Aktivis Iran Ungkap Tahanan Disiksa untuk Mengaku-Disiarkan di TV

ADVERTISEMENT

Aktivis Iran Ungkap Tahanan Disiksa untuk Mengaku-Disiarkan di TV

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 12 Jan 2023 12:28 WIB
Jakarta -

Salah satu aktivis perempuan terkemuka Iran menggambarkan bagaimana interogator memaksa para tahanan mengaku, melalui sebuah surat yang ditulis di dalam penjara.

Sepideh Qolian telah menjalani hukuman lima tahun penjara sejak 2018 setelah dia dinyatakan bersalah atas tindakan "mengganggu keamanan nasional" karena mendukung aksi mogok.

Lewat tulisannya dari Penjara Evin, dia menggambarkan tindakan brutal para interogator terhadap dirinya dan tahanan lain.

Pengakuan mereka, yang dibuat secara terpaksa, kemudian disiarkan di stasiun televisi milik negara.

Dalam suratnya, Qolian juga menyinggung aksi protes anti-pemerintah yang melanda negara tersebut.

"Pada tahun keempat saya dipenjara, saya akhirnya bisa mendengar langkah kaki pembebasan dari seluruh Iran," tulis Qolian dalam suratnya.

"Gaungan 'Perempuan, Kehidupan, Kebebasan' terdengar melalui dinding tebal penjara Evin."

Qolian kini mempelajari hukum di penjara. Dalam suratnya, dia menjelaskan bagaimana blok "budaya" di Penjara Evin, tempat dia mengikuti ujian, telah diubah menjadi gedung "penyiksaan dan interogasi".

Dia mengaku telah menyaksikan para tahanan muda diinterogasi di sana.

"Ruang ujian dipenuhi anak laki-laki dan perempuan, teriakan para penyiksa terdengar," tulisnya.

Qolian juga menggambarkan pemandangan yang dia saksikan pada 28 Desember 2022, ketika dia dibawa ke blok itu untuk ujiannya.

"Saat itu dingin sekali dan salju sedang turun, di dekat pintu keluar gedung, seorang anak laki-laki dengan mata tertutup dan hanya mengenakan kaus tipis berwarna abu-abu duduk di depan seorang interogator.

"Dia gemetar dan memohon: 'Saya bersumpah demi Tuhan saya tidak memukul siapa pun.' Mereka ingin dia mengaku. Ketika saya lewat saya berteriak: 'JANGAN mengaku,' dan 'Matilah kamu tiran.'"

Baca juga:

Sejauh ini, setidaknya 519 pengunjuk rasa -termasuk 69 anak-anaktelah tewas dan 19.300 orang ditangkap, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA). Ribuan orang telah dipenjara.

Banyak dari mereka yang ditangkap terancam hukuman mati, dan sejauh ini empat pengunjuk rasa telah digantung setelah pengakuan mereka ditayangkan di televisi.

Para aktivis HAM dan pengacara mengatakan bahwa persidangan mereka dijalankan tanpa ada pendampingan hukum, dan dilakukan setelah para terdakwa disiksa. Pihak berwenang menyangkal klaim itu.

Sejak dimulainya aksi protes massal pada September tahun lalu, puluhan pengakuan paksa dari pengunjuk rasa yang ditahan telah disiarkan di televisi.

Dalam suratnya, Qolian pun mengenang interogasi yang dia alami sendiri pada 2018 dan bagaimana dia dipaksa mengaku, setelah ditangkap karena mendukung aksi mogok pekerja di sebuah pabrik gula di Provinsi Khuzestan, Iran.

Qolian menggambarkan dia diinterogasi oleh seorang perempuan yang dia kira akan lebih lembut dibanding interogator laki-laki, dan "setidaknya dia tidak akan melakukan pelecehan seksual terhadap saya."

Tetapi, interogator perempuan itu "menendang kaki meja dan berteriak 'dasar pelacur komunis, dengan siapa kamu tidur?'"

Pada Desember tahun lalu, Nargess Mohammadi, seorang perempuan aktivis HAM yang menjalani hukuman penjara 34 tahun, menjelaskan secara rinci soal bagaimana perempuan yang ditangkap dalam aksi protes baru-baru ini dilecehkan secara seksual di penjara.

Qolian mengatakan perempuan yang menginterogasinya mengangkat penutup matanya dan memerintahkan dia menggambarkan dugaan hubungan seksualnya di depan kamera. Qolian menolak perintah itu.

Setelah berjam-jam diinterogasi, dia memohon untuk dibawa ke toilet. Begitu sampai di toilet perempuan, dia menjelaskan, interogator perempuan itu mendorongnya ke dalam dan mengurungnya.

Menurut Qolian, toilet tempat dia dikurung berada di dalam ruang interogasi, sehingga dia bisa mendengar seorang laki-laki disiksa dan dicambuk.

"Suara penyiksaan berlanjut selama berjam-jam atau mungkin sehari, mungkin juga lebih, saya sampai tidak mengenali waktu," tulisnya.

Qolian menjelaskan bahwa setelah dibebaskan dari toilet, kekurangan tidur setelah tiga hari akibat diinterogasi terus menerus, dia dibawa ke sebuah ruangan di mana ada kamera dipasang.

"Saya mengambil naskah darinya saat saya setengah sadar, lalu duduk di depan kamera dan membacanya," tulisnya.

Berdasarkan pengakuan itu, Qolian dijatuhi hukuman lima tahun penjara.

Pada 2019, Qolian berada di Penjara Qarchak dan mengenali interogatornya saat dia menonton pengakuan paksa dari tahanan lain di televisi.

Dalam sebuah surat terbuka dia mengidentifikasi interogator itu sebagai Ameneh Sadat Zabihpour, seorang "jurnalis-interogator" yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Pada November 2022, Departemen Keuangan AS memberikan sanksi kepada Zabihpour karena berperan mendapatkan dan menyiarkan pengakuan paksa dari warga negara ganda dan tahanan lainnya.

Zabihpour kemudian menggugat Qolian, yang menerima tambahan hukuman delapan bulan karena tuduhannya.

Qolian mengakhiri suratnya dengan menggambarkan aksi protes di Iran sebagai "revolusi".

"Hari ini suara yang kita dengar di jalan-jalan Marivan, Izeh, Rasht, Sistan, dan Balouchestan dan di seluruh Iran lebih keras daripada suara di ruang interogasi, ini adalah suara revolusi, suara sejati perempuan, kehidupan, kebebasan."

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT