Kisah Pilu Pria Suriah Cari Tunangannya di Reruntuhan Akibat Gempa

ADVERTISEMENT

Kisah Pilu Pria Suriah Cari Tunangannya di Reruntuhan Akibat Gempa

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 20 Feb 2023 15:27 WIB
Aysha Moarri mengucapkan selamat tinggal kepada putrinya, Shirin, di perbatasan Bab al-Hawa. (BBC)
Jakarta -

Aysha Moarri, 45 tahun, terisak-isak sambil mengelus kantong mayat berlapis kain putih di bagian belakang truk.

"Bagaimana kamu meninggalkanku? Kamu adalah satu-satunya alasan aku tetap hidup ... Bagaimana aku bisa bernapas sekarang?"

Anaknya ada di dalam kantong itu. Di sebelahnya ada jenazah lima anggota keluarga lainnya.

Sore itu cerah dan dingin di Bab al-Hawa, di dekat penyeberangan perbatasan Turki bagian selatan dan Suriah barat laut yang dikuasai kelompok oposisi.

Keluarga pengungsi Suriah yang kehilangan orang-orang tercinta akibat gempa yang mengguncang Turki selatan pada pekan lalu berkumpul di sana untuk membantu memulangkan jenazahnya.

Di sekitar kami, bau kematian yang pekat menggantung di udara.

Aysha dan suaminya, Nouman, serta cucu perempuan mereka yang berusia empat tahun, Elma, selamat setelah apartemen enam lantai yang mereka tinggali runtuh.

Aysha dan Nouman kehilangan dua putri, satu putra, dan dua cucu perempuan, dan masih mencari menantu mereka.

Keluarga itu melarikan diri dari perang saudara di Suriah delapan tahun silam, berharap mengawali kehidupan baru, dan berlindung di kota Antakya, Turki selatan.

Kota ini sekarang luluh lantak, dengan lebih dari separoh bangunannya rusak.

Nama setiap korban warga Suriah yang dibawa ke Bab al-Hawa ditulis dengan pena biru di kantong jenazah, untuk memastikan mereka dapat diidentifikasi begitu kembali ke rumah.

"Jaga baik-baik satu sama lain. Shirin sayangku, jaga adik-adikmu dan cucu-cucuku tercinta," kata Aysha sambil mencium tubuh putrinya melalui kain putih.

Jemarinya berlama-lama memegang bagian belakang truk yang perlahan-lahan mulai menjauh, jelas dia tidak ingin melepaskannya.

Suaminya menangis tatkala truk menjauh dan kemudian melintasi perbatasan.

"Selamat tinggal sayangku... Kalian semua akan pulang... Kalian akan bersama lagi," kata Nouman sambil melambaikan tangan yang diperban.

Pagi itu, lima truk kembali tiba di perbatasan membawa jenazah warga Suriah yang ditemukan dari bawah reruntuhan. Ada yang hanya dibungkus selimut, bukan kantong jenazah.

Operasi penyelamatan darurat

Di antara reruntuhan gedung yang dihuni keluarga Moarri di Antakya, dua buah kaca batu delima masih berdiri utuh di rak. Sebuah lukisan tetap tergantung di atas meja. Ruangan lainnya runtuh.

Mengenakan rompi penyelamat, Ali, yang bertunangan dengan salah-satu putri Aysha, Viam, terus mencari melalui puing-puing.

Dia menunjukkan kepada kami di mana dia menemukan tubuh Viam. Mereka telah menjalin kasih selama empat tahun, tetapi hanya sepekan sebelum gempa dia membujuk ayah Viam untuk menerima pertunangannya.

Ali, a Syrian, stands in front of collapsed buildings in Antakya, Turkey

Ali mencari jasad tunangannya, Viam, dari puing-puing apartemennya yang runtuh di Antakya, Turki. (BBC)

"Malam itu kami masih saling berkirim pesan di WhatsApp hingga larut malam. Kami tidak bisa tidur," ujarnya.

Sekitar pukul 04:00 dia menerima pesan teks dari Viam: "Apakah kamu masih bangun? Aku mengalami mimpi buruk yang aneh," tulisnya.

Mereka tengah melakukan panggilan video ketika mulai ada guncangan.

"Saya baru saja mengatakan kepadanya bahwa dia seharusnya tidak memikirkan mimpi buruk itu. Dan kemudian kami saling memberi tahu bahwa kami saling mencintai. Dia duduk di tempat tidurnya dan tertawa pelan," kenang Ali, berusaha keras untuk menahan tangis.

"Saya melihatnya mencoba lari, tetapi ponselnya dicolokkan ke dinding dan membuat langkahnya tertahan. Kemudian gambarnya membeku. Layarnya menjadi gelap."

Ali, pelatih kebugaran yang berpengalaman bertempur bersama kelompok oposisi di Suriah, mampu melindungi dirinya dengan merangkak di bawah meja di kamarnya.

"Saat gempa berakhir, saya lari keluar. Seluruh lingkungan kami hancur.

"Saya tidak ingat bagaimana saya berjalan ke arah tempat dia [Viam] tinggal. Butuh waktu dua kali lebih lama karena semua jalan diblokir."

Ketika Ali tiba di apartemen Viam, operasi penyelamatan darurat yang diorganisir oleh para tetangganya sudah berlangsung.

Dia memanggil teman-temannya untuk bergabung dengan mereka. Berjam-jam berlalu dan tidak ada bantuan resmi yang datang.

Ali mengatakan dia dan teman-temannya berasal dari wilayah Suriah yang acap dibom oleh pasukan pemerintah Suriah selama perang.

Sehingga mereka sudah beberapa mengikuti pelatihan dan berpengalaman dalam pencarian dan penyelamatan. Warga Suriah harus membantu warga Suriah, tambahnya.

Baca juga:

Menemukan jasad Viam

Sebagian besar wilayah Suriah barat laut yang terdampak gempa berada di bawah kendali pemerintah Suriah.

Wilayah lainnya - tempat keluarga Moarri berasal - dikuasai kelompok bersenjata yang menentang Presiden Bashar al-Assad.

Oleh karena itu, koordinasi operasi penyelamatan dan bantuan menjadi sangat kompleks, melibatkan banyak pihak di dalam konflik itu, negara-negara yang mendukung mereka dan organisasi kemanusiaan internasional.

Ali merasa kesal terhadap komunitas internasional, seraya mengatakan bahwa negara-negara adidaya memainkan konflik yang lebih besar di Suriah dan akibatnya rakyat Suriah menderita.

"Seluruh dunia datang untuk membantu Turki, dan alhamdulillah Turki sendiri adalah negara yang kuat. Tapi bagaimana dengan Suriah?"

"Saya tidak ingin berbicara tentang politik tetapi dari sudut pandang kemanusiaan, kami tidak memiliki listrik, atau air bersih, bahkan rumah pun tidak."

Dia menambahkan: "Rumah kami telah hancur oleh perang, dan sekarang gempa. Tentu saja, kami menerima apa yang datang dari Tuhan. Tapi saya harus memberitahu dunia: cukup."

Nouman is held back by Ali at the Bab al-Hawa border crossingNouman yang berusaha mengikuti truk yang membawa jenazah anaknya dihentikan dan ditahan oleh Ali. (BBC)

Setelah delapan hari mencari, Ali menemukan jenazah orang kesayangannya, Viam. Dia memeluk saudara laki-lakinya Mohammed ketika dia meninggal.

Kini, dengan sekelompok orang yang terdiri 15 orang Suriah, Ali bekerja untuk mencari dan menemukan keluarga Suriah lainnya.

Debu halus, yang berterbangan dan ada di mana-mana, menutupi wajah mereka. Mata kami seringkali berpasir, dan rambut kami seperti beruban.

Selama 10 hari pertama setelah gempa, lebih dari 2.306 jenazah dikirim melewati perbatasan ke Suriah, menurut pihak berwenang Turki.

Polisi perbatasan Turki memberi tahu kami bahwa ini merupakan operasi besar-besaran bagi mereka, dan sulit untuk dikoordinasikan.

Kadang-kadang mereka siap mengirim jenazah, tetapi pihak lain tidak siap menerimanya. Terkadang, justru sebaliknya.

Saat kami bersiap untuk pergi, kami melihat seorang pria memeluk tubuh anaknya yang berumur tiga minggu terbungkus selimut kecil.

Dia meminta bantuan untuk membawa jenazahnya kembali ke rumah mereka di bagian Provinsi Idlib yang dikuasai kelompok oposisi.

Dia telah menggali putrinya dari puing-puing, lalu membawanya melintasi perbatasan ke Turki untuk perawatan medis. Tapi bayi itu tidak selamat.

Keluarga Moarri akhirnya menemukan orang terakhir yang mereka cari - jenazah menantu mereka - 10 hari setelah gempa.

Saya bertanya kepada Ali mengapa para pengungsi Suriah mengirim jenazah keluarganya ke Suriah.

"Ini adalah rumah kami. Di sanalah kami masih berharap dan percaya bahwa suatu hari kami akan kembali. Kami ingin orang yang kami cintai menunggu kami di sana."

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT