Di Balik 'Klub Rahasia' Sepak Bola Iran yang Membangkang dari Pemerintah

ADVERTISEMENT

Di Balik 'Klub Rahasia' Sepak Bola Iran yang Membangkang dari Pemerintah

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Nov 2022 16:33 WIB
Fans sepak bola Iran menggunakan Piala Dunia untuk melanjutkan protes anti-pemerintah mereka di panggung global. (Getty Images)
Jakarta -

Banyak pendukung sepak bola Iran memboikot Piala Dunia karena kecewa dengan timnas mereka sendiri.

Mereka merasakan timnas tidak cukup mendukung gerakan protes dan kritik terhadap rezim yang telah membunuh ratusan orang di Iran.

Tapi sebuah grup pendukung sepak bola yang berada di luar Iran, memutuskan pergi ke Doha dan menjaga semangat protes dari dalam stadion.

"Saya senang saya di sini, dan saya melakukan ini karena saya bisa melihat ketakutan di mata mereka," kata Tara, perempuan muda Iran sekaligus pemuja sepak bola.

Dia berkata pada saya bahwa stadion Piala Dunia dipadati oleh pendukung pemerintah saat timnas Iran berlaga.

Tara bukanlah nama sebenarnya. Setiap orang yang saya ajak bicara dari 'klub rahasia' ini baru bersedia diwawancara ketika identitas mereka disamarkan.

Iran's football team poses for a photo ahead of their first World Cup match against EnglandGetty ImagesTimnas Iran dulunya menyatukan penggemar dari berbagai aliran politik, tapi sekarang menjadi sumber perpecahan.

Amir pergi ke Doha dengan pasangannya Rana.

"Saya pikir ini lah yang diinginkan pemerintah, agar kami tidak datang ke sini. Dengan demikian, mereka bisa menempatkan orang-orangnya sendiri [di dalam stadion]," katanya.

"Ini semestinya menjadi bulan madu kami," kata Rana.

Tapi menghadiri laga-laga Piala Dunia di Doha telah menimbulkan emosi yang bertentangan pada dirinya.

"Saya benar-benar merasa seperti sedang berduka. Kakak dan adik saya meninggal. Meskipun saya senang berada di sini, dan saya menikmati pertandingannya, tapi saya tidak bahagia," katanya.

'Mereka membuat timnas berbalik arah melawan kami'

Iran telah diguncang protes anti-pemerintah sejak September setelah perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, tewas saat berada dalam penahanan polisi.

Orang-orang bingung apakah posisi timnas Iran bersama dengan pengunjuk rasa atau pemerintah.

Timnas Iran - dijuluki Tim Melli - bertemu dengan Presiden Ebrahim Raisi sesaat sebelum berangkat ke Doha.

Foto pertemuan itu menyebar di platform media sosial, memicu kritik dari kelompok oposisi dari Republik Islam terhadap timnas Iran, dan mereka menyerukan boikot.

"Tim Melli untuk rakyat. Rakyat yang tidak punya suara," kata Tara. "Tim Melli merupakan satu-satunya yang bisa menyatukan kami... dan mereka [pemerintah] telah mengubah Tim Melli bertentangan dengan kami."

Setiap orang gelisah di awal pertandingan pertama.

"Saya ingin Iran menang, tapi saya juga merasa itu tidak benar," kata Rana.

Tapi ia melihat orang menggunakan kaos dan cat kuku bertuliskan 'perempuan, hidup, kemerdekaan' dalam bahasa Persia dan Inggris untuk memberikan semangat kepada para pengunjuk rasa.

"Ini bisa dibilang seperti klub rahasia, tapi juga bukan," kata Rana. "Kami saling menyemangati."

The nails of Iranian female football fans have the protest slogan 'women, life, freedom' written on themBBCSuporter sepak bola perempuan Iran menggunakan seni melukis kuku mereka betuliskan perempuan, hidup, kemerdekaan dalam bahasa Persia untuk menyemangati protes yang berlangsung.

Timnas Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan pada awal pertandingan.

Tapi pendukung sepak bola anti-pemerintah membuat suara mereka terdengar.

Mereka meneriakkan "Ali Karimi" pada menit ke kedelapan dan ke-88 pada pertandingan, merujuk pada mantan pesepakbola yang menjadi salah satu pengkritik pemerintah Iran.

"Ada orang-orang yang mencemooh lagu kebangsaan," kata Rana. "Ada orang-orang yang tidak bertepuk tangan ketika nama-nama pemain dipanggil."

Pertandingan kedua yang menegangkan

Tapi suasananya sangat berbeda pada pertandingan kedua timnas Iran.

Ketiganya berhasil menyelinap dengan sejumlah material unjuk rasa meskipun pemeriksaan keamanan ketat.

"Itu sangat menakutkan," kata Tara. "Anda terasa berada di bawah ancaman."

Rana, Tara dan Amir mengatakan bahwa lebih banyak pendukung pemerintah dalam pertandingan ini.

"Begitu kami mulai meneriakkan slogan-slogan protes, pendukung dari baris di sebelah akan mulai mengatakan 'orang Iran terhormat, orang Iran bangga'," kata Tara. "Itu adalah salah satu nyanyian yang mereka gunakan untuk membungkam kami."

Mereka mengatakan pada saya, mereka melihat orang-orang di dalam stadion memberi isyarat kepada petugas keamanan, dan meminta mereka mencopot material unjuk rasa dari sejumlah pendukung.

"Mereka takut kepada orang mengambil sikap untuk 'perempuan, hidup, kemerdekaan'... karena begitu mereka mendengar slogan itu, mereka mulai tegang," kata Tara.

Saya bertanya bagaimana perasaan mereka ketika timnas Iran mencetak gol pertama saat melawan timnas Wales.

"Kami tidak banyak bersorak. Saya bersama tiga teman saling berpelukan, kemudian kami menangis," kata Tara.

'Tidak aman'

Qatar memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Iran selama bertahun-tahun.

Pada 2017, Iran menjadi salah satu dari sedikit negara kawasan yang mendukung Qatar saat Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memimpin blokade terhadap negara Teluk tersebut.

Pendukung sepak bola dari Iran yang beroposisi dengan pemerintah mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak merasa aman dalam mengungkapkan suara mereka di sini, justru karena hubungan dekat kedua negara.

"Saya tidak merasa aman di sini," kata Tara. "Terasa seperti Anda berada di cabang Republik Islam [Iran] berada di sini yang mengganggu."

Iranian fans hold up a banner reading 'woman, life, freedom' during the FIFA World Cup Qatar 2022 Group B match between England and Iran at Khalifa International Stadium on 21 November 2022 in Doha, QatarGetty ImagesSpanduk protes dengan warna bendera Iran bertuliskan 'woman, life, freedom' dikibarkan pada pertandingan pertama.

Meskipun berisiko, Tara, Rana dan Amir akan tetap hadir pada pertandingan ketiga timnas Iran. Bagi mereka, berada di sini adalah kewajiban.

"Saya mendengar bahwa sejumlah wartawan ditolak visanya untuk datang ke sini, sehingga membuat kami sebagai individu lebih penting berada di sini," kata Rana.

"Kami sekarang adalah jurnalis," kata Tara.

(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT