Ilmuwan Ungkap Ular Betina Ternyata Punya Klitoris

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Ungkap Ular Betina Ternyata Punya Klitoris

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 15 Des 2022 14:03 WIB
Penemuan klitoris pada ular betina membuka pintu bagi pemahaman baru tentang hubungan seks ular. (Getty Images)
Jakarta -

Para ilmuwan telah menemukan bahwa ular betina memang memiliki klitoris mematahkan anggapan lama bahwa ular betina tidak memiliki organ seksual.

Penelitian yang diterbitkan pada Rabu (14/12) menyajikan penjabaran pertama mengenai anatomi alat kelamin ular betina secara tepat dan deskriptif.

Penis ular - hemipenis - telah dipelajari selama beberapa dekade. Bentuknya bercabang dan ada pula yang dilengkapi dengan sejumlah taji.

Di sisi lain, organ seks ular betina telah "diabaikan", kata para peneliti.

Artinya bukan berarti organ seks ular betina sulit dicari, melainkan para peneliti selama ini tidak pernah benar-benar berusaha mencarinya.

"Ada kombinasi alat kelamin betina tergolong tabu, para ilmuwan tidak dapat menemukannya, dan khalayak menerima kesalahan pelabelan ular interseks," kata Megan Folwell, seorang kandidat doktor dan peneliti utama.

Makalah hasil kajian Folwell dan rekan-rekannya yang diterbitkan pekan ini dalam Proceedings of the Royal Society B Journal menemukan keberadaan klitoris pada ekor ular betina.

Ular betina sejatinya memiliki dua klitoris individu - hemiclitores - yang dipisahkan oleh jaringan dan tersembunyi di bagian bawah ekor.

Organ berdinding ganda ini terdiri dari saraf dan sel darah merah yang konsisten dengan jaringan ereksi, kata para peneliti.

Baca juga:

Folwell mengatakan dia mulai mencari keberadaan klitoris ular betina setelah membaca literatur tentang organ seksual ular betina yang menyebut ular betina tidak punya klitoris atau telah tersisih melalui evolusi. "[Penjelasan] itu tidak cocok dengan saya," katanya.

"Saya tahu itu [klitoris] ada di banyak hewan dan tidak masuk akal bahwa itu [klitoris] tidak ada di semua hewan," katanya.

"Saya harus menyelisik, melihat apakah struktur ini ada atau hanya terlewatkan," katanya.

Dia memulai penyelidikan dengan memeriksa ular death adder betina. Dia segera menemukan klitoris - struktur berbentuk hati - di dekat kelenjar aroma yang digunakan ular untuk menarik lawan jenis.

"Ada struktur ganda yang cukup menonjol pada ular betina yang sangat berbeda dengan jaringan di sekitarnya - dan tidak ada hubungan dengan struktur [penis] yang pernah saya lihat sebelumnya."

Timnya kemudian memeriksa keberadaan klitoris pada berbagai ular betina. Mereka membedah sembilan spesies termasuk ular sanca karpet, puff adder, dan moccasin Meksiko.

Klitoris ular-ular tersebut bervariasi dalam ukuran tetapi khas.

Menulis kembali pengetahuan soal anatomi seks ular

Temuan ini membuka pintu bagi pemahaman baru tentang seks ular, serta rangsangan dan stimulasi ular betina.

Sampai saat ini, para ilmuwan meyakini seks ular "kebanyakan tentang pemaksaan dan aksi ular jantan yang memaksa kawin," kata Folwell.

Pemahaman itu terbentuk ketika mengamati perilaku seksual ular, ular jantan biasanya cukup agresif secara fisik sedangkan ular betina lebih "tenang".

"Kini dengan ditemukannya klitoris [pada ular], kita bisa mulai lebih menilik rayuan dan rangsangan sebagai bentuk kesediaan betina untuk kawin dengan jantan," katanya.

Itu juga memberikan pemahaman baru pada sesi 'pemanasan' sebelum hubungan seks. Ular jantan cukup sering menggosok ekornya atau akan melingkari ekor pasangannya - tempat klitoris berada.

Folwell mengatakan sejauh ini temuan baru seputar ilmu soal ular disambut positif - "sedikit mengejutkan karena hal tersebut sudah lama terlewatkan, tetapi juga mengejutkan karena masuk akal bahwa itu ada".

Dia mencatat bahwa pada beberapa spesies ular betina, klitorisnya rapuh dan sangat kecil - kurang dari satu milimeter.

Ada juga kepercayaan bahwa ular betina punya versi penis yang lebih kecil, seperti pada biawak. Dalam beberapa penelitian ular interseks sebelumnya, para ilmuwan telah salah mengartikan penis sebagai klitoris.

Salah satu peneliti lain dalam proyek tersebut, Profesot Kate Sanders dari Universitas Adelaide, mengatakan penemuan itu tidak akan terjadi jika bukan karena "perspektif segar" Folwell.

"Penemuan ini menunjukkan bagaimana sains membutuhkan beragam pemikir dengan beragam ide untuk maju," kata Sanders.

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT