Kumpulan Rahasia Perempuan Afghanistan dalam Kekuasaan Taliban

ADVERTISEMENT

Kumpulan Rahasia Perempuan Afghanistan dalam Kekuasaan Taliban

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 13 Des 2022 10:04 WIB
Nama pena Paranda secara harfiah berarti 'burung'. (BBC)
Jakarta -

"Pena saya adalah sayap seekor burung; pena tersebut akan memberi tahu Anda pikiran-pikiran yang tidak boleh kami pikirkan, mimpi-mimpi yang tidak boleh kami impikan."

Terkadang suara-suara lantang perempuan Afghanistan muncul dari jalan-jalan Kota Kabul dan kota-kota lain dalam aksi protes kecil.

Sering kali, suara itu terdengar melalui pidato yang dilontarkan perempuan di tempat jauh, di luar Afghanistan.

Namun pikiran para perempuan Afghanistan kebanyakan diungkapkan secara diam-diam di tempat yang aman. Atau hanya membusuk di dalam kepala saat mereka mencoba berdamai dengan peraturan pemerintah Taliban yang semakin kaku.

Taliban membatasi apa yang boleh dikenakan kaum perempuan, di mana mereka bekerja, apa yang dapat atau tidak dapat mereka lakukan dengan hidup mereka.

Beberapa bulan sebelum Taliban kembali berkuasa, pada Agustus 2021, 18 penulis perempuan Afghanistan menulis cerita fiksi yang diambil dari kehidupan nyata dan diterbitkan awal tahun ini dalam buku berjudul My Pen is the Wing of a Bird.

Baca juga:

Banyak perempuan Afghanistan merasa dikecewakan dan ditinggalkan oleh komunitas internasional.

Akan tetapi, para penulis ini menggunakan pena dan telepon mereka untuk menghibur satu sama lain serta merenungkan masalah yang sekarang dihadapi oleh jutaan perempuan dan anak perempuan di negara mereka.

Melalui artikel ini, dua penulis di Kabul, dengan nama pena Paranda dan Sadaf, membagikan pemikiran mereka yang ditulis secara rahasia.

'Apakah memakai kerudung pink adalah sebuah dosa?'

Paranda berjalan memakai kerudung pink.

Paranda berjalan memakai kerudung pink. (BBC)

"Hari ini saya bangun dengan sebuah tekad. Saat saya memilih-milih busana, saya memutuskan memakai kerudung pink untuk melawan kerudung hitam yang saya kenakan sehari-hari.Apakah memakai kerudung pink adalah sebuah dosa?"

Paranda lebih suka memakai warna pink, agar terkesan feminin. Tapi apa yang perempuan pilih untuk dipakai kini menjadi medan pertempuran.

Dekrit keras Taliban tentang kesopanan ditegakkan, sering kali dengan cara paksa. Dalam masyarakat tradisional ini, perempuan Afganistan bukan menentang penutup kepala - sebagian hanya menginginkan hak untuk memilih.

Anda melihatnya di jalanan, di ruang publik. Syal merah muda. Ujung kain yang berkilau. Sedikit terang dalam gelap.

'Kami tidak bisa kembali'

"Bergerak mundur bukanlah hal mudah. Melangkah maju juga sangat sulit, apakah seharusnya saya berharap atau tidak? Kami tidak bisa melangkah mundur," tulis penyair, Hafizullah Hamim.

Kaum perempuan Afghanistan telah memimpin perubahan dalam aksi demonstrasi yang jarang terjadi. Kumpulan kecil massa pemberani telah turun ke jalan di Kabul dan kota lainnya dengan mengusung spanduk bertuliskan "roti, pekerjaan, kebebasan."

Mereka kemudian dibubarkan secara paksa dan ditahan.

Beberapa perempuan menghilang ketika ditahan. Di negeri tetangga, Iran, kaum perempuan juga memimpin seruan perubahan dengan meneriakkan "perempuan, hidup, kebebasan" serta menuntut diakhirinya kewajiban berhijab.

Bagi warga Afghanistan, tuntutannya adalah hak bagi perempuan untuk bekerja serta hak bagi anak perempuan untuk mendapat pendidikan.

'Ketakutan berubah menjadi amarah'

bendera Taliban

Pos pemeriksaan Mazar-i-Sharif. (BBC)

'"Penjaga Taliban menghentikan mobil kantor kami, dia menunjuk pada saya jantung saya berdebar cepat, tubuh saya bergetar. Rasanya seperti angin bertiup ke arahku... saat mobil kami menjauh, rasanya seperti angin bergerak ke arah lain. Ketakutanku berubah menjadi kemarahan."

Ketidakpastian adalah hal yang sangat sulit. Beberapa penjaga Taliban bersikap agresif, beberapa lebih menerima.

Perjalanan para perempuan sangat menegangkan. Untuk menempuh jarak jauh lebih dari 72 km, kehadiran seorang mahram - pendamping laki-laki - adalah hal wajib. Beberapa anggota Taliban menerapkan aturan sesuka hati - mengirim perempuan pulang dengan seenaknya.

'Kegembiraan menyantap es krim'

Keluarga Afghanistan menikmati es krim.

Keluarga Afghanistan menikmati es krim. (BBC)

"Kegirangan saat memakan es krim waktu kanak-kanak setara dengan kegirangan saat berangkat ke luar angkasa untuk orang dewasa."

Anda sering melihat antrean di kios es krim, kerumunan perempuan dan anak-anak di kafe. Tempat-tempat ini menjadi tempat pelarian guna mendapat kenikmatan langka.

Sekarang taman umum, pusat kebugaran, dan pemandian khusus perempuan tak lagi bisa diakses semua orang, "karena perempuan tidak mematuhi hijab". Semua ini berarti ruang kecil bisa menjadi lebih sempit lagi.

'Bertunangan pada usia 13 tahun'

Anak-anak perempuan berdiri di luar kios es krim di Kabul.

Anak-anak perempuan berdiri di luar kios es krim di Kabul. (BBC)

"Anak perempuan pemilik pemandian umum telah bertunangan. Bukan main. Usianya baru 13 tahun. Ibunya mengatakan bahwa Taliban tidak akan pernah membuka kembali sekolah, biarkan ia pulang ke rumah penuh keberuntungan sepertinya anak perempuan itu saya Saya putus asa saat pertama kali Taliban tiba. Saya juga menerima pernikahan paksa... lukanya masih belum sembuh... tapi saya bangkit dari abu dan berdiri."

Penindasan ini terus berulang. Perempuan Afghanistan mengenang, dengan rasa sakit, pemerintahan Taliban era 1990-an yang juga mengakhiri pendidikan mereka.

Paranda, seperti banyak perempuan lainnya, memanfaatkan peluang ketika rezim digulingkan pada tahun 2001 - untuk bersekolah atau bercerai.

Generasi baru pelajar putri telah tumbuh dengan impian yang lebih besar. Rasa sakit mereka mendalam karena sekolah mereka tetap tutup.

Baca juga:

'Kata-kata yang digunakan laki-laki terhadap perempuan'

Keluarga di kios es krim Kota Kabul

Suasana malam di Kabul. (BBC)

"Saya dulu menggunakan media sosial tetapi kini saya telah mengunci bibir. Saya kecewa dengan masyarakat, kata-kata telanjang yang digunakan laki-laki terhadap perempuan. Saya percaya akar masalah perempuan Afghanistan bukanlah pemerintah yang mengubah dan membawa peraturan baru... tetapi pikiran jahat laki-laki terhadap perempuan."

Rezim Afghanistan datang dan pergi; patriarki dipertahankan. Perempuan Afghanistan telah lama hidup dengan batasan yang ditetapkan oleh pria.

Namun kemajuan dalam beberapa tahun terakhir dibalikkan - dengan apa yang digambarkan PBB sebagai "penindasan mengejutkan". Efeknya terasa langsung - menguatkan norma keluarga konservatif yang mengungkung perempuan dewasa dan anak perempuan.

'Percaya negara yang baik akan datang'

ParandaBBCParanda menulis.

"Saya harus menulis tentang apa yang sedang terjadi. Ada begitu sedikit media sekarang... Saya yakin, suatu hari nanti, Afghanistan akan menjadi negara yang sangat baik bagi perempuan dewasa dan anak perempuan. Perlu waktu. Tapi itu akan terjadi."

Paranda adalah nama pena yang berarti burung. Perempuan seperti dia, terutama perempuan terpelajar di kota, menolak dikurung. Banyak yang melarikan diri. Banyak yang masih berharap.

Sekumpulan kecil perempuan dengan berani memprotes. Bahkan di pelosok negeri yang terpencil, saya telah bertemu dengan perempuan buta huruf yang geram karena kehidupan mereka terasa seperti penjara.

'Menulis agar pulih'

Buku harian Paranda.BBCBuku harian Paranda.

"Tulis! Kenapa kamu takut? Siapa yang kamu takuti? Mungkin tulisanmu bisa memulihkan jiwa seseorang Penamu menjadi topangan bagi lengan patah seseorang dan memberikan sedikit harapan untuk orang-orang yang tak punya harapan," tulis Sadaf.

Kehidupan seorang penulis di manapun bisa dipenuhi ketidakyakinan dan ketakutan. Bagi perempuan Afghanistan, perasaan itu dialami saat hendak mencari sudut sunyi yang aman untuk menulis, untuk menempa keyakinan diri dan tujuan.

Ketika karya mereka diterbitkan dalam buku berjudul in "My Pen is the Wing of a Bird", kata-kata mereka mendapat nyawa baru.

"Salah seorang siswa memperkenalkan buku itu dengan kata-kata yang indah, dan bagian terbaiknya adalah ketika dia menyebut nama saya. Semua siswa saya bersorak untuk saya. Saya menulis ini sebagai kenangan terindah dalam hidup saya."

'Saya adalah pencari nafkah'

Seorang anak perempuan berusia 8 tahun memotong kayu bersama keluarganya di Provinsi Nuristan.BBCSeorang anak perempuan berusia delapan tahun memotong kayu bersama keluarganya di Provinsi Nuristan.

"Keyakinan saya mengajarkan saya agar tidak khawatir akan uang karena Tuhan mungkin memiliki sesuatu yang lebih baik bagi saya. Namun Tuhan tahu mengapa saya khawatir. Kami adalah keluarga beranggotakan 10 orang, dan saya satu-satunya pencari nafkah. Penghasilan saya tidak jauh lebih baik saat kekuasaan republik yang lalu, dan tidak baik di Emirat Islam ini."

Pekerjaan perempuan belum terhapus. Beberapa dokter perempuan, perawat, guru, polisi perempuan masih bekerja, terutama terkait penanganan perempuan dewasa dan anak perempuan.

Beberapa pengusaha perempuan masih berbisnis- tapi ada krisis ekonomi yang menghancurkan. Dan posisi telah ditutup untuk perempuan di sebagian besar kementerian.

Dengan ditutupnya sekolah menengah khusus perempuan, hubungan antara perempuan dan pekerjaan terputus.

'Kamu kuat'

Sekolah di Kabul.BBCSekolah di Kabul.

"Saya bilang, 'Tidak, tidak! Saya tidak bisa bunuh diri.' Saya menghibur diri sendiri, dengan mengatakan, 'Mungkin kamu tidak ingin hidup. Tetap saja, kematian kamu akan mempengaruhi banyak kehidupan lainnya. Tolong berbaik hati kepada mereka, kamu kuat, semuanya akan baik-baik saja, kamu bisa melakukannya. Ini pun akan berlalu.'"

Ini adalah bisikan yang terdengar di mana-mana. Upaya bunuh diri - terutama di kalangan perempuan muda - dilaporkan meningkat, tetapi sulit untuk dikonfirmasi. Keluarga menyimpan rahasia mereka. Rumah sakit umum diminta untuk menyembunyikan bukti apa pun.

Sebuah Lembaga PBB memberi tahu saya ketika mereka bertemu perempuan di daerah-daerah pelosok masalah ini muncul. Kawin paksa gadis-gadis muda yang tidak boleh bersekolah disebut-sebut sebagai penyebabnya.

'Kapan semua ini berakhir?'

Paranda memegang sebuah klise foto di Afghanistan pada 1970-an.BBCParanda memegang sebuah klise foto di Afghanistan pada 1970-an.

"Bagaimana kami bisa normal tanpa menjadi gila? Seberapa besar rasa sakit yang bisa kami tolerir? Akhirnya, hati saya menerima bahwa tanah ini telah menghadapi segala sesuatu yang tidak manusiawi dan kejam. Tapi kapan ini akan berakhir?"

Lebih dari satu generasi kini hanya mengenal peperangan - sudah lebih dari empat dekade. Negara ini berpindah dari satu konflik ke konflik berikutnya.

Warga Afghanistan tetap berani bermimpi bab berikutnya akan lebih baik dari yang sebelumnya. Ini adalah kisah yang sepertinya tidak pernah berakhir.

Baca juga:

'Secercah harapan'

Sekelompok perempuan berjalan melintas depan sebuah restoran di Kabul.BBCSekelompok perempuan berjalan melintas depan sebuah restoran di Kabul.

"Saya memercikkan kilauan harapan pada permukaan hati saya Terdapat api dalam diri saya. Ada semangat di dalam diri saya yang menyuruh saya untuk bertarung. Saya harus percaya bahwa hukum alam akan mengirimkan perintahnya di hari-hari gelap ini untuk mengubah kegelapan menjadi terang."

Warga Afghanistan sering mengatakan harapan adalah hal terakhir yang mati. Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum Taliban mengambil alih, ketika kekerasan kian hari meningkat, beberapa orang mengatakan harapan juga terbunuh.

Namun, orang-orang yang telah hidup melewati begitu banyak hal masih berpegang teguh pada harapan apa pun yang masih hidup.

Foto-foto oleh Nanna Muus Steffensen

Untold's diary project disokong Bagri Foundation dan the British Council. Kumpulan cerita pendek My Pen Is the Wing of a Bird: New Fiction by Afghan Women, diterbitkan olej MacLehose Press.

BBC 100 Women logo 2022BBC

BBC 100 Women names 100 inspiring and influential women around the world every year. Follow BBC 100 Women on Instagram, Facebook and Twitter. Join the conversation using #BBC100Women.

Simak juga 'Taliban Larang Wanita Pergi ke Taman hingga Gym':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT