Studi Universitas Peking Sebut COVID di China Sentuh Angka 900 Juta Kasus

ADVERTISEMENT

Studi Universitas Peking Sebut COVID di China Sentuh Angka 900 Juta Kasus

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 13 Jan 2023 22:59 WIB
Ilustrasi warga di China (BBC)
Jakarta -

Sekitar 900 juta orang di China telah terinfeksi virus corona per 11 Januari, menurut sebuah studi oleh Peking University.

Laporan ini memperkirakan 64% populasi negara tersebut memiliki virus tersebut.

Wilayah dengan kasus terbanyak adalah Provinsi Gansu, di mana 91% populasinya terinfeksi, diikuti oleh Yunnan (84%) dan Qinghai (80%).

Seorang epidemiolog ternama China memperingatkan kasus COVID-19 akan melonjak di daerah pedesaan selama liburan Tahun Baru China nanti.

Puncak gelombang Covid di China diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan, tambah Zeng Guang, eks kepala Badan Pengendalian Penyakit China.

Ratusan juta warga China akan pulang ke kampung halaman mereka - banyak di antaranya untuk pertama kali sejak pandemi dimulai - sebelum Tahun Baru China pada 23 Januari.

China telah berhenti menyediakan data dan statistik COVID sejak meninggalkan aturan nol-COVID mereka.

Namun rumah sakit di kota-kota besar - di mana fasilitas kesehatan lebih baik dan bisa diakses - telah penuh dengan pasien COVID seiring dengan penyebaran virus corona ke seluruh negeri.

Berbicara di sebuah acara awal bulan ini, Zeng berkata sekarang "saatnya untuk fokus pada area pedesaan, mengutip laporan dari media Caixin.

Banyak lansia, orang-orang yang sakit dan difabel di daerah pinggiran telah kesusahan mendapatkan akses kesehatan, kata dia.

Provinsi Henan di pusat China menjadi satu-satunya provinsi yang memberikan detail tingkat infeksi - sebelumnya di bulan ini seorang pejabat kesehatan berkata nyaris 90% orang di China telah terkena COVID, dengan tingkat serupa di area perkotaan dan pedesaan.

Meski demikian, sejumlah pejabat kesehatan berkata banyak provinsi dan kota telah melewati masa-masa puncak infeksi.

Liburan Tahun Baru China, yang secara resmi dimulai pada 21 Januari, adalah migrasi tahunan manusia terbesar di dunia.

Sekitar dua juta perjalanan diperkirakan terjadi, dan puluhan juta orang telah mulai pulang kampung.

Pada bulan lalu, China dengan tiba-tiba meninggalkan aturan nol-COVID mereka. Negara ini juga membuka perbatasannya kembali pada Minggu.

Data resmi menunjukkan lima atau lebih sedikit kematian per hari selama bulan lalu, angka yang tidak konsisten dengan antrean panjang yang terlihat di rumah-rumah duka dan laporan tentang kematian di media sosial.

Pada Desember, sejumlah pejabat China berkata mereka berencana untuk memberikan pembaruan bulanan, alih-alih harian, tentang situasi COVID di negaranya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) berkata China, yang berhenti memberi laporan kematian COVID sejak Selasa, telah memberikan angka yang jauh lebih kecil dari seharusnya.

Merespons komentar ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin menekankan kembali dalam konferensi pers bahwa Beijing telah membagikan data COVID "dengan tepat waktu, terbuka dan transparan menurut hukum, dan telah melakukan diskusi teknis dengan WHO selama sebulan terakhir.

Para ahli kesehatan internasional memprediksi setidaknya ada sejuta kematian yang terkait dengan COVID di China tahun ini. Beijing secara resmi melaporkan angka kematian sebanyak 5.000 sejak pandemi dimulai, salah satu tingkat kematian terendah di dunia.

(haf/haf)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT