Jerman Tangkap 25 Orang yang Coba Kudeta Pemerintah, Siapa Mereka?

ADVERTISEMENT

Jerman Tangkap 25 Orang yang Coba Kudeta Pemerintah, Siapa Mereka?

BBC Indonesia - detikNews
Kamis, 08 Des 2022 14:58 WIB
Berlin -

Sebanyak 25 orang ditangkap aparat Jerman dalam penggerebekan di berbagai wilayah di negara tersebut karena dicurigai berencana melakukan kudeta terhadap pemerintah.

Kelompok yang anggotanya terdiri dari orang-orang sayap kanan hingga mantan tokoh militer ini disebut telah mempersiapkan "Hari X" untuk menyerbu gedung parlemen Reischstag di Berlin dan merebut kekuasaan.

Seorang pria bernama Heinrich XIII, yang berasal dari keluarga bangsawan Jerman, diduga sebagai tokoh utama dari rencana itu.

Menurut jaksa federal, Heinrich XIII adalah salah satu dari dua tersangka pemimpin di antara orang-orang yang ditangkap di 11 negara bagian Jerman.

Para komplotan itu di antaranya termasuk anggota gerakan ekstremis Reichsbrger (warga negara Reich), yang telah lama menjadi perhatian polisi Jerman atas serangan dengan kekerasan serta teori konspirasi rasis dan antisemit.

Mereka juga menolak mengakui negara Jerman modern.

Baca juga:

Tersangka lainnya merupakan bagian dari gerakan QAnon yang percaya bahwa negara mereka dikuasai oleh kekuatan rahasia yang mengendalikan sistem politik.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, meyakinkan masyarakat bahwa pihak berwenang akan merespons kasus ini dengan kekuatan hukum penuh "melawan musuh demokrasi".

Kudeta konspirasi era modern?

Kotak analisis oleh Marianna Spring, Reporter disinformasi dan media sosialBBC

Kelompok Reichsbrger bukanlah sesuatu yang baru, mereka sudah ada sebelum pandemi.

Namun rencana yang berani ini menunjukkan penebalan komitmen dan radikalisasi yang bisa beriringan dengan meningkatnya disinformasi pandemi di internet.

Rencana menculik menteri kesehatan Jerman, yang didalangi oleh sebuah geng terkait orang-orang ini pada April lalu, adalah indikasi awal bahwa mereka punya korelasi kuat dengan gerakan konspirasi Covid-19.

Grup percakapan di Telegram yang terkait dengan "warga negara Reich" menunjukkan minat pada teori konspirasi bahwa Covid-19 dan vaksin adalah bagian dari rencana jahat untuk mengendalikan populasi.

Ada pula disinformasi terkait perang di Ukraina, tentang QAnon, serta teori konspirasi AS terkait dengan kerusuhan di Capitol Hill pada 6 Januari.

Mereka mengunggah itu demi mendukung gerakan Sovereign Citizens, yang pada intinya percaya bahwa mereka kebal dari aturan pemerintah.

Kelompok ini pada akhirnya mengooptasi berbagai keyakinan konspirasi yang mendorong gagasan adanya kelompok jahat yang ingin mengendalikan kehidupan kita, sehingga mereka harus menggulingkannya.

Ini mungkin terdengar seperti plot yang cukup aneh bagi kebanyakan orang, tetapi ini menggambarkan sesuatu yang penting.

Kita telah mendapat sejumlah peringatan sebelumnya mengenai tindakan nyata yang berkaitan dengan disinformasi dan kebencian di ranah online sebelumnya, seperti kekerasan anti-vaksin dan kerusuhan Capitol di AS.

Tetapi ini juga pengingat bahwa, meski pandemi sudah mereda di beberapa bagian dunia, warisan konspirasinya tetap ada dan bisa mendorong kelompok serupa yang kurang dikenal untuk benar-benar beraksi di dunia nyata.

Sejauh ini, diperkirakan 50 laki-laki dan perempuan telah menjadi bagian dari kelompok tersebut. Mereka dicurigai berencana menggulingkan republik Jerman lalu menggantinya dengan Kerajaan Second Reich, yakni negara baru yang mengacu pada Jerman era 1871.

"Kami belum memiliki nama untuk kelompok ini," kata juru bicara kantor kejaksaan federal.

Sedangkan Mendagri Faeser mengatakan kelompok itu tampaknya terdiri dari "dewan" organisasi dan cabang militer.

Baca juga:

Penggerebekan pada Rabu digambarkan sebagai salah satu operasi anti-ekstremisme terbesar dalam sejarah Jerman modern.

Sebanyak 3.000 aparat ikut serta dalam 150 operasi di 11 dari total 16 negara bagian di Jerman. Sebanyak dua orang turut ditangkap di Austria dan Italia.

Hampir setengah dari penangkapan itu terjadi di Negara Bagian Baden-Wrttemberg dan Bavaria.

Selain itu, lebih dari satu di antara lima Reichsbrger diperkirakan berbasis di Baden-Wrttemberg saja.

Menteri Kehakiman Marco Buschmann mencuit bahwa "serangan bersenjata terhadap lembaga-lembaga konstitusional telah direncanakan".

Sedangkan Mendagri Faeser mengatakan bahwa penyelidikan akan menyentuh "ancaman teroris dari Reichsbrger".

Siapa Reichsbrger?

  • Mereka yang menyebut diri sebagai Warga Negara Reich menolak demokrasi modern di Jerman dan menolak membayar pajak.
  • Setelah sempat dianggap tidak berbahaya, mereka sangat aktif dan menyimpan bahaya tingkat tinggi, menurut kepala badan intelijen Jerman, Thomas Haldenwang.
  • Jumlah anggotanya berkisar 21.000 orang pada tahun lalu, namun telah meningkat signifikan.
  • 10% di antaranya dianggap brutal. Antisemitisme serta teori-teori konspirasi pun tersebar luas.

Ancaman kudeta oleh gerakan radikal Jerman, Reichsbrger

Polisi menggerebek anggota Reichsbrger di 11 negara bagian di Jerman. (Reuters)

Kejaksaan federal mengatakan kelompok itu telah merencanakan kudeta dengan kekerasan sejak November 2021, dan anggota dari "Rat" (dewan) pusat mereka sejak saat itu telah mengadakan pertemuan rutin.

Mereka telah menetapkan rencana untuk memerintah Jerman berikut departemen-departemen pemerintahannya, meliputi kesehatan, kehakiman dan luar negeri, kata jaksa penuntut.

Para anggotanya memahami bahwa mereka hanya dapat mewujudkan tujuan mereka itu dengan "cara militer dan kekerasan terhadap perwakilan negara", termasuk melakukan pembunuhan.

Penyidik diperkirakan mengetahui kelompok itu ketika mereka mengungkap kasus penculikan pada April lalu, yang melibatkan sebuah geng yang menamai dirinya sebagai United Patriots.

Mereka juga merupakan bagian dari Reichsbrger dan diduga berencana menculik Menteri Kesehatan Karl Lauterbach, sekaligus menciptakan "situasi perang saudara" untuk mengakhiri demokrasi Jerman.

Seorang mantan anggota sayap kanan AfD dari majelis rendah parlemen, Bundestag, diduga menjadi bagian dari komplotan itu. Dia bahkan diduga didapuk sebagai menteri kehakiman kelompok tersebut.

Birgit Malsack-Winkemann, salah satu dari 25 orang yang ditangkap, kembali ke jabatannya sebagai hakim pada tahun lalu dan pengadilan menolak upaya untuk mengeluarkannya.

Seorang pengacara terkemuka ditunjuk untuk menangani urusan luar negeri kelompok itu. Sedangkan Heinrich XIII yang berusia 71 tahun menjadi pemimpin.

Jaksa Penuntut Umum, Peter Frank, mengatakan Heinrich termasuk tersangka yang diminta ditahan oleh penyidik.

Heinrich XIII menyebut dirinya sebagai seorang pangeran dan berasal dari keluarga bangsawan yang dikenal sebagai House of Reuss, yang memerintah sebagian Negara Bagian Thuringia hingga 1918.

Keturunan dari keluarga bangsawan itu masih memiliki beberapa kastil dan Heinrich sendiri disebut memiliki pondok berburu di Bad Lobenstein di Thuringia.

Anggota keluarga lainnya telah menjauhkan diri darinya. Salah seorang juru bicara mengatakan kepada penyiar lokal, MDR, bahwa Heinrich adalah pria yang "terkadang bingung" dan terpuruk karena "kesalahpahaman yang dipicu oleh teori konspirasi".

Selain pemerintah bayangan, komplotan tersebut diduga berencana membentuk sayap militer yang dijalankan oleh pemimpin nomor dua mereka, yakni Rdiger von P.

Sayap militer itu terdiri dari mantan maupun anggota aktif militer, menurut para pejabat, termasuk mantan tentara elit dari unit khusus.

Kekuatan militer ini bertujuan menghilangkan lembaga-lembaga demokrasi di tingkat lokal, kata jaksa penuntut.

Rdiger von P diduga mencoba merekrut polisi-polisi di wilayah utara Jerman dan juga menargetkan bara-barak tentara.

Markas-markas di negara bagian Hesse, Baden-Wrttemberg dan Bavaria telah mereka inspeksi untuk kemungkinan dimanfaatkan setelah pemerintah digulingkan, kata para pejabat.

Salah satu dari mereka yang diselidiki adalah anggota Pasukan Komando Khusus. Polisi menggeledah rumah dan kamarnya di pangkalan militer Graf-Zeppelin di Calw, tepatnya di barat daya Stuttgart.

Tersangka lainnya telah diidentifikasi sebagai Vitalia B, seorang perempuan Rusia yang diminta mendekati Moskow atas nama Heinrich.

Kedutaan Besar Rusia di Berlin menyatakan bahwa pihaknya tidak "menjaga kontak dengan perwakilan kelompok teroris dan entitas ilegal lainnya".

Beberapa aksi kekerasan telah dikaitkan dengan sayap kanan Jerman selama beberapa tahun terakhir.

Pada 2020, seorang pria berusia 43 tahun menembak mati sembilan orang asing di Hanau, dan seorang anggota Reichsbrger dipenjara karena membunuh seorang polisi pada 2016.

Gerakan Reichsbrger diperkirakan memiliki sebanyak 21.000 pengikut, di mana sekitar 5% di antaranya dianggap sebagai ekstrem kanan.

(nvc/nvc)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT