Demo Langka di China, Polisi Disebar-Foto-foto Dihapus

ADVERTISEMENT

Demo Langka di China, Polisi Disebar-Foto-foto Dihapus

BBC Indonesia - detikNews
Selasa, 29 Nov 2022 10:08 WIB
Jakarta -

Unjuk rasa menentang kebijakan pembatasan Covid-19 di China yang meletus sejak pekan kemarin, nampaknya mulai mereda karena petugas polisi banyak disebar di kota-kota China.

Palang pembatas besar telah dipasang di sepanjang jalan utama lokasi unjuk rasa di Shanghai, dan polisi melakukan sejumlah penangkapan terhadap warga.

Polisi menghentikan orang-orang untuk mengambil foto unjuk rasa, dan menghapus rekaman tersebut dari ponsel mereka.

Police officers block Wulumuqi street, named for Urumqi in Mandarin, in Shanghai on November 27, 2022, in the area where protests against China's zero-Covid policy took place the night before following a deadly fire in Urumqi, the capital of the Xinjiang region.

Petugas kepolisian memblokir jalan Wulumuqi di Shanghai pada Minggu kemarin untuk menghentikan aksi unjuk rasa menentang kebijakan nol-Covid. (Getty Images)

Protes yang sempat meluas di kota-kota China diawali dari insiden kebakaran sebuah bangunan di Urumqi, China bagian barat yang menewaskan 10 orang pada Kamis kemarin.

Diyakini secara luas, bahwa warga di gedung tersebut tak bisa melarikan diri dari kobaran api karena adanya kebijakan Covid. Tapi pihak berwenang setempat membantahnya.

Selai itu, jurnalis BBC juga ditangkap saat meliput unjuk rasa di Shanhai pada hari Minggu.

Ed Lawrence dipukul dan ditendang oleh aparat kepolisian selama proses penangkapannya. Ed sempat ditahan beberapa jam sebelum akhirnya dibebaskan.

Ed Lawrence wearing a mask in front of his camera on a tripod next to a river

Jurnalis BBC Ed Lawrence di China. (BBC)

Menteri Luar Negeri Inggris, James Cleverly - melalui akun twitternya - mengatakan penangkapan tersebut "sangat mengganggu"

China menjadi satu-satunya negara dengan ekonomi besar yang menerapkan kebijakan nol-Covid yang ketat.

Otoritas lokal bahkan menekan kasus kecil dengan tes massal, karantina serta lockdown cepat.

Banyak rekaman dan foto beredar tentang unjuk rasa yang meletus dari Shanghai dan ibu kota Beijing, serta daerah perkotaan besar lainnya seperti Chendu dan Wuhan.

Pemerintah China mengambil langkah penyensoran terhadap platform media sosial sejak unjuk rasa akhir pekan lalu, untuk menghentikan warga lainnya melihat dan mendiskusikannya.

Puluhan juta unggahan telah disaring dari mesin pencarian, sementara media membungkam liputan tentang Covid, dan lebih memberitakan sesuatu yang optimistis mengenai Piala Dunia dan pencapaian kiprah China soal luar angkasa.

Sementara itu, puluhan pengunjuk rasa berkumpul di pusat Hong Kong pada Senin kemarin, dan di kampus- Universitas China Hong Kong, untuk menunjukkan solidaritas terhadap demonstran di seluruh China.

Beijing

Pengunjuk rasa di Kota Beijing melambaikan kertas putih sebagai tanda protes. (EPA)

Sebelumnya, aksi protes terhadap kebijakan pembatasan Covid-19 di China semakin menyebar ke kota-kota besar. Selain di Shanghai dan Beijing, demonstrasi juga terlihat di Nanjing, Chengdu, Wuhan, dan tempat lainnya.

Di sebuah jalan utama di Kota Shanghai, polisi menahan siapa saja yang lewat dan mengambil foto.

Mereka memaksa orang untuk menghapus foto mereka atau menghadapi penangkapan. Setidaknya dua orang telah ditahan sejauh ini.

Barikade biru juga telah dipasang di sepanjang Jalan Tengah Wulumuqi, bahasa Mandarin yang merujuk pada Urumqi.

Sebelumnya, pada Minggu (27/11), video yang diunggah di media sosial oleh sejumlah jurnalis asing menunjukkan ribuan orang turun ke jalan di Kota Shanghai untuk mengenang para korban kebakaran di Urumqi sekaligus memprotes pembatasan Covid.

Dalam tayangan video itu, ratusan orang terdengar menuntut Presiden Xi Jinping mengundurkan diri.

Banyak orang menyalahkan penguncian sebuah blok apartemen di Kota Urumqi saat kebakaran berlangsung Kebakaran itu telah menewaskan 10 orang.

Wulumuqi Shanghai November 28, 2022

Barikade biru dipasang di Jalan Wulumuqi, bahasa Mandarin yang merujuk pada Urumqi, di Kota Shanghai, pada 28 November 2022. (Getty Images)

Pihak berwenang membantah bahwa pembatasan Covid menyebabkan kematian, namun pejabat di Urumqi dalam perkembangan yang tidak biasa menyampaikan permintaan maaf dan berjanji "memulihkan ketertiban umum" dengan secara perlahan mencabut pembatasan.

Baca juga:

Protes di ShanghaiGetty ImagesPolisi terlihat berkonfrontasi dengan para pemrotes di Shanghai, hari Minggu (27/11/2022).

Revolusi Kertas Putih

Pada sebuah acara di Shanghai, beberapa orang terlihat menyalakan lilin dan menaburkan bunga untuk para korban.

Adapun lainnya terdengar meneriakkan slogan-slogan seperti "Xi Jinping, mundur" dan "Partai Komunis, mundur". Beberapa juga memegang lembaran putih kosong.

Lembaran kertas kosong telah menjadi barang ikonik selama protes, yang sekarang banyak disebut sebagai "revolusi kertas putih", "revolusi lembaran kosong" atau "revolusi A4".

Selama berbagai demonstrasi di China, pengunjuk rasa terlihat memegang selembar kertas kosong. Ada yang bilang itu cara untuk menghindari penyensoran.

Dalam sebuah video viral yang direkam pada Sabtu (26/11), seorang perempuan di Universitas Komunikasi Nanjing memegang selembar kertas kosong sebelum seorang pria tak dikenal mengambilnya.

Dalam video lain malam itu, puluhan mahasiswa terlihat di kampus memegang kertas putih, berdiri dalam diam. Aksi serupa terjadi di kota-kota besar lainnya selama akhir pekan.

"Tidak ada apa-apa di atas kertas, tapi kami tahu apa yang ada di sana," kata seorang wanita yang berpartisipasi dalam protes di Shanghai pada Sabtu malam kepada BBC.

Shanghai

Polisi di Shanghai berjaga-jaga setelah aksi demonstrasi. (BBC)

Aksi unjuk rasa menuntut Xi Jinping mundur merupakan pemandangan yang tidak biasa di China, mengingat setiap kritik langsung terhadap pemerintah dan presiden dapat mengakibatkan hukuman yang berat.

Beberapa pengunjuk rasa juga meneriakkan makian kepada polisi, yang berbaris di jalan tempat orang berkumpul.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa salah satu temannya telah dipukuli oleh polisi di tempat kejadian, sementara dua lainnya disemprot merica.

Video lainnya yang merekam aksi protes tersebut menunjukkan polisi berdiri menonton ketika aksi unjuk rasa berlangsung.

Polisi di Urumqi

Tampak pengamanan yang ketat di jalan-jalan di Urumqi. (Getty Images)

Meskipun situasi di daerah tersebut telah tenang pada Minggu (27/11) pagi, BBC melihat peningkatan jumlah polisi di daerah protes. Puluhan polisi, penjaga keamanan swasta, dan petugas polisi berpakaian preman tampak berjaga-jaga di jalan.

Sementara itu, di beberapa universitas China, foto-foto dan video mahasiswa yang melakukan protes pada Sabtu (26/11) malam muncul secara online. Aksi terbesar tampaknya terjadi di Universitas Komunikasi Nanjing.

Tayangan video protes sulit untuk diverifikasi secara independen, tetapi banyak di antaranya menunjukkan kritik yang sangat eksplisit dan blak-blakan terhadap pemerintah China dan pemimpinnya.

Memprotes kebijakan Presiden Xi

Tessa Wong, Reporter Digital Asia

Kebakaran Urumqi adalah mimpi buruk bagi banyak orang China yang ditempatkan dalam pembatasan dalam beberapa bulan terakhir - terkunci di apartemen tanpa ada cara untuk melarikan diri, menurut beberapa laporan. Pihak berwenang telah membantah hal ini, tetapi hal itu tidak menghentikan kemarahan dan kecemasan publik.

Kejadian tersebut telah menjadi titik kritis terbaru dalam kefrustrasian yang kian memuncak. Jutaan orang lelah dengan pembatasan pergerakan selama tiga tahun dan tes Covid setiap hari.

Kemarahan telah menyebar ke seluruh penjuru China, dari kota-kota besar hingga daerah-daerah yang jauh seperti Xinjiang dan Tibet. Setiap bagian masyarakat lantas bergerak memprotes, termasuk mahasiswa muda, pekerja pabrik, dan warga awam.

Ketika kemarahan ini tumbuh, aksi protes terhadap kebijakan pembatasan penularan Covid menjadi pemandangan yang semakin umum. Kendati demikian, demonstrasi akhir pekan ini tidak biasa, baik dalam jumlah pengunjuk rasa maupun keterusterangan mereka terhadap pemerintah dan Presiden Xi Jinping.

Turun ke jalan secara massal sembari menyerukan Presiden Xi untuk mundur dianggap tidak terpikirkan belum lama ini. Tapi setelah aksi protes dramatis di jembatan Beijing baru-baru ini yang mengejutkan banyak orang, batasan baru tampaknya telah ditetapkan dalam hal menyuarakan perbedaan pendapat yang lebih terbuka dan lebih tajam.

Ada sejumlah demonstran yang memilih untuk mengibarkan bendera Tiongkok dan menyanyikan lagu kebangsaan - liriknya mendukung cita-cita revolusioner dan mendesak orang-orang untuk "bangkit, bangkit".

Ini menunjukkan patriotisme yang juga dapat dibaca sebagai ekspresi solidaritas yang tajam dengan sesama warga China yang menderita di bawah kebijakan nol-Covid ala Xi Jinping - dan seruan untuk bertindak.

urumqi

Khalayak meletakkan karangan bunga di Jalan Urumqi - namun polisi memungutinya. (BBC)

Protes tersebut adalah aksi terbaru dari serangkaian demonstrasi massa menentang langkah-langkah nol-Covid China yang juga semakin berani mengkritik pemerintah dan Presiden Xi.

Di antara negara-negara ekonomi utama dunia, China adalah yang masih menerapkan strategi nol-Covid. Sebagian alasannya karena tingkat vaksinasi China yang relatif rendah dan upaya untuk melindungi orang lanjut usia.

Lockdown secara mendadak telah menyebabkan kemarahan di seluruh negeri - dan pembatasan Covid secara lebih luas telah memicu protes kekerasan baru-baru ini dari Zhengzhou hingga Guangzhou.

Terlepas dari langkah-langkah ketat, jumlah kasus China minggu ini mencapai rekor sepanjang masa sejak pandemi dimulai.

Simak video 'Pedemo di China Bawa Kertas Putih Kosong Sebagai Simbol Pembungkaman':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT