dalam konteks hari ini, 'Menolak perang hanya berarti satu hal," kata Boris kepada Uliana. "Artinya 'Kematian bagi Rusia'. Ini adalah perjuangan untuk dunia Rusia, untuk jiwa Rusia, untuk budaya kami."

Pandangan ini jelas-jelas tidak sesuai dengan pendapat Uliana. Meski ia terkadang juga sering bimbang.

Popova merekam sebuah momen ketika Uliana sedang berlibur di Georgia salah satu dari segelintir negara yang masih bisa dikunjungi orang Rusia karena sanksi.

Di sana, Uliana sedang membahas perang itu dengan teman-temannya saat menyantap makan malam. Uliana mulai mempertanyakan fakta-fakta yang ada.

"Saya ingin percaya bahwa adik saya tidak meninggal dengan sia-sia. Saya ingin menjustifikasi rasa kehilangan. Itu sangat menyakitkan. Anda harus berpegang pada sesuatu," jelas Uliana.

Sebuah kuil kecil telah didirikan untuk mengenang Vanya di rumah keluarga.

Di dalam kuil itu, terdapat tanah yang dikumpulkan dari Mariupol tempat dia meninggal. Kadang-kadang ayah dan anak perempuan berdiri di hadapannya bersama-sama.

Uliana mengatakan meski mereka memiliki perbedaan pendapat, ia masih ingin mempertahankan hubungan baik dengan ayahnya.

"Saya tidak bisa berperang melawan ayah saya sendiri. Saya tidak bisa bilang Saya benci Anda karena kita tak sependapat.

"Saya hanya bisa mengatakan Ayah, saya tidak setuju. Itu saja yang bisa kuucapkan, katanya.

Baca juga:

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT