Bikin RS Kewalahan, Berapa Sebenarnya Jumlah Kasus-Kematian Corona di China?

ADVERTISEMENT

Bikin RS Kewalahan, Berapa Sebenarnya Jumlah Kasus-Kematian Corona di China?

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 31 Des 2022 19:13 WIB
Rumah sakit di seluruh China mengalami tekanan karena naiknya kasus. (Getty Images)
Beijing -

Secara resmi, baru ada 13 kematian akibat COVID di China sepanjang Desember 2022.

Namun, China memiliki kriteria terbatas untuk mengonfirmasi kematian akibat COVID.

Mereka hanya menghitung kematian yang disebabkan secara langsung oleh COVID-19, bukan yang terjadi karena komorbid atau riwayat penyakit pasien.

Baca juga:

Metode pendataan ini tidak sesuai dengan arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga angka kematian China jauh di bawah negara-negara lain.

China sudah berhenti menerapkan tes COVID massal dan hanya mencatat kasus positif dengan gejala yang dilaporkan rumah sakit dan klinik kesehatan. Kasus tanpa gejala dan perangkat tes rumahan tidak terdaftar dalam data pemerintah.

Saat ini, data pemerintah China mencatat sebanyak 5.000 kasus per hari.

Sementara, perusahaan riset berbasis Amerika Serikat Airfinity mengatakan model estimasi mereka memperkirakan jumlah kasus di China bisa mencapai hingga tiga juta kasus pada Januari nanti.

Seberapa besar tekanan yang dialami rumah sakit China?

Rumah sakit di Tianjin pada 28 Desember.

Rumah sakit di Tianjin pada 28 Desember. (Getty Images)

Meski angka resmi tergolong rendah, WHO telah memperingatkan sektor kesehatan China dapat mengalami tekanan berat.

Kantor berita Reuters melaporkan rumah sakit di China kewalahan saat periode Natal. Melalui rekaman video, tampak antrean panjang di depan klinik dan pasien berbaring pada kasur rumah sakit di tengah ruang tunggu yang ramai.

Video-video di media sosial sepanjang Desember memperlihatkan rumah sakit yang penuh pasien.

Dengan membandingkan berbagai tangkapan gambar, BBC berhasil memverifikasi dua video dari rumah sakit anak di Tianjin, China Utara.

Namun, kami belum bisa memverifikasi sejumlah video lainnya yang muncul.

Baca juga:

Sulit untuk memastikan seberapa parah situasi terkini jika dibandingkan dengan kondisi normal. Sebab, China menyaring informasi yang keluar dari negaranya dengan sangat ketat.

Tim BBC di Beijing telah melaporkan antrean panjang di depan klinik kesehatan dan tingginya permintaan obat demam di apotek.

Pusat kesehatan sementara sedang didirikan bersama dengan fasilitas perawatan intensif di negara tersebut.

Media nasional CCTV melaporkan Rumah Sakit Chaoyang di Beijing akan meningkatkan kemampuannya karena jumlah pasien yang masuk naik empat kali lipat.

Mereka juga melaporkan di Shanghai sebanyak 230.000 kasur rumah sakit tambahan telah tersedia.

Seperti apa perubahan kebijakan COVID di China?

Pelonggaran pembatasan COVID-19 di China terjadi secara tiba-tiba setelah protes massal pada November lalu, ketika warga menolak karantina wilayah di seluruh negeri.

Sebelum peraturan dilonggarkan, China memiliki salah satu kebijakan anti-COVID paling ketat sedunia, yang dikenal sebagai kebijakan nol-COVID.

Langkah-langkah tersebut mencakup karantina wilayah ketat meskipun hanya segelintir kasus COVID yang ditemukan, pengujian massal di tempat-tempat di mana kasus dilaporkan, dan orang yang positif COVID harus isolasi di rumah atau melakukan karantina di fasilitas pemerintah.

Kini, karantina wilayah telah dihapus, dan aturan karantina dihilangkan.

Bahkan, tes COVID negatif tidak lagi menjadi syarat memasuki angkutan umum, restoran, pusat kebugaran, dan ruang publik lainnya (kecuali panti asuhan dan panti jompo).

Para pejabat China juga menyatakan mereka hendak membuka perbatasan mulai 8 Januari dengan menghilangkan syarat perjalanan dan karantina untuk pendatang.

Beberapa negara termasuk AS menerapkan syarat ketat bagi kedatangan turis asal China akibat gelombang penyebaran COVID yang melanda.

Bagaimana tingkat vaksinasi di China?

Secara keseluruhan, China melaporkan sebanyak 90% dari populasinya sudah vaksinasi lengkap.

Namun, kurang dari setengah warga berusia 80 tahun ke atas telah menerima tiga dosis vaksin. Bahkan, tingkat vaksinasi pada April lalu untuk kelompok ini jauh lebih rendah, yakni kurang dari 20%.

Aparat China kini mengatakan mereka memerlukan layanan kesehatan lokal untuk "meningkatkan sistem imun seluruh populasi, khususnya para lansia".

Ada pula kerisauan terkait jenis-jenis vaksin utama yang digunakan China, yakni Sinovac dan Sinopharm dan apakah mereka cukup efektif untuk melawan varian Omicron.

Omicron sendiri merupakan varian COVID yang paling mudah menyebar.

China secara terang-terangan menolak menggunakan vaksin yang diproduksi negara Barat. Pemerintah China pun tak memberikan penjelasan di balik keputusan tersebut.

Namun, sikap nasionalis bisa saja menjadi faktor menurut Dr Yu Jie, peneliti senior terkait China dan urusan Internasional di Chatham House.

"Saya pikir Xi Jinping benar-benar memikirkan kemandirian ekonomi - yang membutuhkan China untuk memproduksi dan menggunakan vaksinnya sendiri, daripada mengimpornya dari suatu tempat."

Laporan dibuat oleh Wanyuan Song, Jake Horton and Jeremy Howell.

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT