Apa Rencana Kim Jong Un dengan Rudal-Senjata Nuklir di Tahun 2023?

ADVERTISEMENT

Apa Rencana Kim Jong Un dengan Rudal-Senjata Nuklir di Tahun 2023?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 04 Jan 2023 08:54 WIB
Getty Images
Pyongyang -

Korea Utara memecahkan rekor pada 2022. Negara itu menembakkan lebih banyak rudal dalam satu tahun jika dibanding masa sebelumnya.

Faktanya, seperempat dari semua rudal yang pernah diluncurkan Korea Utara menghantam langit pada 2022.

Itu merupakan tahun yang sama ketika Kim Jong-un menyatakan bahwa Korea Utara telah menjadi negara bersenjata nuklir dan senjata itu akan tetap ada.

Situasi itu telah meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea hingga level tertinggi sejak 2017, ketika Presiden AS Donald Trump mengancam Korea Utara dengan "api dan amarah".

Lalu apa yang mungkin terjadi selanjutnya?

Perkembangan senjata nuklir

Pada 2022, Korea Utara membuat kemajuan signifikan dalam persenjataannya.

Mereka memulai tahun ini dengan menguji rudal jarak pendek yang dirancang untuk menyerang Korea Selatan, diikuti oleh rudal jarak menengah yang bisa menjangkau Jepang.

Pada akhir 2022, Korea Utara menguji rudal balistik antarbenua terkuat sejauh ini, Hwasong 17, yang secara teori mampu mencapai wilayah mana pun di daratan AS.

Rudal Korea Utara

BBC

Kim juga menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir. Setelah pada September mengumumkan bahwa Korea Utara telah menjadi negara senjata nuklir, dia mengungkapkan bahwa senjata-senjata itu tidak lagi dirancang hanya untuk mencegah perang, tetapi juga bisa digunakan secara pre-emptive dan ofensif untuk memenangkan perang.

Menjelang akhir tahun, dia mengumpulkan anggota Partai Buruh yang berkuasa, untuk menetapkan resolusinya pada 2023.

Resolusi utamanya adalah untuk "meningkatkan secara eksponensial produksi senjata nuklir".

Menurut Kim, itu mencakup produksi massal senjata nuklir taktis yang lebih kecil, yang dapat digunakan untuk berperang melawan Korea Selatan.

Ini adalah perkembangan paling serius, menurut pakar senjata nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda.

Untuk menciptakan senjata nuklir taktis, Korea Utara pertama-tama harus membuat bom nuklir mini, yang dapat dimuat ke rudal kecil.

Dunia belum melihat bukti bahwa Pyongyang mampu melakukan ini.

Komunitas intelijen menghabiskan sebagian besar 2022 menunggu Korea Utara menguji coba perangkat semacam itu, tapi itu belum terjadi, dan 2023 mungkin tahun yang tepat.

Hal lain yang masuk dalam resolusi tahun baru Kim adalah satelit mata-mata, yang dia klaim akan diluncurkan pada musim semi ini, serta rudal balistik antarbenua (ICBM) berbahan bakar padat yang lebih kuat, yang dapat ditembakkan ke AS tanpa peringatan dibandingkan model yang ada saat ini.

Oleh sebab itu, kita dapat berasumsi bahwa 2023 akan bernuansa seperti 2022. Artinya, Pyongyang bakal secara agresif menguji, menyempurnakan, dan memperluas persenjataan nuklirnya yang bertentangan dengan sanksi PBB.

Bahkan, kurang dari tiga jam memasuki tahun baru, Korut telah menguji coba rudal pertamanya.

Tapi, Panda mengatakan "sebagian besar peluncuran rudal di tahun mendatang mungkin bukan berupa uji coba, tapi latihan, karena Korea Utara kini bersiap menggunakan misilnya dalam kemungkinan konflik".

Adakah perundingan?

Dengan target yang begitu banyak untuk diwujudkan, Kim kemungkinan tidak akan memilih tahun ini untuk kembali berunding dengan AS.

Negosiasi terakhir soal denuklirisasi berujung gagal pada 2019, dan sejak saat itu Kim tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berbicara.

Salah satu kemungkinannya adalah dia akan menunggu sampai dia memiliki daya ungkit maksimum. Perundingan mungkin tidak akan terwujud sampai dia membuktikan bahwa Korea Utara bisa menimbulkan kehancuran bagi AS dan Korea Selatan, dengan mengajukan sejumlah persyaratan.

Sebaliknya, selama setahun terakhir, Korea Utara kian dekat dengan China dan Rusia. Negara itu mungkin sedang mengubah kebijakan luar negerinya secara mendasar, menurut Rachel Minyoung Lee, yang bekerja sebagai analis Korea Utara untuk pemerintah AS selama 20 tahun, dan sekarang bekerja di Open Nuclear Network.

"Jika Korea Utara tidak lagi menganggap AS diperlukan untuk keamanan dan kelangsungan hidupnya, itu akan sangat berdampak pada bentuk negosiasi nuklir di masa depan," kata dia.

Ketegangan di Semenanjung Korea

Sementara itu, gejolak terus berkembang di semenanjung Korea.

Untuk setiap "provokasi Korea Utara, Korea Selatan dan terkadang Amerika Serikat membalasnya.

Itu dimulai pada Mei 2022, dengan terpilihnya presiden baru Korea Selatan, yang berjanji akan lebih keras terhadap Korea Utara.

Presiden Yoon Suk-yeol yakin bahwa cara terbaik menghentikan Korea Utara adalah dengan menanggapinya dengan kekuatan militer.

Dia memulai kembali latihan militer bersama berskala besar dengan AS, yang diprotes Korea Utara dengan meluncurkan lebih banyak rudal.

Ini memicu siklus aksi militer balas-balasan, di mana kedua belah pihak menerbangkan pesawat tempur di dekat perbatasan mereka, dan menembakkan artileri ke laut.

Pekan lalu, situasi memanas ketika Korea Utara tiba-tiba menerbangkan lima drone ke wilayah udara Korea Selatan. Korea Selatan gagal menembak jatuh drone itu, memperlihatkan kelemahan pertahanannya dan memicu kekhawatiran warga sipil Korea Selatan, yang biasanya tidak peduli dengan aktivitas Korea Utara.

Presiden bersumpah Korea Selatan akan membalas dan menghukum Korea Utara untuk setiap provokasi yang dilancarkan.

Chad OCarrol, CEO Korea Risk Group, sebuah layanan analisis yang memantau Korea Utara, memperkirakan bahwa pada 2023, kemungkinan besar akan terjadi konfrontasi langsung antara Korea Utara dan Selatan, yang bahkan dapat mengakibatkan kematian.

"Respons Utara atau Selatan dapat meningkat ke titik di mana kita melihat baku tembak yang sebenarnya, disengaja atau tidak," kata dia.

Satu kesalahan atau salah perhitungan dan situasinya bisa berputar.

Apa yang terjadi di dalam negeri Korea Utara?

Pertanyaan yang sama pentingnya adalah apa yang akan terjadi pada 2023 bagi rakyat Korea Utara?

Mereka telah melalui tiga tahun penutupan perbatasan yang ketat terkait pandemi.

Bahkan perdagangan dihentikan akibat upaya mengatasi penyebaran virus corona, yang menurut sejumlah organisasi kemanusiaan menyebabkan kurangnya pasokan makanan dan obat-obatan yang parah.

Tahun lalu, dalam pengakuan yang langka, Kim berbicara mengenai "krisis pangan".

Kemudian pada Mei 2022, Korea Utara mengakui wabah virus pertamanya, tapi hanya dalam beberapa bulan kemudian, mengklaim telah mengalahkannya.

Jadi, apakah tahun 2023 akan menjadi tahun di mana perbatasan Korea Utara dengan China dibuka kembali, dan mereka akan mengizinkan lalu lintas orang dan pasokan logistik?

Pembukaan kembali perbatasan dengan China membawa harapan.

Korea Utara dilaporkan memvaksinasi orang-orang yang tinggal di sepanjang perbatasan sebagai persiapan, tetapi mengingat kapasitas layanan kesehatannya yang genting, Lee cukup was-was.

"Kecuali ada keadaan darurat, misalnya ekonomi mereka di ambang kehancuran, tidak mungkin Korea Utara akan sepenuhnya membuka kembali perbatasan sampai pandemi dapat dianggap selesai secara global, terutama di negara tetangganya, China," kata dia.

Satu lagi perkembangan yang harus diperhatikan adalah petunjuk tentang siapa yang akan memimpin Korea Utara setelah Kim Jong-un.

Rencana suksesinya tidak diketahui, tetapi tahun lalu dia untuk pertama kalinya dia mengungkap secara terbuka salah satu anaknya, seorang perempuan, yang diperkirakan putrinya yang bernama Kim Chu-ae.

Sejauh ini, Chu-ae telah muncul di tiga acara militer, dan lebih banyak foto dirilis pada Hari Tahun Baru, membuat sejumlah orang berspekulasi apakah dia yang akan menjadi suksesi Jong-un.

Tentu saja, Korea Utara tidak dapat diprediksi sama sekali, dan 2023 tampaknya akan menjadi tahun yang juga tidak bisa diprediksi dan tidak stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT