Siapa Anton Gobay yang Ngaku Beli Senpi Ilegal untuk Dikirim ke Papua?

ADVERTISEMENT

Siapa Anton Gobay yang Ngaku Beli Senpi Ilegal untuk Dikirim ke Papua?

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 13 Jan 2023 11:16 WIB
bbc
Anggota Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka memegang beragam jenis senjata.
Jakarta -

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Filipina mengeklaim, Anton Gobay telah mengaku bahwa senjata ilegal yang dibeli akan dikirim ke Papua guna mendukung kegiatan-kegiatan bersenjata di sana.

Namun Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengeklaim Anton Gobay bukan bagian dari organisasinya.

Apa yang dilakukan Anton Gobay, kata Duta Besar Indonesia untuk Filipina Agus Widjojo, merupakan percobaan yang ketiga setelah upaya pertama dan kedua mengalami kegagalan karena ditipu.

Agus menambahkan, upaya Anton itu juga bertujuan membuka jaringan baru pembelian senjata ilegal dari Filipina ke Papua.

Sebelumnya, Polri mengatakan Anton ditangkap polisi Filipina karena kedapatan memiliki 12 senjata ilegal pada 7 Januari lalu. Polisi menyebut senapan tersebut disebut akan dimasukkan ke Papua untuk mendukung kegiatan organisasi di sana.

Baca juga:

Pengamat kepolisian dari Universitas Bayangkara Jakarta, Hermawan Sulistyo, menjelaskan senapan ilegal dari Filipina merupakan salah satu sumber utama persenjataan kelompok kriminal bersenjata (KKB- istilah yang disebut pemerintah) di Papua.

Selain itu, katanya, pasokan senapan dan amunisi ilegal di Papua juga berasal dari jalur darat Papua Nugini, hasil perampasan dari TNI/Polri, hingga jual beli dengan oknum keamanan.

Terungkapnya penyelundupan senjata api ilegal dari Filipina ini bukan yang pertama. Aparat keamanan telah membongkar beberapa penyelundupan senjata dari Filipina yang melibatkan kelompok di Papua hingga jaringan teroris.

Juru bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (Komnas TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menegaskan bahwa Anton Gobay bukan bagian dari organisasinya.

Upaya yang ketiga dan membangun jaringan

Duta Besar Indonesia untuk Filipina, Agus Widjojo, menyebut Anton Gobay ditangkap saat polisi Filipina sedang melakukan razia.

Saat pemeriksaan, Agus melanjutkan, Anton tidak mampu menunjukkan surat kepemilikan senjata tersebut. Anton juga tidak membawa paspor atau kartu identitas walau kemudian dapat teridentifikasi sebagai WNI melalui sebuah sertifikat.

"Dari pengakuan yang bersangkutan (Anton) dan telah kami cek, dia juga terdaftar sebagai pelajar di sekolah penerbangan di Iba, Filipina, kata Agus saat dihubungi BBC News Indonesia, Kamis (02/01).

Agus Widjojo menambahkan, berdasarkan pengakuan Anton, senjata api tersebut akan dibawa ke Papua.

"Memang ada keterkaitan, bahkan ada niat, bahwa kegiatan itu dalam rangka mendukung kegiatan-kegiatan yang ada di Papua, yang saya maksud adalah KKB dan separatisme, katanya.

Namun Agus belum mengetahui kelompok kriminal bersenjata (KKB- istilah yang digunakan pemerintah) mana yang terlibat dengan pembelian senjata ilegal tersebut.

"Semua itu masih dalam rangka penggalian informasi dan belum sampai kepada hal-hal yang bisa untuk dirilis ke publik, tambahnya.

Agus menambahkan, mengutip pengakuan Anton, senjata tersebut diperoleh dari seseorang yang berasal dari Provinsi Cebu.

"Dan menurut dia, ini adalah upaya kali ketiga untuk mencari senjata di Filipina. Pertama, dia tertipu dan rugi. Kedua, tertipu lagi dan rugi. Yang ketiga ini baru berhasil.

"Jadi kelihatannya ini masih merupakan jaringan baru juga, dan dia juga dalam rangka membangun jaringan baru yang ada di sini [Filipina], ujar Agus.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo, Rabu (11/01) mengatakan, Anton membeli 12 senapan api ilegal di Filipina dengan identitas palsu dari seseorang di wilayah Danao City, Provinsi Cebu, Filipina, 7 Januari lalu.

Anton yang ditangkap bersama dua orang warga Filipina disebut membeli 10 pucuk senapan laras panjang M4 kaliber 5.56 dan dua senapan laras pendek Ingram 9mm.

Dedi menambahkan, Mabes Polri telah mengirim delapan anggotanya ke Filipina untuk melakukan koordinasi dengan otoritas setempat.

Dalam keterangan tertulis sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri, Irjen Pol Krishna Murti, mengatakan Anton Gobay mengaku akan membawa senapan itu ke Papua untuk mendukung kegiatan organisasi di sana.

TPNPB-OPM: Anton Gobay bukan anggota kami

Juru bicara Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (Komnas TPNPB-OPM), Sebby Sambom, menegaskan bahwa Anton Gobay bukan bagian dari organisasinya.

"Anton Gobay bukan bagian dari anggota kami. Dia bagian dari milisi-milisi tandingan yang mau saingi kami. Dia anggota Benny Wenda dari West Papua Army, kata Sebby.

Sebby juga menegaskan bahwa senjata-senjata yang digunakan oleh kelompoknya berasal dari dua sumber, yaitu hasil rampasan usai tembak menembak dengan aparat TNI/Polri, dan juga pembelian dari oknum-oknum aparat keamanan.

"Kalau beli itu satu-satu saja dari polisi dan tentara itu, namanya bisnis, uang, money is power. Sementara dari Filipina tidak pernah, kami tidak punya jaringan, ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Organisasi Papua Merdeka dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (OPM TPNPB), Jeffrey Bomanak, membenarkan bahwa senjata yang dibawa Anton Gobay merupakan milik organisasinya.

Tapi, pernyataan Jeffrey dibantah oleh Sebby yang mengatakan, "Jeffrey dan Benny itu anak kriminal, kelompok-kelompok kecil saja mereka, orang-orang ambisus. Seluruh Papua tidak akui mereka.

Pemasok senjata ilegal di Papua, bisnis yang menggiurkan

Pengamat kepolisian dari Universitas Bayangkara Jakarta, Hermawan Sulistyo, mengatakan Filipina merupakan salah satu pemasok utama senjata api yang digunakan oleh KKB di Papua.

Hermawan menjelaskan, pusat peredaran senjata itu berada di Filipina bagian selatan, basis pemberontakan kelompok komunis dan juga organisasi separatis Islam, seperti Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF).

"Mereka menjual senjata-senjata ilegal untuk mendanai operasi militer mereka sendiri, kan biayanya besar, walau sebenarnya amunisi itu tidak kenal ideologi, agama, dan kebangsaan, kenalnya hanya duit, kata Hermawan.

Senjata-senjata tersebut kemudian diselundupkan melalui jalur laut tradisional yang umumnya melewati Pulau Miangas, dan puluhan pulau kecil lain di sekitarnya untuk kemudian masuk ke daratan Sulawesi hingga Papua.

Selain Filipina, pasokan senjata ilegal Papua juga berasal dari Papua Nugini - masuk melalui jalur-jalur darat yang menyebar dari perbatasan di wilayah Jayapura hingga Merauke.

"Senjata itu diselundupkan dari Papua Nugini, dan dari Australia lewat Papua Nugini. Senjata masuk melalui pintu resmi hingga jalur- tikus perbatasan darat yang walau banyak pasukan bersenjata tapi tidak ketat, ujarnya.

Sumber ketiga adalah melalui hasil perampasan usai tembak menembak antara kelompok bersenjata Papua dengan aparat keamanan. Bahkan, ujar Hermawan, senjata juga berasal dari jual beli dengan oknum-oknum TNI/Polri sendiri.

"Ini bisnis yang lukratif dan menggiurkan, satu peluru yang harga pokoknya sekitar Rp5.000 bisa mencapai Rp150 ribu di pasar gelap Papua. Siapa yang tidak tergoda, bawa satu ransel saja bisa dapat jutaan, katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Kompolnas, Benny Mamoto, mengatakan bahwa wilayah Filipina bagian selatan merupakan salah satu sumber senjata api ilegal yang masuk ke Indonesia.

"Selama di kota Zamboanga, saya pernah ditawari senjata ilegal karena di sana memang banyak industri rumahan senjata api dengan kualitas bagus. Bahkan salah satu teroris Para Wijayanto pernah belajar membuat senjata di sana, ujar Benny.

Benny yang pernah masuk dalam tim pembebasan sandera di Filipina selatan tahun 2005 mengatakan, rute penyelundupan senjata dari Filipina ke wilayah Indonesia bagian timur di antaranya, dari Tawau ke Nunukan, lalu dari General Santos ke Talaud, lalu Maluku Utara dan tiba di Papua.

"Senjata dari Filipina selatan ini digunakan oleh kelompok JI (Jamaah Islamiyah) dan kelompok lain, termasuk di daerah konflik seperti Maluku waktu itu, ujarnya.

Benny menambahkan, "hasil pemeriksaan Anton Gobay akan terungkap rute yang ditempuh terungkap juga hubungan Anton Gobay dengan kelompok-kelompok bersenjata di Papua.

Jejak-jejak senjata ilegal dari Filipina di Indonesia

Dugaan penyelundupan senjata ilegal dari Filipina ke Indonesia bukan kali pertama.

Pada Mei 2022, polisi mengungkap penyelundupan delapan senjata api ilegal jenis UZI dan 40 butir amunisi kaliber 9mm dari Filipina ke Papua melalui Kepulauan Sangihe, dengan menggunakan jalur laut yaitu perahu kecil.

Tahun 2020, Polda Sulawesi Utara mengungkap penyelundupan senjata api jenis revolver hitam, dan satu butir amunisi ilegal yang diduga dari Filipina yang dijual ke wilayahnya untuk kemudian dikirim ke Papua Barat.

Masih di tahun yang sama, di Manokwari, Polda Papua Barat membongkar perdagangan enam pucuk senjata api dan 43 butir peluru ilegal dari Filipina.

Selain ke wilayah Papua, senjata api ilegal dari Filipina juga digunakan kelompok terorisme di Indonesia.

Polisi menyita dua senjata M16 ilegal dari Filipina yang digunakan anggota kelompok teroris Poso, tergabung dalam Mujahiddin Indonesia Timur.

Kemudian, terkait kelompok teror Bahrun Naim, polisi menyita sembilan pucuk senjata api ilegal dari Filipina.

Lalu Ahmad Khalil alias Hasan, pelaku teror yang melakukan pelemparan bom di Makassar juga diduga mendapatkan senjata dari Filipina.

Bahkan senjata ilegal dari Filipina juga sampai ke kota Depok, ketika Sofyan, yang terlibat dalam kasus ledakan teror bom Beji, mengaku membeli senjata api ilegal dari Filipina selatan.

Simak juga 'Ma'ruf Amin Minta Aparat Tangkap KKB di Pegunungan Bintang Papua':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT